Selamat malam mantan calon masa depan yang kisahnya sempat
kita rangkai di masa SMA namun kini kamu hanya kenangan yang tak untuk diulang.
Dandiaku 2016, saat masa depan kami susun sebaik mungkin bagi kondisi kedua
belah pribadi. Saat kamu mengambil jurusan sesuai yang aku suka supaya kamu
selalu menjadi ideal bagiku, kamu kuliah lebih singkat dariku agar kita mampu
bersangding diumur yang aku targetkan. Iya ini aku dan ego target nikah mudaku.
Aku yang kuliah pendidikan untuk menjadi guru yang mulia dan senantiasa mampu
mendampingimu di rumah merawat putra-putrimu. Ya inilah kamu Dandiaku yang
pembahasannya jauh melampaui usia kita 2016.
Aku kepadamu Dandia telah berkhir ditahun 2016,
pamitnya aku kepada ibumu adalah pamitku dari duniamu karena bagiku seorang ibu
adalah dunia bagi setiap anaknya. Aku terlupa tanggal berapa itu, hari dimana
aku berada pada puncak ketidak adilanmu. Hari dimana kau menyerah dengan cara
diammu, gari dimana akalku berkerja setelah sekian lama aku kepadamu dengan
hati. Kala akal kembali memenuhi maka aku berada pada puncak merasa harus
menuntut hak kamu lepaskan sebagai sebelah dara yang siap terbang menjangkau
masa kisah baru yang lebih adil dan tanpa siksaan penantian tanpa tegur sapa.
Kalau malam menanya bagaimana kabar kasih sayangku
kepadamu, kasih ini masih ada masih peduli itu ada namun bukan tentang kamu
yang bersinggasana lagi. Dandiaku 2016 yang mengajarkanku ada pria selembut
dirimu, berperangai selembut sutera. Namun dingin bagai kutup, aku bukan
makhluk yang habitatnya dikutup, aku haru pindah dari suhumu.
Kepada kamu yang telah berlalu dua tahun dari hari
dimana aku menulis ini. Dari kamu yang dulu satu-satunya dan sampai sekarang
masih satu-satunya namun berbeda cerita. Dulu ceritanya kamu adalah
satu-satunya yang aku rindu dan bersama kamu aku pikirkan masa depan kita. Kini
kamu masih satu-satunya yang selalu aku lewatkan. Kisah kita sudah lewat bung, kamu satu satunya yang aku sebut
dengan lantang ya kamu mantan teman dekatku.
Tak ada kebencian pada hati saya kepadamu, aku masih
mampu memanggilmu kakak seperti saat kita menjabat bersama, aku masih bisa memanggilmu
Yas seperti saat awal aku mengerti
kamu, aku masih memanggilmu Pakdhe seperti
dalam drama akhir tahun kala itu, aku maih bisa memanggilmu Priyayi seperti
saat aku jatuh hati padamu, aku masih bisa memanggilmu Kapten seperti saat aku
berharap kamu menahkodai kehidupanku. Halah
ini kisah yang terlalu kekanak-kanakan bukan? Yas aku yakin kamu setuju kisah kita dulu sangat kekanak-kanakan.
Ini tentang saya yang membangun cerita baru yang lebih
adil bagi hatiku, membangun dengan Daniyalku 2018. Aku tidak bisa memanggilmu
mas, karena mas adalah caraku memanggil Daniyalku. Kamu Dandiaku 2016 adalah
buku lawasku yang berdebu di almari, siapa yang berkenan membukanya kembali? Teruntuk
Daniyalku 2018 adalah buku baru yang aku baca habis sampai akhir halamanmu dari
manisnya pagi sampai nikmatnya malam kamu aku baca dalam panjangnya masa
hidupku.
Pada akhirnya ini adalah closing letter dari peri cantikmu 2016
Selamat berlalu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar