Mini SM3T
Ekpedisi Wonosobo Part Two
Ekspedisi Desa Plunjaran,
Wadaslintang, Wonosobo
(21 & 22 Februari 2018)
Sumber: Dokumen Pribadi
Wadaslintang? Pernah
tau, tau aja nggak pernah berkunjung
ke Wadaslintangnya. Menuju Desa Plunjaran seperti menuju goa harta karun,
amatlah rumit dan berbatu terjal. Kawanku bilang ini namanya jalan berjerawat.
Namun jangan bersedih memang ada harta karun berupa pelajaran hidup bagi gadis
kemarin sore seperti saya. Dari rasa prihatin muncul tekad dari kukuhnya hati,
seseorang mahasiswa belajar mencium keringat rakyat. Dari kecutnya keringat
rakyat aku belajar bersyukur, dari pemuda lentera aku menyulutkan sumbuku
padanya.
Setelah perjalanan
kurang lebih 1,5 jam sambil bertanya kanan kiri, ditengah perjalanan kita
betemu sepupu Saun. Gadis mungil di
belakang motorku ini namanya Saun. Kami sampai di rumah pak lurah bertiga dan
menanti kurang lebih 5 jam sampai pak lurah tiba di rumah. Saat tahu akan ada
survei pak lurah bahkan kaget.
“ Jangan mbak, kalau disurvei-survei seperti
itu nanti warga datang ke saya tanya sumbangannya mana, lha yo malah saya yang pusing wong
nggak ada sumbangan apa-apa” kata pak lurah.
Ya
namanya
tamu kita “nggih-nggih” sajalah namun
ekspedisi tetap berjalan. Ekspedisi pertama dilakukan pada RT yang paling berdekatan
yaitu RT 09 dan 20. Bagaimana bisa? Ya awalnya
saya juga bingung tapi ternyata karena jumlah warga RT 09 terlalu banyak
akhirnya RT 09 dipecah menjadi dua yaitu RT 09 dan RT 20. Desa Plunjaran memang
sangat luas. Jarak antar dusun hingga kiloan meter dan bahkan ada yang terpisah
sungai. Dimana kita harus menyeberang dengan perahu dayung atau gethek selama 15-45 menit.
Di RT 09 kita bertemu
pak RT yang hafal nama warganya yang jumlahnya bahkan ada 38 Kepala Keluarga.
Luar biasa ini baru pemimpin sungguhan. Lalu,
apa jadi pemimpin hanya butuh hafal nama anggotanya saja ? tentu tidak.
Nyatanya Pak Jokowi tidak tahu siapa saya tapi menurut saya kepemimpinan beliau
cukup baik.
Responden pertama Desa
Plunjaran adalah mbak Ririn seorang wanita lulusan S1 dari daerah terpencil ini.
Beliau adalah gadis kota yang terpincut laki-laki dari Plunjaran yaitu putra
mantan carik desa. Wawancara dengan mbak-nya cukup ringan karena beliau
paham dengan pertanyaannya dan jawabannya pun cepat sekali. Memang latar
belakang pendidikan sangat berpengaruh terhadap pola pikir dan daya tangkap
seseorang.
Selanjutnya kita ke RT
20 ada pak RT yang sangat sederhana rumahnya dari kayu dan berlantaikan tanah, kamar
mandinya pun tanpa atap seperti kamar mandi di desa saya tempo dulu. Namun
rumah Bapak RT bukan satu-satunya yang kondisinya seperti itu. Sekelilingnya
banyak yang rumahnya seperti itu. Saat teman saya meminta air putih karena
persediaan kami habis saya kaget kok
airnya dingin padahal di wadaslintang sama sekali tidak dingin mungkin karena
dekat pantai selatan jadi panas. Ternyata dibalik rumah sederhana sekali
seperti ini ada kulkasnya, ini diluar dugaan. Saya menanyakan lokasi mushola
dekat sini, pak RT lalu menunjukkan mushola didepan rumahnya
“namun entah masih bisa
dipakai atau nggak mbak karena yang jadi imam sudah meninggal dan tidak ada
yang mengurus musholanya”
Ya inilah kenapa
meninggalnya ulama sangat menyedihkan karena meninggalnya ulama berarti
hilangnya orang berilmu, sudah sepatutnya kita nguri-nguri ilmunya ulama agar terus ada regenerasi dalam
menjalankan agama Allah. Saya pun berwudhu di tempat pak RT dan sholat di
mushola yang sudah sangat kotor dan berantakan, beruntung ada sebuah sajadah
tersampir di pembatas laki-laki dan perempuan yang bisa saya gunakan. Saat saya
sholat teman saya, pak RT dan putranya ikut menunggu. Putra Pak RT masih kecil,
baru sekitar tiga atau empat tahun.
“Itu mbak-nya lagi sholat, besok kamu kalo
udah gede rajin-rajin ya jaga solat”
semakin tersungkur aku dalam solatku
mendengar nasihat bapak kepada putranya membuatku d’javu akan nasihat ayahku
saat aku kecil. Sebuah nasehat manis itu. Terima kasih ayah.
Selanjutnya saya
bertugas wawancara di rumah ibu Senen,
saya yakin ibu ini tidak lahir dihari ahad,
insyaallah lahir hari senin. Hahhahhahhah.
Ibu senin pun merawat cucu seperti kasus
ibu napingah di Desa Larangan, namun kondisi ibu senin lebih baik karena
ekonominya lebih mapan. Disini masih banyak penduduk yang tidak bisa bahasa
Indonesia. Saat wawancara saya lebih banyak menggunakan bahasa Jawa sebagai
bahasa lokal.
Disini lebih ngeri,
angka putus sekolahnya lebih tinggi karena akses jalannya lebih sulit dan
kesadaran pentingnya pendidikan rendah yang penting kan bisa cari makan (
seperti yang saya bilang cuma memenuhi tulang dan serat yang akan sirna
sedangkan pikiran yang utama dan abadi malah terkalahkan oleh keterbatasan).
Pertanyaannya sampai kapan pola pikir ini tetap ada? Dan siapa yang akan
merubahnya? Pemuda.
Setelah selesai dengan
ibu Senen saya menyusul saun yang sedang mewawancarai bapak yang kerja rantau
dan kebetulan pulang. Gaji bapak ini di rantau mencapai 6-7 juta angka yang
besar untuk dibawa kekampung. Bapak ini pulang
kampung untuk rehat dulu sebelum
harus kembali ke rantau. Memang mengandalkan ladang dan pertanian tidak ada
hasilnya. Bapak ini sangat baik kepada kami wawancara kami lakukan saat mati
lampu dan serba gelap. Anehnya aku tidak merasa takut terhadap penduduk
setempat, aku tidak melihat aura kucing
garong seperti aura pria kota, yang ada hanya aura kehangatan dan
perlindungan seorang bapak.
Selanjutnya adalah
bapak Mohdiyono seorang yang berpengalaman
dibidang masakan China namun beliau tidak bisa mengimplementasikan
pengalamannya didesa karena orang desa maunya makanan enak, banyak, dan murah.
Itulah yang tidak bisa dipenuhi pak Mohdiyono. Bapak Mohdiyono memilih menjadi
nelayan ikan di Wadaslintang dengan penghasilan yang tidak menentu. Saat Saun
melakukan wawancara terhadap bapak mohdiyono saya ijin salat Isya’ karena adzan
berkumandang dan saya tepat di rumah sebelah masjid. Saat masuk masjid seorang
ibu sepuh menyambut saya sangat
hangat dan penuh kasih.
Dari balik tirai
seorang bapak yang saya dengarkan bacaan Qurannya saat saya dan Saun menuju
rumah pak Mohdiyono karena kami rindu istirahat. Bapak itu bertanya saya dari
mana? Acara apa dan seterusnya. Parahnya
saat bapak bertanya dan berjalan ke arah jamaah putri yang hanya ada saya dan
ibu tadi, munculah 2 orang remaja tanggung seusiaku yang hendak salat isya’.
Lalu beliau beliau itu jadi tahu darimana aku, ada perlu apa aku. Terdengar
suara,
“Cah fakultas ekonomi kae, koe kenal ora? unnes kok”. Mungkin salah
satu dari mereka ada yang unnes juga.
Hari sudah gelap dan
kami pun menuju penginapan kami di rumah warga dan membayar hanya dengan oleh-oleh
kecil salam persaudaraan. Terpikir olehku inilah usaha dalam hidup semua harus
diusahakan. Tidak ada sesuatu yang terlalu mudah. Semua akan baik-baik saja
selama turutkanlah Tuhan di setiap langkah. Langkahmu adalah langkah Tuhan.
Desa ini memang
terpencil, tapi aku merasa nyaman disini dalam keterbatasannya dan dalam
keadaan yang serba seadanya. Ada candu yang mendekapku dalam kehangatan
pedesaan. Malam ini, gelap menuju terangnya hari kedua. Menuju hari yang di
rahmati yang Diatas agar aku mendapat pencerahan pikiran dan juga hati dijalan
mencari rejeki. Aku merenungi jalan yang kulalui yang amat terjal namun kaya
akan makna dalam ekspedisi ke-dua Wonosobo hari ini. Lillah ku lalui untuk nama cinta pada Ibunda. Melihat waduk yang
terhampar dihadapanku, aku bertanya kuasa macam apa ini. Masyaallah.
Hari ke-dua diawali
dengan meminta data dari Bu RT 07 dan memulai mencari responden, responden
pertama adalah bapak Dartoyo. Berhubung
bapak Dartoyo sedang kerja di Riau padahal usianya sudah 60 tahun. Ada sebuah
kesakitan dihatiku, mengapa bisa seorang yang sudah lanjut usia merantau di
luar Jawa untuk menghidupi keluarganya. Dalam hatiku hanya berdoa “Ya Rabb
sehatkanlah ayahku, limpahkanlah pahala pada semua bapak di negeri ini dalam
setiap langkahnya menghidupi putra-putrinya.
Selanjutnya menuju
bapak responden pengganti yang tidak lain adalah tetangga Bapak dartoyo yang
seorang tukang kayu. Sang istri
terlihat sangat tidak suka dengan kami. Tapi sebagai gadis Jawa aku hanya
“nggih nggih wae lha piye kudu rampung dino iki jew...” hayo siapa yang tau artinya.
Pertanyaan dimulai dan ketika mendengar
tentang keadaan ekonomi ibu bagaimana?, beliau langsung semringah dan gagal marah. Mendadak cerita dengan sangat akrab dan
bercerita tentang keterpurukan ekonominya. Seolah kami ini datang dengan
segepok uang yang siap membagikannya pada rakyat. Oh Tuhan sebagai mahasiswa
tugas kami adalah meningkatkan keberdayaan masyarakat agar mampu meningkatkan
kondisi perekonomiannya secara mandiri bukan mendidik menjadi kaum yang
mengandalkan belas kasihan. Latar belakang seperti apa yang menyebabkan rakyat Indonesia
begitu pandai memelas.
Ada pelajaran lain dari
keluarga ini adalah seorang mbak yang sudah menikah namun sang suami tidak
masuk KK-nya bukan itu terjadi karena sesuatu. Teman perempuanku percayalah
kamu indah jangan kau berikan keindahanmu pada laki-laki yang bukan pantas
melihatnya apalagi sebelum waktunya, takut nanti begini akibatnya bikin malu
keluarga. Seorang ibu tetap membela anaknya dan berkata karena sang suami kerja
maka anaknya masih ikut KK bapaknya. Ya apapun alasannya yang penting hati-hati
aja. Wanita yang keren itu “ Women with a
Brain”.
Responden yang kedua
adalah ibu yang berkerja sebagai buruh
tandur. Sama dengan pekerjaan ibu saya dirumah saya tahu persis betapa
sulitnya maka saya biarkan ibunya berlalu karena sudah ditunggu untuk ambil
barisan mundur dalam menanam padi.
Lanjut ke Pak RT 04
yang sangat mengejutkan lokasi rumah pak RT ada di tengah ladang dan hanya
satu-satunya rumah di tengah ladang itu
serta rumahnya sangat sederhana dan terbuat dari kayu. Bapak ini memiliki
beberapa ekor sapi yang aroma kotorannya sangat menyengat. Pagi habis subuh
bapak dan istri sudah menuju ladang dan merumput untuk makan sapinya. Saat kami
temui kami harus menyusul bapaknya ke ladang. Saat saya meminta data bapaknya
bertanya dengan sangat detail apa dan mengapa saya meminta data padahal diawal
saya sudah menyampaikannya sebagai intro sesuai panduan dari lembaga. Saya suka
cara yang detail ini, dan saya suka caranya memprotect
data yang dimiliki, meski sederhana dan tampak bukan orang berpendidikan tinggi
namun pembukuan dan administrasi RT-nya tergolong cukup baik. Disini ada dua
responden, dari salah satu responden yang bernama ibu Sri Hartati beliau menyampaikan bahwa pemilihan Rt disini dengan
cara kocok. Seperti mengocok arisan siapa yang
dapat atau keluar yang akan jadi
RT periode ini. Selip apa selip sosok
warga yang nyebelin dan suka usil malah di kong- kalikong oleh warga lain supaya dia yang jadi RT biar nggak bawel katanya. Karena menjadi RT adalah beban bagi warga.
Lagipula tidak ada penghasilan apapun dengan menjadi RT. Sepertinya perlu di
lakukan perombakan cara pilih RT agar lebih sistematis dan memperoleh calon
terbaik untuk mengemban amanah rakyat.
Satu lagi bapak
berpendidikan S1 di desa ini yang melihat kehidupan setelah pernikahan sebagai
anak tangga yang terus harus dinaiki sampai tinggi sama-sama dengan keluarga. Waw romantis ya.... jadi pingin... pingin pulang kerumah lihat bapak sama ibuku
yang nggak kalah romantisnya. Akakakkak.
Bapak yang satu ini adalah seorang anggota KPU pastilah beliau tahu banyak
tentang calon yang mau dia pilih. Tapi sayangnya bapak ini tidak banyak
membagikan kepada kami. Keluarga kecil bapak ini mengajarkan saya bagaimana caranya
membina cinta dan mendewasa sama-sama.

Sumber: Dokumen Pribadi
Ekspedisi dilanjutkan di daerah yang
paling terpencil di Plunjaran dengan menyisir melingkari tebing yang miring dan
jalan bebatuan. Sampailah kami pada jalan yang baik namun sangat miring. Kami
mengitari kebun kebun diperbukitan dan sambil mengendarai motor saya menyapa “monggo bu” atau “ngeladang bu” dan “mari bu” lalu mereka
saling sahut-sahutan menyapa seperti film-film kuno Jakarta saat Jakarta masih
asri. Sampai pada acara gotong royong para pemuda yang membangun rumah ibadah,
namun ternyata membangun rumah warga tapi dilaksanakan secara gotong royong. Ya
beginilah kehidupan di desa, hangat bukan? Hidup tanpa uang di desa masih bisa
dilakukan tapi sedihnya ketika hidup di desa dan menghidupi anak yang sedang
menempuh pendidikan di kota. Uang yang diperoleh di desa tidak ada artinya
dibawa ke kota, tak berarti apa-apa.
Sakit bukan?
Pertanyaan bagi saya mahasiswa ekonomi
bagaimana mengatasi ini, disini dinegeriku sendiri? Mengapa pertiwi merintih
diantara luapan kekayaannya.
Ada
dua responden di sini satu adalah warga pindahan
dari Jakarta yang sang suami adalah orang Semarang, orang ini adalah orang
kota yang tinggal didesa supaya anaknya punya jiwa sosial yang baik dan juga kesehatan yang lebih baik.
Yang
paling berkesan adalah yang ini, yang saya simpan baik dimemori sebagai tugas
mahasiswa negeri ini untuk ada dan bersama membangun ketahanan dan kemandirian
ekonomi rakyat. Sebutlah namanya Bapak
Kasmijo beliau seorang kaki dengan satu cucu yang dititipkan padanya yang
sudah yatim karena kecelakaan, rupanya hidup sangat menguji bapak 64 tahun ini.
Bapak ini juga sudah tuna rungu.
Sumber: Dokumen Pribadi
Sang istri terus memohon pertolongan
kepada kami agar kami menyampaikan deritanya sebagai rakyat yang membutuhkan
uluran tangan. Kali ini aku hanya diam ditatap sesorang pria muda yang sedang
dengan rela membetulkan listrik dirumah sang Bapak Kasmijo. Kami saling tatap
karena kami tahu ini PR pemuda bangsa
lalu bagaimana caranya? Ya Allah perbanyaklah manusia lentera seperti kakak itu
yang berhati tulus agar mampu menerangi negeri ini.
Saat saya ijin pamit dan menanyakan
lokasi mushola maka sang pemuda menawarkan mengantar katanya hanya 200 m dari
rumah ibu itu. Di Guningpati 200 m dapat
saya tempuh dalam 5 menit jalan kaki disana sampai 20 menit karean jalannya
yang tejal dan masjid-nya ada disekitar waduk. Masjidnya bagus namun tidak
terawat hanya tertempel sertifikat dari KKN PPL yang sepertinya tidak banyak
memiliki pengaruh besar untuk kemajuan desa ini.
Saya punya pesan untuk pemuda lentera
“Jangan letih jadi lentera”
Sumber: Dokumen Pribadi
Darimu lentera kusulutkan sumbuku di kota sana
agar aku membawa aspirasi dan perjuangan untuk pemerataan kesejahteraan rakyat negeri
ini. Negeri yang konon gemah ripah loh
jinawi.


