Selasa, 15 November 2016

Tetes air senja itu

Tetes  Air   Di Senja Itu

Tetes  Air   Di Ujung Senja

Suasana mendung saat kami para pejuang PTN  (Perguruan Tinggi Negeri ) mengerjakan uji coba Seleksi masuk PTN. Sedikit-sedikit Rena memandang Wawat yang duduk dibelakangnya. Rupanya Rena kesulitan dengan soal yang ada didepannya. Hujan mulai turun saat mereka keluar dari ruang uji coba. Tawa mereka samar terdengar seiring hujan yang semakin deras. Rena menertawakan dirinya yang kebingungan dengan soal yang muncul. Wawat dan Rena memang dua sijoli yang selalu bersama. Sebenarnya mereka bukan pasangan mesra hanya sebatas sahabat namun selalu bersama. Dimana ada Rena kau pasti akan menemukan sosok Wawat dibelakangnya. Dimata kawan-kawan kami mereka adalah pasangan misterius atau pasangan teka-teki.
“Ayo pulang Wat , hujannn” Rena yang manja merintih mengajak Wawat pulang.”Tunggu ya sebentar lagi Nisa dijemput Cahyo” begitu Wawat menjelaskan kepada Rena. Meskipun biasanya itu Wawat tidak pernah didengarkan oleh Rena .
Pesawat kertas yang terbang kesana dan kemari oleh banyak orang di berbagai sudut menandakan acara yang telah berakhir.Manjanya Rena mulai memuncak “ Ayolah pulang kalo gitu aku pulang duluan aja. Aku bisa sendiri”kata Rena dengan nada acuh.Wawat yang memang sudah paham dengan sikap sahabatnya ini, sontak ia langsung meraih tangan  Rena dan memandangnya sangat hangat sambil bilang “ ya ayo kita pulang , sebentar lagi ya “ jawab Wawat menenangkan.
Rena sudah tak lagi menghiraukan apa yang diucapkan Wawat. Rena segera beranjak menuju parkiran dengan butiran-butiran  air langit   yang mulai rapat. Rena yang berboncengan dengan Vanya langsung menarik gas motor. Setelah melewati lampu merah Wawat yang  sejak  tadi mengimbangi kecepatan Rena sekarang menghilang tak nampak lagi dari spion  Rena.Hujan yang sepertinya sulit   untuk ditembus    membuat  Rena yang sebelumnya memaksakan dirinya menarik gas sangat kencang sekarang berbelok menuju sebuah Pom dan berteduh bersama para sahabatnya yang sudah lebih awal berteduh. Dalam hati Rena ada keresahan mengapa Wawat yang tadi begitu dekat dibelakangnya kini sama sekali tak nampak. Hampir satu jam mereka berteduh namun Wawat tak juga muncul dari arah sana. Saat teman-temannya memutuskan untuk kembali menerobos  hujan Rena justru mengajak Vanya untuk memastikan bahwa Wawat baik-baik saja.
“Tadi seperti  motor Wawat agak bermasalah saat berangkat, jangan-jangan motor Wawat mogok makanya dia tak kunjung sampai. Kasian kalo dia mendorong  sendiri motornya ditengah hujan seperti ini. “ Jelas Rena kepada Vanya. “Tadi aku seperti melihat motor Wawat melaju sangat kencang tapi aku tidak yakin.” Sambung Vanya. Rena dan Vanya menyusuri jalan berulang kali hingga langit mulai gelap dan petir pun banyak berlalu lalang. Saat Rena dan vanya berteduh sebentar pada sebuah pendopo Rena mencoba menghubungi Wawat “nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan “ terdengar suara operator yang menjawab panggilannya.
Karena Rena mulai geram mengapa Wawat tak memberi tahunya dimana ia . Kini Rena memutuskan untuk kembali sambil terus menengok dan sesekali berhenti  setiap melihat motor yang berwarna hijau. Ia hanya memastikan apakah itu motor Wawat atau bukan?. Ia mencoba mengenali melalui plat yang tertera. Namun tak satupun dari sekian motor yang saya temui adalah milik Wawat. Dengan rasa khawatir dan marah Rena sampai dirumah kemudian dilihatya sebuah motor berplat B itu ada dihalaman rumahnya . Hatinya mulai tenag namun ia tak mengerti betapa kasihnya hanya satu arah . Dirinya berputar mencari Wawat, namun Wawat sama sekali tak mencarinya. Saat ia masuk ruang tamu gubug kecilnya itu ia yang ingin marah tersentak melihat Wawat yag sedag sholat Ashar dengan sangat khusuk. Tiba-tiba Rena dipanggil ibunya, kemudian ibuya bercerita “ Wawat tadi kesini menanyakanmu kemudian ibu bingung kamu belum pulang kok wawat  menanyakanmu bukankah kalian tadi pergi berdua ?” .”Lalu dia pamit lagi katanya hendak mencarimu , kemudian kembali ke rumah dan bertanya lagi apakah kamu sudah pulang.? Karena kamu belum juga dirumah maka ia izin sholat ashar disini” sambung ibu Rena .”iya bu dia sedang sholat ashar,tapi bu kok dia pakai baju saya ya  ?” tanya rena sambil merasa konyol. “Tadi dia basah kuyup bolak-balik mencarimu sampai badannya menggigil kedinginan, kau kemana? “tanya ibu Rena. “Aku juga mencarinya bu , dia menghilang dan tidak muncul lagi “ jawab Rena. “Bagaimana bisa berpisah ?” tanya ibu Rena . “Dia menyebalkan bu, dia tidak mau diajak pulang , Sudah mau turun hujan bu “ Rena memberi alasan . “ Lain kali setiap pergi bersama jangan saling meninggalkan atau kalian akan saling mencari dan sama-sama menyiksa diri kalian masing-masing. Temui Wawat dan jangan cemberut seperti itu “ bu Rena menasehati.
            Rena menuju ruang tamu sambil tetap cemberut melihat Wawat yang sudah selesai sholat. Wawat yang melihat Rena mendatanginya seketika langsung menatap Rena penuh rasa bersalah “Ren maaf aku nggak tau kamu nyariin aku , aku minta maaf aku tidak bermansud membuatmu kehujanan karena mencariku . Rena jangan cemberut ya ?”wawat  yang memang sangat dewasa , dia selalu menempatkan dirinya bersalah saat menghadapi Rena. “aku sempat melihat anak-anak dipom tapi aku kira dirimu tidak ada disitu. Aku yang sudah tertinggal olehmu karena aku memakai mantol terlebih dahulu saat di Lampu merah, maka aku melaju sangat cepat dan tak menghiraukan teman-teman yang ada di pom. Lalu aku sampai dirumahmu ternyata kau belum pulang,sambil melihat terus setiap motor yang aku temui siapa tau itu kau aku menuju pom kembali tapi teman-teman sudah pergi.” Wawat menjelaskan degan penuh sesal namun Rena masih diam dan tidak menjawab apapun . kemudian Wawat menyambung penjelasannya” Aku tidak tau mencarimu kemana lagi aku putuskan  kembali dulu kerumahmu semoga kau sudah pulang , tetapi kau belum juga pulang aku melihat wajah orang tuamu yang sangat khawatir . Aku merasa menjadi laki-laki yang kurang bertanggung jawab. Setelah sholat ashar aku berencana mencarimu lagi . Alhamdulillah kau sudah pulang . Maafkan aku Ren , sungguh aku tidak tau kau mencariku “. Wawat menjelaskan keadaanya.

Percakapan berakhir dingi Rena yang manja masih saja cemberut , Wawat nampak sangat merasa bersalah. Esok harinya Wawat bertemu dengan Winda ia juga mengikuti uji coba masuk PTN kemarin. “Wat kemarin Rena mencarimu kembali ke SMA N 1 “ kamu dimana memang ?tanya Winda. “Iya aku pulang dan tidak tahu kalu Rena mencariku . Maafkan aku, aku juga berusaha mencarinya tapi  tidak bertemu” jawab Wawat.”Cieee kalian saling mencari, awwwh jadi iri” ledek Winda.
Saat jam istirahat Winda bertemu dengan Rena “ Ren katanya Wawat juga mencarimu lho kemarin,” jelas Winda.”Iya tahu wawat sampai bolak-balik dua kali untuk mencariku dia basah kuyup sampai dia sholat dirumah dengan bajuku. Aku tak menyangka dia peduli padaku” jawab Rena . “ Kalian berdua memang sangat Romantis , Kemarin saat kamu mau mencari Wawat, Yongky bilang “Rena itu  sayang banget ya sama Wawat, mereka itu Romantisnya melebihi orang yang pacaran” celoteh Winda yang memang sangat cerewet dan lebai.
            Rena sadar ia tidak akan sepeduli itu dengan orang lain jika bukan dengan Wawat. “Mungkin saya mencintai Wawat , entahlah aku titipkan hati ini selalu pada Ayah. Aku tak mau sakit hati itu sebab aku tak pernah jatuh hati . Ini kali pertama aku peduli dengan sahabat pria sampai sepeduli ini” pikir Rena dalam hati. Meskipun Rena tau Wawat memang menaruh hati padanya namun Rena masih saja memungkiri keadaan itu .Dia memang takut jatuh cinta , Dia takut sakit hati. Karena dia tahu dalam cinta pasti ada kalanya akan sakit hati.
            Biarlah cinta ini tumbuh dan mengalir bagai air tanpa sebuah ikatan karena bagi semua orang Rena dan Wawat adalah sahabat. Hujan senja itu mengajarkan Rena betapa tulus kasih Wawat padanya. Dan kisah itu juga memberi kode pada Wawat ternyata Rena juga peduli padanya. Meski keduanya harus menahan dingin di tengah hujan tapi mereka tetap saling mencari. Semoga mereka bisa saling menjaga sampai akhir nanti. Sampai saat Tuhan yang memutuskan apakah mereka akan bertemu lagi. Karena kini setelah mereka masuk di PTN masing-masing mereka menjadi berbeda kota, berbeda provinsi. Satu semester ini mereka tak saling bertemu, Rindu mereka tercurah melalui tulisan-tulisan cinta mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar