Jumat, 10 November 2017

Dibawah langit Kota Jogja



“Aku selalu bahagia saat hujan turun karena aku selalu dapat mengenangmu...”. Tentang hujan dan tentang novel Hujan karya Tereliye, saat semua hal bersama Esok bagi Laily adalah saat hujan turun. Tentang nama Agam dalam novel Pulang dengan pengarang yang sama dan tentang latar belakangnya yang serupa dengan dirimu.  Sosok Agam yang andai saja kau tau, dialah ranah bacaanku.  Membaca novel menambah atmosfer melankolis pada diriku.  Agam yang terlahir dari titisan darah Tuanku Imam yang terhormat kemudian ditempa dalam kerasnya hidup bersama Tauke Besar  dalam kenistaan hingga namanya tersohor sebagai Si Babi Hutan yang apabila namanya disebut seluruh sektor perekomian gelap dunia akan bergetar. Sosok penguasa shadow ekonomi itu terasa telah menjelma pada sosok  guideku malam ini.
Langkah dua pasang sepatu coklat dibawah rintik hujan kota gudeg mengusung sebuah perasaan yang selaras. Perkenalan itu sangat natural. Sepatu mocca dibelakang mengikuti sepatu cream didepannya, aku berjalan menunduk dibawah tudung jaketku. Mengikuti langkah gagah pria didepanku,  seketika aku terkaget saat sepatu cream didepanku berhenti dan terdengar gelak tawa Agam. Dengan polos ku buka tudung jaket parasut yang menutup kepalaku dari rintik hujan Kota Jogja malam itu. Wajahnya yang tampan dialiri air hujan bercampur keringat menjadi pemandangan pertamaku, kemudian disusul oleh wajah garang satpam didepan pintu Hamza Batik Yogjakarta. Kita saling lihat wajah konyol kita malam itu, membungkuk dan keluar dari pagar hitam toko. Terus berjalan ditengah keramaian menuju stasiun kota, aku harus segera mendapatkan tiketku. Aku akan kembali pulang ke kampung halamanmu.  Karena kita lahir dari kampung halaman yang sama, sekitar dua jam yang lalu kita tau itu tanpa sengaja. Satu tiket berangkat 20 menit lagi, “mengapa tidak satu  jam lagi “pikirku dalam hati. Bahkan handphonenya masih dalam kondisi tanpa daya saat aku memasuki ruang tunggu kereta. Ada yang berat melepasmu, sampai jumpa dilain waktu. “Jangan lupakan aku”  bila harus terucap, karena tidak harus hanya tersimpan sampai gerbong kereta memaksaku semakin jauh darimu. Hanya lambaian tangan yang tampak dariku saat itu.
Aku duduk dihalte sebuah kampus ternama negeri ini, tempat masa laluku hilang bagai ditelan bumi. Kupandangi sekolah vokasi didepan mataku “Permisi Ibu ijin bertanya, sekolah vokasi yang ada didepan itu vokasi apa saja ya bu?” tanya ku pada seorang penjaga halte yang sudah bersiap hendak pulang. “Semua vokasi jadi satu ada disini mbak” jawab ibu itu sambil menata tasnya diikuti ucapan terima kasih dariku. Tak beberapa lama aku duduk dengan sahabatku, naiklah seorang pria bertopi. Dari kaos yang ia pakai dapat aku tahu dia adalah teman satu camp denganku, iya aku ingat dia satu kelompok saat Spiritual Reasoning dalam dua pagi terkhirku di camp ini. Aku ingat betul dengan sarung lengan berwarna hitam yang selalu ia pakai. Entah apa yang terucap antara kami bertiga. Kita menuju satu armada yang sama jalur 3A. Dalam Trans Jogja kita masih  bergurau tentang Purworejo yaitu sebuah kota kecil sebelah Kulon Progo. Purworejo never ending tresno slogan yang selalu jadi headline pamflet.
Setelah Ninda turun dari Trans Jogja tinggalah kami berdua dikotak besi itu, terjebak macet dan hujan. Ku tahu nama lengkapnya Agam Hussein. Percakapan cukup cair saat itu beruntung dia pandai mencairkan pembicaraan, diriku yang masih menyimpan kikuk. Dalam hatiku “semoga dia tidak tahu ini pertama kalinya aku jalan berdua dengan pria sepantaranku” aku biasa jalan berdua dengan ayahku. Dan ini juga pertama kalinya aku merasa senyaman ini dengan orang yang baru sekian menit aku kenal. Sambil menatap rintik hujan ditengah mendung dari jendela aku berpikir betapa konyol sore ini.
Turun dihalte 2 Malioboro tepat saat hujan mulai deras. Kita memaksa berjalan ditengah-tengahnya, menerobos hujan saat tak sendirian hujan ini sama sekali tak terasa dingin, tak terngiang kenangan pilu seperti yang biasa aku rasakan bersama hujan dibawah langit Kota Jogja. Sosok Agam berjalan disampingku dengan cara terbaiknya. Sepatu mulai basah saat rintik itu mungkin sudah berjumlah ribuan jatuh menerpa dua sosok manusia yang baru saja dinobatkan sebagai peacemaker. Langkah kaki Agam membawaku menuju sebuah masjid di area Malioboro dan melaksanakan sholat magrib. Sekat memisahkan kami berdua dan membebaskanku dari kikuk meski sesaat. Hujan tak kunjung berhenti hingga kami usai berdoa bersama senja. Belum lima menit sampai di pinggir jalan aku meringis tanpa ampun. “Amsong ini memalukan aku melupakan sesuatu” aku meringis jelek sekali. “Apa ? Ayo kembali ambil jika kau ambil nanti mungkin sudah tidak ada lagi” titah Raja. “Kasian dirimu ... tadi cukup jauh “ rasa bersalah dan tidak enak dihatiku. “Sudahlah .. aku ini kan laki-laki” sahut Agam sambil bertingkah seperti laki-laki paling gagah abad ini. “Laki atau perempuan sama saja punya dua kaki yang tau arti lelah, laki-laki tidak bisa terbangkan?” pembelaan gender saja, Sepanjang jalan tema kita berubah tentang persamaan gender.
Banyak yang kita lihat di sini mulai dari buku sampai pencerah gambar televisi, ya...ya... cowok memang lebih tertarik dengan hal yang unik. Hujan tak kunjung berhenti hingga kami basah, Agam mengajakku masuk sebuah mall, bukan untuk berbelanja tapi untuk berteduh. ”Knapa kesini?” pikirku dalam hati sambil terus memasuki mall dengan sepatu basah. Bercak sepatu kami pasti akan menambah kerjaan OB Ramayana malam ini. Sepertinya pria didepan saya ini hobby naik escalator, dia selalu bertanya “Naik lagi?” aku hanya berkata iya sampai pada lantai ketiga tidak untuk lantai empat. Aku tidak suka benda ini, aku suka naik tapi tidak turun dengan escalator. Sama sekali tidak menyenangkan entah kenapa bisa seperti itu.
“Sekaten” dia tourguide saya malam ini, baik sekali pria ini. Berputar-putar dipasar tradisional mencari sesuatu yang mungkin bisa menarik hati. Penjualan domestic yang pasti tidak melakukan sistem dalam bisnisnya terlihat bersemangat menawarkan apa yang ia jual.  Sepanjang jalan tanah berair, kami berdua melangkah menyisir jalan yang mulai becek menyambut hujan, sepatu kami merekam itu dengan baik. Suasana sederhana ini lebih saya suka dari pada jalan escalator mall. Meski disini saya tidak menemukan sesuatu yang memantulkan wajah centil Agam saat mencoba topi gunung. Wajahnya seperti bayi. Dalam kotak besi berjalur kusus aku terus teringat wajahnya, topi itu dan rambut gondrong bayangannya. Saat makan malam, aku tahu betul dia lapar berjalan terus, tapi tidak untukku aku terkenyang-kenyang oleh pertanyaan hatiku. Dengan siapa aku sedang berjalan, bercerita dan bercanda. Tepat ditengan jalan dibawah langit Kota Jogja dia berkata “aku adalah raja” aku hanya mengernyit dan menyeletup ”kau pengawal saya hari ini”. ” Perkara mengawal satu orang wanita itu urusan nanti, hari ini aku raja  karena raja itu pengawal rakyat” dengan tampang imut percaya diri sekali dia  bicara seperti itu. “Lalu maksudmu aku rakyatnya?” kita tertawa memudarkan dingin malam itu. Perjalanan yang menyenangkan makan tinggal makan tanpa perlu memesan, menyeberang sudah ada pelayan rakyat yang menyeberangkan, keamanan terjamin karena siapa berani menggoda wanita yang berjalan disamping raja, perjalanan sempurna saya. Dan berakhirlah sudah pertanyaanku “senja ini aku berjalan dengan seorang raja yang rakyatnya hanya satu”. Gerbong kereta yang kunaiki berhenti dangan segala dingin aku turun dan melangkahkan sisa tenaga menuju istana raja yang rakyatnya sudah dua. Raja yang namanya disave oleh Agam. Mereka adalah dua raja yang memperkenalkan diri kepadaku sampai kini. Salam untuk raja Agam dari kejauhan semoga kau pulang dengan pertanyaan siapa diriku.


Bersambung....












Tidak ada komentar:

Posting Komentar