Ekpedisi Wonosobo Part One
Ekspedisi Larangan Kulon,
Mojotengah, Wonosobo
(19 & 20 Februari 2018)
Sumber: kodeposarea.blogspot.com
Aroma
kehangatan selalu menjadi pengganti kata “welcome”
untuk pedesaan di Indonesia. Meski jarak antar warga jauh terisah lahan dan
hutan tapi mereka saling paham satu sama lain. Hampir setiap wanita di desa ini
stay at home dan hanya jadi ibu rumah
tangga tanpa pekerjaan lain. Urusan domestik saja yang mereka kerjakan,
nampaknya belum sampai ke arah meningkatkan keberdayaan wanita di daerah ini.
Sedangkan para bapak pergi meladang dari jam 08.00 WIB sampai habis ashar.
Rata-rata penduduk desa larangan berpendidikan SD dan SMP. Analisis saya
sebenarnya mereka juga ingin menempuh pendidikan tinggi dan bahkan biaya
pendidikannya gratis. Namun karena untuk akses ke sekolahnya agak susah jadi
mereka berhenti sekolah karena alasan yang sepele seperti jika tidak punya
sepeda motor mereka tidak mau sekolah. Karena angkot jarang, sepeda ontel tidak
mungkin digunakan disini.
Hampir
semua warga menyebut sepeda motor sebagai “pit”
atau sepeda karena tidak ada sepeda lain selain sepeda motor. Padahal di daerah
saya pit itu untuk sebutan sepeda
ontel. Sepeda motor bukan benda mewah di Desa Larangan Kulon. Sepeda yang
baguspun digunakan untuk kesawah dan ladang, membawa rerumputan dan melalui
jalan terjal. Dalam pikiran saya apakah ada kehidupan setelah jalan hutan ini.
Jalan yang disebut-sebut sebagai jalan angker. Petakan Penduduk didesa ini
sangat berkelompok jarak antar dusun dalam satu desa pun berjauhan kisaran 2-3
kilometer. Sekolompok Rumah ada disini kemudian ada hutan yang panjang dan
terjal kemudian ada lagi RT atau dusun yang lain dalam administrasi satu desa.
Wonosobo
terkenal dengan udaranya yang sejuk dan dingin, Pemandangan yang indah berupa
panorama Sumbing Sindoro yang sangat gagah dari kejauhan. Ditengah nikmatnya
pemandangan ada tugas yang diemban dipundak kita. Yaitu survey jajak pendapat
masyarakat. Akan ada sepuluh warga desa Larangan yang menjadi target ekspedisi
kali ini.
Pak Sholihin,
adalah seorang laki-laki lanjut usia yang tinggal seorang diri. Beliau memiliki
2 orang anak yang sudah berkeluarga, satu orang merantau di Riau dan satu lagi
tinggal di kecamatan yang berbeda. Anaknya hanya menjenguk satu tahun sekali
sedangkan istrinya sudah lama meninggal. Sehari-hari bapak Sholihi hanya
menjemur padi, bertani dan berladang semampunya. Bapak Solihin sangat
berhati-hati menjawab pertanyaan saya. Beliau bilang begini:
“Apa
yang saya sampaikan akan saya pertanggung jawabkan, kalau saya ngomong ini tapi
nanti saya berlaku lain namanya saya menyalahi mbaknya”.
Dari bapak renta ini saya belajar bagaimana
memegang ucapan. Seorang berlatar pedidikan SD saja punya moral yang baik lalu
bagaimana dengan pejabat kita yang latar belakangnya pendidikan tinggi.
Seandainya semua pejabat memegang janjinya pastilah betapa indah negeri ini
layaknya bayangan yang mereka koarkan saat pilkada. Pelajaran yang ke dua yaitu
bahwa orang tua adalah anugrah bukan sapi perah yang habis manis sepah dibuang.
Setelah kita tumbuh besar dengan air susu yang beliau perjuangkan. Kita harus
ada dihari tua mereka sebagaimana mereka ada untuk mengasihi dan membesarkan
kita. Sungguh orang tua adalah titipan rahmat dari Allah semua doa baik untuk
kita “anak” terlantun dari bibir orang tua. Patutlah bersedih seseorang yang
sudah tidak punya orang tua. Dan patutlah kecewa seseorang yang punya orang tua
namun tidak menjaganya.
Bu Hajah Nas, seorang
nenek yang sangat bangga akan prestasi cucu-cucunya. Sangat bangga dengan
suaminya yang pensiunan dan punya derajat di kampungnya. Dalam hasil wawancara
beliau mau kenaikan gaji pensiun suaminya, tidak sedikitpun beliau meminta saya
atau mengajukan saran meningkatan kesejahteraan masyarakat. Dan dari sini saya
paham bahwa gagalnya kemajuan peradapan adalah karena petingginya memikirkan
diri sendiri bukan memikirkan rakyatnya. Semua orang pintar mau semakin pintar
tapi sendirian. Sesungguhnya derajat bukan dari gelar dan harta atau pangkat
tapi dari pemikiran dan jiwa sosial. Hidup bukan hanya tentang saya sukses dan
sejahtera tapi tentang saya dan lingkungan saya yang semakin baik dan
sejahtera. Harta dari Allah akan semakin nikmat kalau kita bersyukur dengan
yang Allah berikan. Seberapa besar rahmat kalau kitamengeluh akan tak bahagia
juga. Karena untuk bahagia sesungguhnya juga adalah keputusan. Hidup adalah
mengambil keputusan mau seperti apa kita menjalani hidup.
Ibu Umayah,
Ibu yang sangat mengutamakan pendidikan anaknya. Membuatku teringat ibuku yang
berdarah dan menanah menyekolahkanku. Setiap perempuan yang seorang ibu adalah
kasih allah untuk bumi. Jika ada satu yang rela mati untuk putranyaa adalah
beliau “ibu”. Teringat aku pada ibu yang memasukkan kepalaku ketubuhnya hingga
kepalanya ada dipunggungku dan kepalaku menyuduk di perutnya, goa tempat aku
bersemayam dulu selama semilan bulan. Ketika ada petir yang sangat keras
bersama kilat di halaman rumah saat itu. Membuat aku menangis bukan karena kilat
tapi karena pertanyaan saya “kasih sayang macam apa ini?” Tidak mau kehilangan
kasih sayang spesies ini.
Bu Napingah,
adalah ibu yang berlatar belakang SD, tak banyak pertanyaan yang mampu beliau
jawab dengan cerdas. Beliau cenderung bercerita bagaimana letihnya berladang
dan berkebun. Belum lagi harus mengurus cucunya yang dititipkan anaknya kepada
beliau. Masalah penitipan cucu kepada neneknya karena sang ibu berkerja untuk
biaya hidup mereka. Lalu bagaimana dengan struktur keluarga yang seharusnya benar
berubah menjadi kacau karena tuntutan ekonomi.
Masalah ekonomi muncul karena ketidak siapan dua sijoli dalam menghadapi pernikahan. Sesungguhnya seorang ibu
telah luar biasa merasa letih dengan kenakalan kita dahulu, masihkan harus
menanggung kenakalan putramu lagi. Memang ada kebahagiaan saat merawat cucunya. Bukankah akan lebih
bahagia saat bermain dengan cucunya.
Tolong dibedakan dan dipahami kasih tanpa batas seorang ibu bukan untuk membuat
kita berlaku seenak sendiri.
Ibu Nanik, ibu
berusia 26 tahun ini ternyata juga lulusan SD di Wonosobo saat didaerah lain
ibu usia 30-an saat ini tentu sudah
lulusan minimal SLTA. Rasanya jantugku seperti tercekik merenunginya. Ini Jawa
tapi begitu sulit aku bilang kesejahteraan di jawa baik. Kono katanya Jawa
adalah yang paling maju. Tapi ada sisi yang lain yang kurang terjamah kemajuan.
Tidak apa kalau sudah terlanjur tapi ibu harus janji ya cukup ibu saja yang tidak sekolah, tapi anak ibu harus sekolah
tinggi meski ibu punya banyak keterbatasan tapi ibu punya daya juang. Seperti
janji ibu saya pada dunia ditengah keterbatasannya untuk menyekolahkanku sampai
tinggi. Ada Allah yang akan beri jalan. Kuncinya Percayalah dan berjuanglah.
Bu Bejo,
kurang lebih sama dengan ibu-ibu lain hanya bertani dan mengandalkan kerja
fisik saja padahal setiap manusia punya potensi besar untuk berkembang. Ada
kelucuan dan keprihatinan pada ibu ini karena beliau tidak paham dengan “suku”
dalam pertanyaan, “ibu suku jawa nggih bu?”.
Lalu pertanyaan diganti menjadi “ibu asli tiyang
jawi nggih bu”. Kemudian beliau menjawab “nggih leres mba”.
Pak Supriyadi,
adalah seorang bapak berlatar belakang pendidikan SLTP, yang cukup kritis
dengan pertanyaan jajak pendapat politik kali ini. Bapak supriyadi pernah
menjadi salah satu aktivis partai politik namun sekarang tidak lagi. Sekarang
bapaknya adalah seorang tukang ojek. Dalam curahannya sebagai rakyat beliau
berkeluh kesah masuknya ojek online
di perkampungan sehingga mengurangi pendapatan ojek lokal. Dan bukan tidak
mungkin akan mematikan lapangan kerja sepakai tukang ojek. Yang saya pelajari
dari bapak ini adalah sebuah cover tidak
menjamin apa yang ada di dalamnya. Sekilas pertama melihat bapaknya kita
melihat sosok yang garang namun setelah ngobrol ngalor ngidul tentang partai dan perekonomian beliau sangat ramah
ternyata. Bahkan saat putri beliau menangis beliau ijin dulu untuk membuatkan
susu sang putri. Something yang lucu
buat saya.
Pak Sidik, bapak
dua anak ini berkepribadian sesuai namanya “siddiq”
artinya jujur bahkan keimbuhan fatonah
alias cerdas. Beliau bahkan tau pasti nama-nama calon wakil rakyat dan partai
yang mengusungnya. Tau bagaimana sistem politik di daerahnya. Dimana di desa
larangan kulon ada model borong suara.
Dengan tombak utamanya adalah para pemuda. Jadi satu anggota calon dari partai
A akan menyumbang sebuah masjil atau jalan misalkan dan nanti satu desa atau
minimal satu dusun akan memilih calon tersebut tapi yang dimungkinkan calon itu
memang akan jadi sehingga masjid dan jalan yang dijanjikan benar
terealisasikan. Tentunya ini dilakukan juga dengan surat pernjanjian kata pak
Sidik menjelaskan. Masalah perekonomian pun beliau paham beliau tertawa geli dengan keadaan wonosobo yang berada
di garis merah kemiskinan provinsi Jawa Tengah di temani oleh Purworejo yang
merupakan daerah saya. Dan the end
kita tertawa bersamaa dilanjutkan menyeruput teh yang di hidangkan. Bapak sidik
adalah anggota ormas Muhammadiyah yang
ada di Wonosobo, Keluarganya sangat Islami dan hangat. Rumahnya
sederhana dan elegant. Tergambar
rumah tangga yang sedang pelan-pelan
menaiki tangga puncak kesuksesan dan kebahagiaan. Pastilah beliau bahagia
dengan istri yang sangat santun dan lembut perangainya. Seperti sosok ratna
yang tergambar pada cerita yang pernah saya baca.
Pak Samingun,
adalah sosok bapak yang sangat pendiam satu pertanyaan bisa smpai
bermenit-menit beliau berpikir dan begitu mulut mulai terbuka ada harapan akan
ada jawaban ternyata hanya kata “eeemmmmmm”
aku dan seorang teman surveyer lain hanya menghembuskan napas memohon
pertolongan kepada Yang Diatas. Benar-benar menguras kesabaran harus tersenyum
ditengah rasa geregetan. Tapi apa daya barang kali memang beliau sama sekali
tidak tau apa-apa perihal pertanyaan yang saya ajukan. Bahkan Bapak gubernur
sendiripun tak paham lah siapa dia.
Bapak Aan,
Adalah seorang bapak muda dengan satu orang putri. Beliau bekerja di tempat loundry dan sang istri membuka usaha
jasa setrika baju. Bapak Aan baru berusia 23 tahun, tentu itu sangat muda bagi
kita yang hidup dikota. Setidaknya laki-laki menikah setelah berumur 27 tahun.
Dari bapak Aan saya perkirakna sepertinya bapak Aan menikah di usia 19 atau 20
tahun. Dari kehidupan sederhan beliau aku belajar kasih yang lucu ala pengantin
belia karena usia 20 an memang masih suka sukanya bercanda.
Dari
kisah atas sampai bawah ada sebuah kesimpulan bahwa pendidikan adalah jalan
beradaban yang lebih baik, pendidikan akan menunda orang menikah, pendidikan
membuat orang lebih bijak dan kritis serta pendidikan adalah keutamaan. Semua
harus bersama-sama memperjuangkan pendidikan. memang segala hal dibumi ini
butuh perjuangan dan tak jarang pengorbanan.
Diantara
sepuluh responden yang saya tulis ada terselip 2 buah cerita lucu dari tokoh
lain di luar responden, beliau adalah ibu Hajah solihin dan ibu Nyai Samirin.
Dua ibu pengantar berkah dan suri tauladan yang baik.
Ceritanya
akan mencari rumah bapak RT yang bernama bapak Samirin tapi salah seorang mas-mas salah menunjukkan kami rumah.
Entah karena grogi atau karena niat mengerjai entahlah. Dirumah yang ternyata
salah alamat kami sampai masuk dan minum teh karena hujan deras saat itu. Lalu
kami memulai percakapan terkait benarkah ini rumah Bapak RT yaitu Pak Samirin
tetapi ternyata salah dan kami tidak dijinkan pergi, kami diwajibkan makan
sebelum pergi. Alhasil kamipun makan
dengan rasa kikuk yang luar biasa. Satu yang menginspirasi dari ibu Hajah Solihin
adalah beliau sama sekali tidak menaruh curiga pada kami, saat yang lain
menaruh curiga seperti bapak-bapak pinggir jalan yang langsung lari saat kami
hampiri hendak bertanya alamat. Bahkan beliau mengintip kami dari jendela
rumahnya. Apa maksudnya kami bukan peminta sumbangan amal atau pencuri
bersenjata hipnotis. Warung ibu hajah solihin selalu ditutup saat adzan luar
biasa bukan. “Kalau di Indonesia itu tersesat jadi saudara(khususon desa nggih,
kalau di kota enggak)”. Terimakasih
Selanjutnya
adalah ibu nyai Solihin seorang istri dari bapak kyai yang mengajar ngaji di
mushola setempat dan tokoh Nahdatul Ulama setempat. Ibu nyai sedang sare saat kami berkunjung rumah tampak
kosong namun anehnya motor terparkir dengan kunci motor tergantung di motornya
seolah menawarkan agar dibawa lari. Ada lagi satu motor yang lain dengan jok
terbuka dan kunci ada pada motor itu. Ya seperti
inilah kondisi umat yang iklas dan tak cinta akan dunia. Kami percaya bahwa apa
yang diberikan dari orang berilmu adalah barokah. Kebahagiaan terbesar sebagai
penutup hari itu adalah kami mendapat oleh-oleh dari ibu nyai yang kaya akan
barokah dan juga kami mendapat kesempatan sowan
pada beliau. Acara mencari data dirumah ibu nyai saya niatkan sowan dhateng tiyang ingkang kagungan ilmu.
Mayoritas warga desa Larangan adalah NU dan NU-nya sangat kental. Nyaman dan
teduh melihat cara warga desa ini beragama.
Dari
letih ini aku semaikin yakin, aku harus terus belajar dan belajar terus.
Termasuk belajar mensyukuri hidup dan belajar mengabdikan diri untuk pertiwi
apapun jalan yang aku pilih nanti. Pak Ainun Najib berkata bahwa sekolahlah
terus sampai kamu pintar dan teruslah sekolah sampai sekolah gagal membodohimu.
Kita perlu tahu kenyataannya bukan hanya teorinya. Kita harus menggunakan
pikiran kita untuk mencapai peradapan yang baik secara bersama-sama, bukan
seorang diri. Kita adalah manusia, manusia adalah pikirannya selebihnya hanya
tulang dan serat. Masihkan kita hidup hanya berjuang dan berkerja keras untuk
memenuhi kebutuhan tulang dan serat saja. Tulang dan serat ini adalah sarana
agar pikiran kita mendapatkan cahaya lagi.







