Kamis, 01 Maret 2018

Ekpedisi Wonosobo Part Two



Mini SM3T
Ekpedisi Wonosobo Part Two
Ekspedisi Desa Plunjaran, Wadaslintang, Wonosobo
(21 & 22 Februari  2018)

 Sumber: Dokumen Pribadi

Wadaslintang? Pernah tau, tau aja nggak pernah berkunjung ke Wadaslintangnya. Menuju Desa Plunjaran seperti menuju goa harta karun, amatlah rumit dan berbatu terjal. Kawanku bilang ini namanya jalan berjerawat. Namun jangan bersedih memang ada harta karun berupa pelajaran hidup bagi gadis kemarin sore seperti saya. Dari rasa prihatin muncul tekad dari kukuhnya hati, seseorang mahasiswa belajar mencium keringat rakyat. Dari kecutnya keringat rakyat aku belajar bersyukur, dari pemuda lentera aku menyulutkan sumbuku padanya.
Setelah perjalanan kurang lebih 1,5 jam sambil bertanya kanan kiri, ditengah perjalanan kita betemu sepupu Saun. Gadis mungil di belakang motorku ini namanya Saun. Kami sampai di rumah pak lurah bertiga dan menanti kurang lebih 5 jam sampai pak lurah tiba di rumah. Saat tahu akan ada survei pak lurah bahkan kaget.
 “ Jangan mbak, kalau disurvei-survei seperti itu nanti warga datang ke saya tanya sumbangannya mana, lha yo malah saya yang pusing wong nggak ada sumbangan apa-apa” kata pak lurah.
Ya namanya tamu kita “nggih-nggih” sajalah namun ekspedisi tetap berjalan. Ekspedisi pertama dilakukan pada RT yang paling berdekatan yaitu RT 09 dan 20. Bagaimana bisa? Ya awalnya saya juga bingung tapi ternyata karena jumlah warga RT 09 terlalu banyak akhirnya RT 09 dipecah menjadi dua yaitu RT 09 dan RT 20. Desa Plunjaran memang sangat luas. Jarak antar dusun hingga kiloan meter dan bahkan ada yang terpisah sungai. Dimana kita harus menyeberang dengan perahu dayung atau gethek selama 15-45 menit.
Di RT 09 kita bertemu pak RT yang hafal nama warganya yang jumlahnya bahkan ada 38 Kepala Keluarga. Luar biasa ini baru pemimpin sungguhan. Lalu, apa jadi pemimpin hanya butuh hafal nama anggotanya saja ? tentu tidak. Nyatanya Pak Jokowi tidak tahu siapa saya tapi menurut saya kepemimpinan beliau cukup baik.
Responden pertama Desa Plunjaran adalah mbak Ririn seorang wanita lulusan S1 dari daerah terpencil ini. Beliau adalah gadis kota yang terpincut laki-laki dari Plunjaran yaitu putra mantan carik desa. Wawancara dengan mbak-nya cukup ringan karena beliau paham dengan pertanyaannya dan jawabannya pun cepat sekali. Memang latar belakang pendidikan sangat berpengaruh terhadap pola pikir dan daya tangkap seseorang.
Selanjutnya kita ke RT 20 ada pak RT yang sangat sederhana rumahnya dari kayu dan berlantaikan tanah, kamar mandinya pun tanpa atap seperti kamar mandi di desa saya tempo dulu. Namun rumah Bapak RT bukan satu-satunya yang kondisinya seperti itu. Sekelilingnya banyak yang rumahnya seperti itu. Saat teman saya meminta air putih karena persediaan kami habis saya kaget kok airnya dingin padahal di wadaslintang sama sekali tidak dingin mungkin karena dekat pantai selatan jadi panas. Ternyata dibalik rumah sederhana sekali seperti ini ada kulkasnya, ini diluar dugaan. Saya menanyakan lokasi mushola dekat sini, pak RT lalu menunjukkan mushola didepan rumahnya
“namun entah masih bisa dipakai atau nggak mbak karena yang jadi imam sudah meninggal dan tidak ada yang mengurus musholanya”
Ya inilah kenapa meninggalnya ulama sangat menyedihkan karena meninggalnya ulama berarti hilangnya orang berilmu, sudah sepatutnya kita nguri-nguri ilmunya ulama agar terus ada regenerasi dalam menjalankan agama Allah. Saya pun berwudhu di tempat pak RT dan sholat di mushola yang sudah sangat kotor dan berantakan, beruntung ada sebuah sajadah tersampir di pembatas laki-laki dan perempuan yang bisa saya gunakan. Saat saya sholat teman saya, pak RT dan putranya ikut menunggu. Putra Pak RT masih kecil, baru sekitar tiga atau empat tahun.
“Itu mbak-nya lagi sholat, besok kamu kalo udah gede rajin-rajin ya jaga solat”
semakin tersungkur aku dalam solatku mendengar nasihat bapak kepada putranya membuatku d’javu  akan nasihat ayahku saat aku kecil. Sebuah nasehat manis itu. Terima kasih ayah.
Selanjutnya saya bertugas wawancara di rumah ibu Senen, saya yakin ibu ini tidak lahir dihari ahad, insyaallah lahir hari senin. Hahhahhahhah. Ibu senin pun  merawat cucu seperti kasus ibu napingah di Desa Larangan, namun kondisi ibu senin lebih baik karena ekonominya lebih mapan. Disini masih banyak penduduk yang tidak bisa bahasa Indonesia. Saat wawancara saya lebih banyak menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa lokal.
Disini lebih ngeri, angka putus sekolahnya lebih tinggi karena akses jalannya lebih sulit dan kesadaran pentingnya pendidikan rendah yang penting kan bisa cari makan ( seperti yang saya bilang cuma memenuhi tulang dan serat yang akan sirna sedangkan pikiran yang utama dan abadi malah terkalahkan oleh keterbatasan). Pertanyaannya sampai kapan pola pikir ini tetap ada? Dan siapa yang akan merubahnya? Pemuda.
Setelah selesai dengan ibu Senen saya menyusul saun yang sedang mewawancarai bapak yang kerja rantau dan kebetulan pulang. Gaji bapak ini di rantau mencapai 6-7 juta angka yang besar untuk dibawa kekampung. Bapak ini pulang kampung untuk rehat dulu sebelum harus kembali ke rantau. Memang mengandalkan ladang dan pertanian tidak ada hasilnya. Bapak ini sangat baik kepada kami wawancara kami lakukan saat mati lampu dan serba gelap. Anehnya aku tidak merasa takut terhadap penduduk setempat, aku tidak melihat aura kucing garong seperti aura pria kota, yang ada hanya aura kehangatan dan perlindungan seorang bapak.
Selanjutnya adalah bapak Mohdiyono seorang yang berpengalaman dibidang masakan China namun beliau tidak bisa mengimplementasikan pengalamannya didesa karena orang desa maunya makanan enak, banyak, dan murah. Itulah yang tidak bisa dipenuhi pak Mohdiyono. Bapak Mohdiyono memilih menjadi nelayan ikan di Wadaslintang dengan penghasilan yang tidak menentu. Saat Saun melakukan wawancara terhadap bapak mohdiyono saya ijin salat Isya’ karena adzan berkumandang dan saya tepat di rumah sebelah masjid. Saat masuk masjid seorang ibu sepuh menyambut saya sangat hangat dan penuh kasih.
Dari balik tirai seorang bapak yang saya dengarkan bacaan Qurannya saat saya dan Saun menuju rumah pak Mohdiyono karena kami rindu istirahat. Bapak itu bertanya saya dari mana? Acara apa dan seterusnya. Parahnya saat bapak bertanya dan berjalan ke arah jamaah putri yang hanya ada saya dan ibu tadi, munculah 2 orang remaja tanggung seusiaku yang hendak salat isya’. Lalu beliau beliau itu jadi tahu darimana aku, ada perlu apa aku. Terdengar suara,
Cah fakultas ekonomi kae, koe kenal ora? unnes kok”. Mungkin salah satu dari mereka ada yang unnes juga.
Hari sudah gelap dan kami pun menuju penginapan kami di rumah warga dan membayar hanya dengan oleh-oleh kecil salam persaudaraan. Terpikir olehku inilah usaha dalam hidup semua harus diusahakan. Tidak ada sesuatu yang terlalu mudah. Semua akan baik-baik saja selama turutkanlah Tuhan di setiap langkah. Langkahmu adalah langkah Tuhan.
Desa ini memang terpencil, tapi aku merasa nyaman disini dalam keterbatasannya dan dalam keadaan yang serba seadanya. Ada candu yang mendekapku dalam kehangatan pedesaan. Malam ini, gelap menuju terangnya hari kedua. Menuju hari yang di rahmati yang Diatas agar aku mendapat pencerahan pikiran dan juga hati dijalan mencari rejeki. Aku merenungi jalan yang kulalui yang amat terjal namun kaya akan makna dalam ekspedisi ke-dua Wonosobo hari ini. Lillah ku lalui untuk nama cinta pada Ibunda. Melihat waduk yang terhampar dihadapanku, aku bertanya kuasa macam apa ini. Masyaallah.
Hari ke-dua diawali dengan meminta data dari Bu RT 07 dan memulai mencari responden, responden pertama adalah bapak  Dartoyo. Berhubung bapak Dartoyo sedang kerja di Riau padahal usianya sudah 60 tahun. Ada sebuah kesakitan dihatiku, mengapa bisa seorang yang sudah lanjut usia merantau di luar Jawa untuk menghidupi keluarganya. Dalam hatiku hanya berdoa “Ya Rabb sehatkanlah ayahku, limpahkanlah pahala pada semua bapak di negeri ini dalam setiap langkahnya menghidupi putra-putrinya.
Selanjutnya menuju bapak responden pengganti yang tidak lain adalah tetangga Bapak dartoyo yang seorang tukang kayu. Sang istri terlihat sangat tidak suka dengan kami. Tapi sebagai gadis Jawa aku hanya
nggih nggih wae lha piye kudu rampung dino iki jew...hayo siapa yang tau artinya.
Pertanyaan dimulai dan ketika mendengar tentang keadaan ekonomi ibu bagaimana?, beliau langsung semringah dan gagal marah. Mendadak cerita dengan sangat akrab dan bercerita tentang keterpurukan ekonominya. Seolah kami ini datang dengan segepok uang yang siap membagikannya pada rakyat. Oh Tuhan  sebagai mahasiswa tugas kami adalah meningkatkan keberdayaan masyarakat agar mampu meningkatkan kondisi perekonomiannya secara mandiri bukan mendidik menjadi kaum yang mengandalkan belas kasihan. Latar belakang seperti apa yang menyebabkan rakyat Indonesia begitu pandai memelas.
Ada pelajaran lain dari keluarga ini adalah seorang mbak yang sudah menikah namun sang suami tidak masuk KK-nya bukan itu terjadi karena sesuatu. Teman perempuanku percayalah kamu indah jangan kau berikan keindahanmu pada laki-laki yang bukan pantas melihatnya apalagi sebelum waktunya, takut nanti begini akibatnya bikin malu keluarga. Seorang ibu tetap membela anaknya dan berkata karena sang suami kerja maka anaknya masih ikut KK bapaknya. Ya apapun alasannya yang penting hati-hati aja. Wanita yang keren itu “ Women with a Brain”.
Responden yang kedua adalah ibu yang berkerja sebagai buruh tandur. Sama dengan pekerjaan ibu saya dirumah saya tahu persis betapa sulitnya maka saya biarkan ibunya berlalu karena sudah ditunggu untuk ambil barisan mundur dalam menanam padi.
Lanjut ke Pak RT 04 yang sangat mengejutkan lokasi rumah pak RT ada di tengah ladang dan hanya satu-satunya rumah di tengah ladang  itu serta rumahnya sangat sederhana dan terbuat dari kayu. Bapak ini memiliki beberapa ekor sapi yang aroma kotorannya sangat menyengat. Pagi habis subuh bapak dan istri sudah menuju ladang dan merumput untuk makan sapinya. Saat kami temui kami harus menyusul bapaknya ke ladang. Saat saya meminta data bapaknya bertanya dengan sangat detail apa dan mengapa saya meminta data padahal diawal saya sudah menyampaikannya sebagai intro sesuai panduan dari lembaga. Saya suka cara yang detail ini, dan saya suka caranya memprotect data yang dimiliki, meski sederhana dan tampak bukan orang berpendidikan tinggi namun pembukuan dan administrasi RT-nya tergolong cukup baik. Disini ada dua responden, dari salah satu responden yang bernama ibu Sri Hartati beliau menyampaikan bahwa pemilihan Rt disini dengan cara kocok. Seperti mengocok arisan siapa yang    dapat atau keluar yang akan jadi RT periode ini. Selip apa selip sosok warga yang nyebelin dan suka usil malah di kong- kalikong oleh warga lain supaya dia yang jadi RT biar nggak bawel katanya.  Karena menjadi RT adalah beban bagi warga. Lagipula tidak ada penghasilan apapun dengan menjadi RT. Sepertinya perlu di lakukan perombakan cara pilih RT agar lebih sistematis dan memperoleh calon terbaik untuk mengemban amanah rakyat.
Satu lagi bapak berpendidikan S1 di desa ini yang melihat kehidupan setelah pernikahan sebagai anak tangga yang terus harus dinaiki sampai tinggi sama-sama dengan keluarga. Waw romantis ya.... jadi pingin... pingin pulang kerumah lihat bapak sama ibuku yang nggak kalah romantisnya. Akakakkak. Bapak yang satu ini adalah seorang anggota KPU pastilah beliau tahu banyak tentang calon yang mau dia pilih. Tapi sayangnya bapak ini tidak banyak membagikan kepada kami. Keluarga kecil bapak ini mengajarkan saya bagaimana caranya membina cinta dan mendewasa sama-sama. 

                                                          Sumber: Dokumen Pribadi
Ekspedisi dilanjutkan di daerah yang paling terpencil di Plunjaran dengan menyisir melingkari tebing yang miring dan jalan bebatuan. Sampailah kami pada jalan yang baik namun sangat miring. Kami mengitari kebun kebun diperbukitan dan sambil mengendarai motor saya menyapa “monggo bu  atau “ngeladang bu” dan “mari bu” lalu mereka saling sahut-sahutan menyapa seperti film-film kuno Jakarta saat Jakarta masih asri. Sampai pada acara gotong royong para pemuda yang membangun rumah ibadah, namun ternyata membangun rumah warga tapi dilaksanakan secara gotong royong. Ya beginilah kehidupan di desa, hangat bukan? Hidup tanpa uang di desa masih bisa dilakukan tapi sedihnya ketika hidup di desa dan menghidupi anak yang sedang menempuh pendidikan di kota. Uang yang diperoleh di desa tidak ada artinya dibawa ke kota, tak  berarti apa-apa. Sakit bukan?
Pertanyaan bagi saya mahasiswa ekonomi bagaimana mengatasi ini, disini dinegeriku sendiri? Mengapa pertiwi merintih diantara luapan kekayaannya.
            Ada dua responden di sini satu adalah warga pindahan dari Jakarta yang sang suami adalah orang Semarang, orang ini adalah orang kota yang tinggal didesa supaya anaknya punya jiwa sosial yang  baik dan juga kesehatan yang lebih baik.
            Yang paling berkesan adalah yang ini, yang saya simpan baik dimemori sebagai tugas mahasiswa negeri ini untuk ada dan bersama membangun ketahanan dan kemandirian ekonomi rakyat. Sebutlah namanya Bapak Kasmijo beliau seorang kaki dengan satu cucu yang dititipkan padanya yang sudah yatim karena kecelakaan, rupanya hidup sangat menguji bapak 64 tahun ini. Bapak ini juga sudah tuna rungu. 
 Sumber: Dokumen Pribadi

Sang istri terus memohon pertolongan kepada kami agar kami menyampaikan deritanya sebagai rakyat yang membutuhkan uluran tangan. Kali ini aku hanya diam ditatap sesorang pria muda yang sedang dengan rela membetulkan listrik dirumah sang Bapak Kasmijo. Kami saling tatap karena kami tahu ini PR pemuda bangsa lalu bagaimana caranya? Ya Allah perbanyaklah manusia lentera seperti kakak itu yang berhati tulus agar mampu menerangi negeri ini.

        Saat saya ijin pamit dan menanyakan lokasi mushola maka sang pemuda menawarkan mengantar katanya hanya 200 m dari rumah ibu itu.  Di Guningpati 200 m dapat saya tempuh dalam 5 menit jalan kaki disana sampai 20 menit karean jalannya yang tejal dan masjid-nya ada disekitar waduk. Masjidnya bagus namun tidak terawat hanya tertempel sertifikat dari KKN PPL yang sepertinya tidak banyak memiliki pengaruh besar untuk kemajuan desa ini.
Saya punya pesan untuk pemuda lentera “Jangan letih jadi lentera”


Sumber: Dokumen Pribadi
Darimu lentera kusulutkan sumbuku di kota sana agar aku membawa aspirasi dan perjuangan untuk pemerataan kesejahteraan rakyat negeri ini. Negeri yang konon gemah ripah loh jinawi.