Senin, 26 Februari 2018

Ekspedisi Wonosobo



Ekpedisi Wonosobo Part One
Ekspedisi Larangan Kulon, Mojotengah, Wonosobo
(19 & 20 Februari  2018)
                                                     Sumber: kodeposarea.blogspot.com

 Aroma kehangatan selalu menjadi pengganti kata “welcome” untuk pedesaan di Indonesia. Meski jarak antar warga jauh terisah lahan dan hutan tapi mereka saling paham satu sama lain. Hampir setiap wanita di desa ini stay at home dan hanya jadi ibu rumah tangga tanpa pekerjaan lain. Urusan domestik saja yang mereka kerjakan, nampaknya belum sampai ke arah meningkatkan keberdayaan wanita di daerah ini. Sedangkan para bapak pergi meladang dari jam 08.00 WIB sampai habis ashar. Rata-rata penduduk desa larangan berpendidikan SD dan SMP. Analisis saya sebenarnya mereka juga ingin menempuh pendidikan tinggi dan bahkan biaya pendidikannya gratis. Namun karena untuk akses ke sekolahnya agak susah jadi mereka berhenti sekolah karena alasan yang sepele seperti jika tidak punya sepeda motor mereka tidak mau sekolah. Karena angkot jarang, sepeda ontel tidak mungkin digunakan disini.
Hampir semua warga menyebut sepeda motor sebagai “pit” atau sepeda karena tidak ada sepeda lain selain sepeda motor. Padahal di daerah saya pit itu untuk sebutan sepeda ontel. Sepeda motor bukan benda mewah di Desa Larangan Kulon. Sepeda yang baguspun digunakan untuk kesawah dan ladang, membawa rerumputan dan melalui jalan terjal. Dalam pikiran saya apakah ada kehidupan setelah jalan hutan ini. Jalan yang disebut-sebut sebagai jalan angker. Petakan Penduduk didesa ini sangat berkelompok jarak antar dusun dalam satu desa pun berjauhan kisaran 2-3 kilometer. Sekolompok Rumah ada disini kemudian ada hutan yang panjang dan terjal kemudian ada lagi RT atau dusun yang lain dalam administrasi satu desa.
Wonosobo terkenal dengan udaranya yang sejuk dan dingin, Pemandangan yang indah berupa panorama Sumbing Sindoro yang sangat gagah dari kejauhan. Ditengah nikmatnya pemandangan ada tugas yang diemban dipundak kita. Yaitu survey jajak pendapat masyarakat. Akan ada sepuluh warga desa Larangan yang menjadi target ekspedisi kali ini.
Pak Sholihin, adalah seorang laki-laki lanjut usia yang tinggal seorang diri. Beliau memiliki 2 orang anak yang sudah berkeluarga, satu orang merantau di Riau dan satu lagi tinggal di kecamatan yang berbeda. Anaknya hanya menjenguk satu tahun sekali sedangkan istrinya sudah lama meninggal. Sehari-hari bapak Sholihi hanya menjemur padi, bertani dan berladang semampunya. Bapak Solihin sangat berhati-hati menjawab pertanyaan saya. Beliau bilang begini:
“Apa yang saya sampaikan akan saya pertanggung jawabkan, kalau saya ngomong ini tapi nanti saya berlaku lain namanya saya menyalahi mbaknya”.
 Dari bapak renta ini saya belajar bagaimana memegang ucapan. Seorang berlatar pedidikan SD saja punya moral yang baik lalu bagaimana dengan pejabat kita yang latar belakangnya pendidikan tinggi. Seandainya semua pejabat memegang janjinya pastilah betapa indah negeri ini layaknya bayangan yang mereka koarkan saat pilkada. Pelajaran yang ke dua yaitu bahwa orang tua adalah anugrah bukan sapi perah yang habis manis sepah dibuang. Setelah kita tumbuh besar dengan air susu yang beliau perjuangkan. Kita harus ada dihari tua mereka sebagaimana mereka ada untuk mengasihi dan membesarkan kita. Sungguh orang tua adalah titipan rahmat dari Allah semua doa baik untuk kita “anak” terlantun dari bibir orang tua. Patutlah bersedih seseorang yang sudah tidak punya orang tua. Dan patutlah kecewa seseorang yang punya orang tua namun tidak menjaganya.
Bu Hajah Nas, seorang nenek yang sangat bangga akan prestasi cucu-cucunya. Sangat bangga dengan suaminya yang pensiunan dan punya derajat di kampungnya. Dalam hasil wawancara beliau mau kenaikan gaji pensiun suaminya, tidak sedikitpun beliau meminta saya atau mengajukan saran meningkatan kesejahteraan masyarakat. Dan dari sini saya paham bahwa gagalnya kemajuan peradapan adalah karena petingginya memikirkan diri sendiri bukan memikirkan rakyatnya. Semua orang pintar mau semakin pintar tapi sendirian. Sesungguhnya derajat bukan dari gelar dan harta atau pangkat tapi dari pemikiran dan jiwa sosial. Hidup bukan hanya tentang saya sukses dan sejahtera tapi tentang saya dan lingkungan saya yang semakin baik dan sejahtera. Harta dari Allah akan semakin nikmat kalau kita bersyukur dengan yang Allah berikan. Seberapa besar rahmat kalau kitamengeluh akan tak bahagia juga. Karena untuk bahagia sesungguhnya juga adalah keputusan. Hidup adalah mengambil keputusan mau seperti apa kita menjalani hidup.
Ibu Umayah, Ibu yang sangat mengutamakan pendidikan anaknya. Membuatku teringat ibuku yang berdarah dan menanah menyekolahkanku. Setiap perempuan yang seorang ibu adalah kasih allah untuk bumi. Jika ada satu yang rela mati untuk putranyaa adalah beliau “ibu”. Teringat aku pada ibu yang memasukkan kepalaku ketubuhnya hingga kepalanya ada dipunggungku dan kepalaku menyuduk di perutnya, goa tempat aku bersemayam dulu selama semilan bulan. Ketika ada petir yang sangat keras bersama kilat di halaman rumah saat itu. Membuat aku menangis bukan karena kilat tapi karena pertanyaan saya “kasih sayang macam apa ini?” Tidak mau kehilangan kasih sayang spesies ini.
Bu Napingah, adalah ibu yang berlatar belakang SD, tak banyak pertanyaan yang mampu beliau jawab dengan cerdas. Beliau cenderung bercerita bagaimana letihnya berladang dan berkebun. Belum lagi harus mengurus cucunya yang dititipkan anaknya kepada beliau. Masalah penitipan cucu kepada neneknya karena sang ibu berkerja untuk biaya hidup mereka. Lalu bagaimana dengan struktur keluarga yang seharusnya benar berubah menjadi kacau karena tuntutan ekonomi.  Masalah ekonomi muncul karena ketidak siapan dua sijoli dalam menghadapi pernikahan. Sesungguhnya seorang ibu telah luar biasa merasa letih dengan kenakalan kita dahulu, masihkan harus menanggung kenakalan putramu lagi. Memang ada kebahagiaan saat merawat cucunya. Bukankah akan lebih bahagia saat bermain dengan cucunya. Tolong dibedakan dan dipahami kasih tanpa batas seorang ibu bukan untuk membuat kita berlaku seenak sendiri.
Ibu Nanik, ibu berusia 26 tahun ini ternyata juga lulusan SD di Wonosobo saat didaerah lain ibu usia 30-an saat  ini tentu sudah lulusan minimal SLTA. Rasanya jantugku seperti tercekik merenunginya. Ini Jawa tapi begitu sulit aku bilang kesejahteraan di jawa baik. Kono katanya Jawa adalah yang paling maju. Tapi ada sisi yang lain yang kurang terjamah kemajuan. Tidak apa kalau sudah terlanjur tapi ibu harus janji ya cukup ibu saja yang tidak sekolah, tapi anak ibu harus sekolah tinggi meski ibu punya banyak keterbatasan tapi ibu punya daya juang. Seperti janji ibu saya pada dunia ditengah keterbatasannya untuk menyekolahkanku sampai tinggi. Ada Allah yang akan beri jalan. Kuncinya Percayalah dan berjuanglah.
Bu Bejo, kurang lebih sama dengan ibu-ibu lain hanya bertani dan mengandalkan kerja fisik saja padahal setiap manusia punya potensi besar untuk berkembang. Ada kelucuan dan keprihatinan pada ibu ini karena beliau tidak paham dengan “suku” dalam pertanyaan, “ibu suku jawa nggih bu?”. Lalu pertanyaan diganti menjadi “ibu asli tiyang jawi nggih bu”. Kemudian beliau menjawab “nggih leres mba”.
Pak Supriyadi, adalah seorang bapak berlatar belakang pendidikan SLTP, yang cukup kritis dengan pertanyaan jajak pendapat politik kali ini. Bapak supriyadi pernah menjadi salah satu aktivis partai politik namun sekarang tidak lagi. Sekarang bapaknya adalah seorang tukang ojek. Dalam curahannya sebagai rakyat beliau berkeluh kesah masuknya ojek online di perkampungan sehingga mengurangi pendapatan ojek lokal. Dan bukan tidak mungkin akan mematikan lapangan kerja sepakai tukang ojek. Yang saya pelajari dari bapak ini adalah sebuah cover tidak menjamin apa yang ada di dalamnya. Sekilas pertama melihat bapaknya kita melihat sosok yang garang namun setelah ngobrol ngalor ngidul tentang partai dan perekonomian beliau sangat ramah ternyata. Bahkan saat putri beliau menangis beliau ijin dulu untuk membuatkan susu sang putri. Something yang lucu buat saya.
Pak Sidik, bapak dua anak ini berkepribadian sesuai namanya “siddiq” artinya jujur bahkan keimbuhan fatonah alias cerdas. Beliau bahkan tau pasti nama-nama calon wakil rakyat dan partai yang mengusungnya. Tau bagaimana sistem politik di daerahnya. Dimana di desa larangan kulon ada model borong suara. Dengan tombak utamanya adalah para pemuda. Jadi satu anggota calon dari partai A akan menyumbang sebuah masjil atau jalan misalkan dan nanti satu desa atau minimal satu dusun akan memilih calon tersebut tapi yang dimungkinkan calon itu memang akan jadi sehingga masjid dan jalan yang dijanjikan benar terealisasikan. Tentunya ini dilakukan juga dengan surat pernjanjian kata pak Sidik menjelaskan. Masalah perekonomian pun beliau paham beliau tertawa geli dengan keadaan wonosobo yang berada di garis merah kemiskinan provinsi Jawa Tengah di temani oleh Purworejo yang merupakan daerah saya. Dan the end kita tertawa bersamaa dilanjutkan menyeruput teh yang di hidangkan. Bapak sidik adalah anggota ormas Muhammadiyah yang  ada di Wonosobo, Keluarganya sangat Islami dan hangat. Rumahnya sederhana dan elegant. Tergambar rumah tangga yang  sedang pelan-pelan menaiki tangga puncak kesuksesan dan kebahagiaan. Pastilah beliau bahagia dengan istri yang sangat santun dan lembut perangainya. Seperti sosok ratna yang tergambar pada cerita yang pernah saya baca.
Pak Samingun, adalah sosok bapak yang sangat pendiam satu pertanyaan bisa smpai bermenit-menit beliau berpikir dan begitu mulut mulai terbuka ada harapan akan ada jawaban ternyata hanya kata “eeemmmmmm” aku dan seorang teman surveyer lain hanya menghembuskan napas memohon pertolongan kepada Yang Diatas. Benar-benar menguras kesabaran harus tersenyum ditengah rasa geregetan. Tapi apa daya barang kali memang beliau sama sekali tidak tau apa-apa perihal pertanyaan yang saya ajukan. Bahkan Bapak gubernur sendiripun tak paham lah siapa dia.
Bapak Aan, Adalah seorang bapak muda dengan satu orang putri. Beliau bekerja di tempat loundry dan sang istri membuka usaha jasa setrika baju. Bapak Aan baru berusia 23 tahun, tentu itu sangat muda bagi kita yang hidup dikota. Setidaknya laki-laki menikah setelah berumur 27 tahun. Dari bapak Aan saya perkirakna sepertinya bapak Aan menikah di usia 19 atau 20 tahun. Dari kehidupan sederhan beliau aku belajar kasih yang lucu ala pengantin belia karena usia 20 an memang masih suka sukanya bercanda.
Dari kisah atas sampai bawah ada sebuah kesimpulan bahwa pendidikan adalah jalan beradaban yang lebih baik, pendidikan akan menunda orang menikah, pendidikan membuat orang lebih bijak dan kritis serta pendidikan adalah keutamaan. Semua harus bersama-sama memperjuangkan pendidikan. memang segala hal dibumi ini butuh perjuangan dan tak jarang pengorbanan.
Diantara sepuluh responden yang saya tulis ada terselip 2 buah cerita lucu dari tokoh lain di luar responden, beliau adalah ibu Hajah solihin dan ibu Nyai Samirin. Dua ibu pengantar berkah dan suri tauladan yang baik.
Ceritanya akan mencari rumah bapak RT yang bernama bapak Samirin tapi salah seorang mas-mas salah menunjukkan kami rumah. Entah karena grogi atau karena niat mengerjai entahlah. Dirumah yang ternyata salah alamat kami sampai masuk dan minum teh karena hujan deras saat itu. Lalu kami memulai percakapan terkait benarkah ini rumah Bapak RT yaitu Pak Samirin tetapi ternyata salah dan kami tidak dijinkan pergi, kami diwajibkan makan sebelum pergi. Alhasil kamipun makan dengan rasa kikuk yang luar biasa. Satu yang menginspirasi dari ibu Hajah Solihin adalah beliau sama sekali tidak menaruh curiga pada kami, saat yang lain menaruh curiga seperti bapak-bapak pinggir jalan yang langsung lari saat kami hampiri hendak bertanya alamat. Bahkan beliau mengintip kami dari jendela rumahnya. Apa maksudnya kami bukan peminta sumbangan amal atau pencuri bersenjata hipnotis. Warung ibu hajah solihin selalu ditutup saat adzan luar biasa bukan. “Kalau di Indonesia itu tersesat jadi saudara(khususon desa nggih, kalau di kota enggak)”. Terimakasih
Selanjutnya adalah ibu nyai Solihin seorang istri dari bapak kyai yang mengajar ngaji di mushola setempat dan tokoh Nahdatul Ulama setempat. Ibu nyai sedang sare saat kami berkunjung rumah tampak kosong namun anehnya motor terparkir dengan kunci motor tergantung di motornya seolah menawarkan agar dibawa lari. Ada lagi satu motor yang lain dengan jok terbuka dan kunci ada pada motor itu. Ya seperti inilah kondisi umat yang iklas dan tak cinta akan dunia. Kami percaya bahwa apa yang diberikan dari orang berilmu adalah barokah. Kebahagiaan terbesar sebagai penutup hari itu adalah kami mendapat oleh-oleh dari ibu nyai yang kaya akan barokah dan juga kami mendapat kesempatan sowan pada beliau. Acara mencari data dirumah ibu nyai saya niatkan sowan dhateng tiyang ingkang kagungan ilmu. Mayoritas warga desa Larangan adalah NU dan NU-nya sangat kental. Nyaman dan teduh melihat cara warga desa ini beragama.
Dari letih ini aku semaikin yakin, aku harus terus belajar dan belajar terus. Termasuk belajar mensyukuri hidup dan belajar mengabdikan diri untuk pertiwi apapun jalan yang aku pilih nanti. Pak Ainun Najib berkata bahwa sekolahlah terus sampai kamu pintar dan teruslah sekolah sampai sekolah gagal membodohimu. Kita perlu tahu kenyataannya bukan hanya teorinya. Kita harus menggunakan pikiran kita untuk mencapai peradapan yang baik secara bersama-sama, bukan seorang diri. Kita adalah manusia, manusia adalah pikirannya selebihnya hanya tulang dan serat. Masihkan kita hidup hanya berjuang dan berkerja keras untuk memenuhi kebutuhan tulang dan serat saja. Tulang dan serat ini adalah sarana agar pikiran kita mendapatkan cahaya lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar