Tetes
Air Di Senja Itu
Tetes
Air Di Ujung Senja
Suasana
mendung saat kami para pejuang PTN
(Perguruan Tinggi Negeri ) mengerjakan uji coba Seleksi masuk PTN.
Sedikit-sedikit Rena memandang Wawat yang duduk dibelakangnya. Rupanya Rena
kesulitan dengan soal yang ada didepannya. Hujan mulai turun saat mereka keluar
dari ruang uji coba. Tawa mereka samar terdengar seiring hujan yang semakin deras.
Rena menertawakan dirinya yang kebingungan dengan soal yang muncul. Wawat dan
Rena memang dua sijoli yang selalu bersama. Sebenarnya mereka bukan pasangan
mesra hanya sebatas sahabat namun selalu bersama. Dimana ada Rena kau pasti
akan menemukan sosok Wawat dibelakangnya. Dimata kawan-kawan kami mereka adalah
pasangan misterius atau pasangan teka-teki.
“Ayo
pulang Wat , hujannn” Rena yang manja merintih mengajak Wawat pulang.”Tunggu ya
sebentar lagi Nisa dijemput Cahyo” begitu Wawat menjelaskan kepada Rena.
Meskipun biasanya itu Wawat tidak pernah didengarkan oleh Rena .
Pesawat
kertas yang terbang kesana dan kemari oleh banyak orang di berbagai sudut
menandakan acara yang telah berakhir.Manjanya Rena mulai memuncak “ Ayolah
pulang kalo gitu aku pulang duluan aja. Aku bisa sendiri”kata Rena dengan nada acuh.Wawat
yang memang sudah paham dengan sikap sahabatnya ini, sontak ia langsung meraih
tangan Rena dan memandangnya sangat
hangat sambil bilang “ ya ayo kita pulang , sebentar lagi ya “ jawab Wawat menenangkan.
Rena
sudah tak lagi menghiraukan apa yang diucapkan Wawat. Rena segera beranjak
menuju parkiran dengan butiran-butiran
air langit yang mulai rapat.
Rena yang berboncengan dengan Vanya langsung menarik gas motor. Setelah
melewati lampu merah Wawat yang
sejak tadi mengimbangi kecepatan
Rena sekarang menghilang tak nampak lagi dari spion Rena.Hujan yang sepertinya sulit untuk ditembus membuat
Rena yang sebelumnya memaksakan dirinya menarik gas sangat kencang
sekarang berbelok menuju sebuah Pom dan berteduh bersama para sahabatnya yang
sudah lebih awal berteduh. Dalam hati Rena ada keresahan mengapa Wawat yang
tadi begitu dekat dibelakangnya kini sama sekali tak nampak. Hampir satu jam
mereka berteduh namun Wawat tak juga muncul dari arah sana. Saat teman-temannya
memutuskan untuk kembali menerobos hujan
Rena justru mengajak Vanya untuk memastikan bahwa Wawat baik-baik saja.
“Tadi
seperti motor Wawat agak bermasalah saat
berangkat, jangan-jangan motor Wawat mogok makanya dia tak kunjung sampai.
Kasian kalo dia mendorong sendiri
motornya ditengah hujan seperti ini. “ Jelas Rena kepada Vanya. “Tadi aku
seperti melihat motor Wawat melaju sangat kencang tapi aku tidak yakin.”
Sambung Vanya. Rena dan Vanya menyusuri jalan berulang kali hingga langit mulai
gelap dan petir pun banyak berlalu lalang. Saat Rena dan vanya berteduh
sebentar pada sebuah pendopo Rena mencoba menghubungi Wawat “nomor yang anda
tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan “ terdengar suara operator
yang menjawab panggilannya.
Karena
Rena mulai geram mengapa Wawat tak memberi tahunya dimana ia . Kini Rena
memutuskan untuk kembali sambil terus menengok dan sesekali berhenti setiap melihat motor yang berwarna hijau. Ia
hanya memastikan apakah itu motor Wawat atau bukan?. Ia mencoba mengenali
melalui plat yang tertera. Namun tak satupun dari sekian motor yang saya temui
adalah milik Wawat. Dengan rasa khawatir dan marah Rena sampai dirumah kemudian
dilihatya sebuah motor berplat B itu ada dihalaman rumahnya . Hatinya mulai
tenag namun ia tak mengerti betapa kasihnya hanya satu arah . Dirinya berputar
mencari Wawat, namun Wawat sama sekali tak mencarinya. Saat ia masuk ruang tamu
gubug kecilnya itu ia yang ingin marah tersentak melihat Wawat yag sedag sholat
Ashar dengan sangat khusuk. Tiba-tiba Rena dipanggil ibunya, kemudian ibuya
bercerita “ Wawat tadi kesini menanyakanmu kemudian ibu bingung kamu belum
pulang kok wawat menanyakanmu bukankah
kalian tadi pergi berdua ?” .”Lalu dia pamit lagi katanya hendak mencarimu ,
kemudian kembali ke rumah dan bertanya lagi apakah kamu sudah pulang.? Karena
kamu belum juga dirumah maka ia izin sholat ashar disini” sambung ibu Rena
.”iya bu dia sedang sholat ashar,tapi bu kok dia pakai baju saya ya ?” tanya rena sambil merasa konyol. “Tadi dia
basah kuyup bolak-balik mencarimu sampai badannya menggigil kedinginan, kau
kemana? “tanya ibu Rena. “Aku juga mencarinya bu , dia menghilang dan tidak
muncul lagi “ jawab Rena. “Bagaimana bisa berpisah ?” tanya ibu Rena . “Dia
menyebalkan bu, dia tidak mau diajak pulang , Sudah mau turun hujan bu “ Rena
memberi alasan . “ Lain kali setiap pergi bersama jangan saling meninggalkan
atau kalian akan saling mencari dan sama-sama menyiksa diri kalian
masing-masing. Temui Wawat dan jangan cemberut seperti itu “ bu Rena
menasehati.
Rena menuju ruang tamu sambil tetap cemberut melihat
Wawat yang sudah selesai sholat. Wawat yang melihat Rena mendatanginya seketika
langsung menatap Rena penuh rasa bersalah “Ren maaf aku nggak tau kamu nyariin
aku , aku minta maaf aku tidak bermansud membuatmu kehujanan karena mencariku .
Rena jangan cemberut ya ?”wawat yang
memang sangat dewasa , dia selalu menempatkan dirinya bersalah saat menghadapi
Rena. “aku sempat melihat anak-anak dipom tapi aku kira dirimu tidak ada
disitu. Aku yang sudah tertinggal olehmu karena aku memakai mantol terlebih
dahulu saat di Lampu merah, maka aku melaju sangat cepat dan tak menghiraukan
teman-teman yang ada di pom. Lalu aku sampai dirumahmu ternyata kau belum
pulang,sambil melihat terus setiap motor yang aku temui siapa tau itu kau aku
menuju pom kembali tapi teman-teman sudah pergi.” Wawat menjelaskan degan penuh
sesal namun Rena masih diam dan tidak menjawab apapun . kemudian Wawat
menyambung penjelasannya” Aku tidak tau mencarimu kemana lagi aku putuskan kembali dulu kerumahmu semoga kau sudah pulang
, tetapi kau belum juga pulang aku melihat wajah orang tuamu yang sangat
khawatir . Aku merasa menjadi laki-laki yang kurang bertanggung jawab. Setelah
sholat ashar aku berencana mencarimu lagi . Alhamdulillah kau sudah pulang .
Maafkan aku Ren , sungguh aku tidak tau kau mencariku “. Wawat menjelaskan
keadaanya.
Percakapan
berakhir dingi Rena yang manja masih saja cemberut , Wawat nampak sangat merasa
bersalah. Esok harinya Wawat bertemu dengan Winda ia juga mengikuti uji coba
masuk PTN kemarin. “Wat kemarin Rena mencarimu kembali ke SMA N 1 “ kamu dimana
memang ?tanya Winda. “Iya aku pulang dan tidak tahu kalu Rena mencariku .
Maafkan aku, aku juga berusaha mencarinya tapi
tidak bertemu” jawab Wawat.”Cieee kalian saling mencari, awwwh jadi iri”
ledek Winda.
Saat
jam istirahat Winda bertemu dengan Rena “ Ren katanya Wawat juga mencarimu lho
kemarin,” jelas Winda.”Iya tahu wawat sampai bolak-balik dua kali untuk
mencariku dia basah kuyup sampai dia sholat dirumah dengan bajuku. Aku tak
menyangka dia peduli padaku” jawab Rena . “ Kalian berdua memang sangat
Romantis , Kemarin saat kamu mau mencari Wawat, Yongky bilang “Rena itu sayang banget ya sama Wawat, mereka itu
Romantisnya melebihi orang yang pacaran” celoteh Winda yang memang sangat
cerewet dan lebai.
Rena sadar ia tidak akan sepeduli itu dengan orang lain
jika bukan dengan Wawat. “Mungkin saya mencintai Wawat , entahlah aku titipkan
hati ini selalu pada Ayah. Aku tak mau sakit hati itu sebab aku tak pernah
jatuh hati . Ini kali pertama aku peduli dengan sahabat pria sampai sepeduli
ini” pikir Rena dalam hati. Meskipun Rena tau Wawat memang menaruh hati padanya
namun Rena masih saja memungkiri keadaan itu .Dia memang takut jatuh cinta ,
Dia takut sakit hati. Karena dia tahu dalam cinta pasti ada kalanya akan sakit
hati.
Biarlah cinta ini tumbuh dan mengalir bagai air tanpa
sebuah ikatan karena bagi semua orang Rena dan Wawat adalah sahabat. Hujan
senja itu mengajarkan Rena betapa tulus kasih Wawat padanya. Dan kisah itu juga
memberi kode pada Wawat ternyata Rena juga peduli padanya. Meski keduanya harus
menahan dingin di tengah hujan tapi mereka tetap saling mencari. Semoga mereka
bisa saling menjaga sampai akhir nanti. Sampai saat Tuhan yang memutuskan
apakah mereka akan bertemu lagi. Karena kini setelah mereka masuk di PTN
masing-masing mereka menjadi berbeda kota, berbeda provinsi. Satu semester ini
mereka tak saling bertemu, Rindu mereka tercurah melalui tulisan-tulisan cinta
mereka.