“Aku
selalu bahagia saat hujan turun karena aku selalu dapat mengenangmu...”.
Tentang hujan dan tentang novel Hujan karya Tereliye, saat semua hal bersama
Esok bagi Laily adalah saat hujan turun. Tentang nama Agam dalam novel Pulang
dengan pengarang yang sama dan tentang latar belakangnya yang serupa dengan
dirimu. Sosok Agam yang andai saja kau
tau, dialah ranah bacaanku. Membaca novel
menambah atmosfer melankolis pada diriku. Agam yang terlahir dari titisan darah Tuanku
Imam yang terhormat kemudian ditempa dalam kerasnya hidup bersama Tauke Besar dalam kenistaan hingga namanya tersohor
sebagai Si Babi Hutan yang apabila namanya disebut seluruh sektor perekomian
gelap dunia akan bergetar. Sosok penguasa shadow
ekonomi itu terasa telah menjelma pada sosok
guideku malam ini.
Langkah
dua pasang sepatu coklat dibawah rintik hujan kota gudeg mengusung sebuah
perasaan yang selaras. Perkenalan itu sangat natural. Sepatu mocca dibelakang mengikuti sepatu cream didepannya, aku berjalan menunduk
dibawah tudung jaketku. Mengikuti langkah gagah pria didepanku, seketika aku terkaget saat sepatu cream didepanku berhenti dan terdengar gelak
tawa Agam. Dengan polos ku buka tudung jaket parasut yang menutup kepalaku dari
rintik hujan Kota Jogja malam itu. Wajahnya yang tampan dialiri air hujan
bercampur keringat menjadi pemandangan pertamaku, kemudian disusul oleh wajah
garang satpam didepan pintu Hamza Batik Yogjakarta. Kita saling lihat wajah
konyol kita malam itu, membungkuk dan keluar dari pagar hitam toko. Terus
berjalan ditengah keramaian menuju stasiun kota, aku harus segera mendapatkan
tiketku. Aku akan kembali pulang ke kampung halamanmu. Karena kita lahir dari kampung halaman yang
sama, sekitar dua jam yang lalu kita tau itu tanpa sengaja. Satu tiket
berangkat 20 menit lagi, “mengapa tidak satu jam lagi “pikirku dalam hati. Bahkan handphonenya masih dalam kondisi tanpa
daya saat aku memasuki ruang tunggu kereta. Ada yang berat melepasmu, sampai
jumpa dilain waktu. “Jangan lupakan aku” bila harus terucap, karena tidak harus hanya
tersimpan sampai gerbong kereta memaksaku semakin jauh darimu. Hanya lambaian
tangan yang tampak dariku saat itu.
Aku
duduk dihalte sebuah kampus ternama negeri ini, tempat masa laluku hilang bagai
ditelan bumi. Kupandangi sekolah vokasi didepan mataku “Permisi Ibu ijin
bertanya, sekolah vokasi yang ada didepan itu vokasi apa saja ya bu?” tanya ku
pada seorang penjaga halte yang sudah bersiap hendak pulang. “Semua vokasi jadi
satu ada disini mbak” jawab ibu itu sambil menata tasnya diikuti ucapan terima
kasih dariku. Tak beberapa lama aku duduk dengan sahabatku, naiklah seorang
pria bertopi. Dari kaos yang ia pakai dapat aku tahu dia adalah teman satu camp
denganku, iya aku ingat dia satu kelompok saat Spiritual Reasoning dalam dua
pagi terkhirku di camp ini. Aku ingat betul dengan sarung lengan berwarna hitam
yang selalu ia pakai. Entah apa yang terucap antara kami bertiga. Kita menuju
satu armada yang sama jalur 3A. Dalam Trans Jogja kita masih bergurau tentang Purworejo yaitu sebuah kota
kecil sebelah Kulon Progo. Purworejo never
ending tresno slogan yang selalu
jadi headline pamflet.
Setelah
Ninda turun dari Trans Jogja tinggalah kami berdua dikotak besi itu, terjebak
macet dan hujan. Ku tahu nama lengkapnya Agam Hussein. Percakapan cukup cair
saat itu beruntung dia pandai mencairkan pembicaraan, diriku yang masih
menyimpan kikuk. Dalam hatiku “semoga dia tidak tahu ini pertama kalinya aku
jalan berdua dengan pria sepantaranku” aku biasa jalan berdua dengan ayahku.
Dan ini juga pertama kalinya aku merasa senyaman ini dengan orang yang baru
sekian menit aku kenal. Sambil menatap rintik hujan ditengah mendung dari
jendela aku berpikir betapa konyol sore ini.
Turun
dihalte 2 Malioboro tepat saat hujan mulai deras. Kita memaksa berjalan
ditengah-tengahnya, menerobos hujan saat tak sendirian hujan ini sama sekali
tak terasa dingin, tak terngiang kenangan pilu seperti yang biasa aku rasakan
bersama hujan dibawah langit Kota Jogja. Sosok Agam berjalan disampingku dengan
cara terbaiknya. Sepatu mulai basah saat rintik itu mungkin sudah berjumlah
ribuan jatuh menerpa dua sosok manusia yang baru saja dinobatkan sebagai peacemaker. Langkah kaki Agam membawaku
menuju sebuah masjid di area Malioboro dan melaksanakan sholat magrib. Sekat
memisahkan kami berdua dan membebaskanku dari kikuk meski sesaat. Hujan tak
kunjung berhenti hingga kami usai berdoa bersama senja. Belum lima menit sampai
di pinggir jalan aku meringis tanpa ampun. “Amsong ini memalukan aku melupakan
sesuatu” aku meringis jelek sekali. “Apa ? Ayo kembali ambil jika kau ambil
nanti mungkin sudah tidak ada lagi” titah Raja. “Kasian dirimu ... tadi cukup
jauh “ rasa bersalah dan tidak enak dihatiku. “Sudahlah .. aku ini kan
laki-laki” sahut Agam sambil bertingkah seperti laki-laki paling gagah abad
ini. “Laki atau perempuan sama saja punya dua kaki yang tau arti lelah,
laki-laki tidak bisa terbangkan?” pembelaan gender saja, Sepanjang jalan tema
kita berubah tentang persamaan gender.
Banyak
yang kita lihat di sini mulai dari buku sampai pencerah gambar televisi, ya...ya...
cowok memang lebih tertarik dengan hal yang unik. Hujan tak kunjung berhenti hingga
kami basah, Agam mengajakku masuk sebuah mall, bukan untuk berbelanja tapi
untuk berteduh. ”Knapa kesini?” pikirku dalam hati sambil terus memasuki mall
dengan sepatu basah. Bercak sepatu kami pasti akan menambah kerjaan OB Ramayana
malam ini. Sepertinya pria didepan saya ini hobby
naik escalator, dia selalu bertanya “Naik lagi?” aku hanya berkata iya sampai
pada lantai ketiga tidak untuk lantai empat. Aku tidak suka benda ini, aku suka
naik tapi tidak turun dengan escalator. Sama sekali tidak menyenangkan entah kenapa
bisa seperti itu.
“Sekaten”
dia tourguide saya malam ini, baik
sekali pria ini. Berputar-putar dipasar tradisional mencari sesuatu yang
mungkin bisa menarik hati. Penjualan domestic yang pasti tidak melakukan sistem
dalam bisnisnya terlihat bersemangat menawarkan apa yang ia jual. Sepanjang jalan tanah berair, kami berdua
melangkah menyisir jalan yang mulai becek menyambut hujan, sepatu kami merekam
itu dengan baik. Suasana sederhana ini lebih saya suka dari pada jalan
escalator mall. Meski disini saya tidak menemukan sesuatu yang memantulkan
wajah centil Agam saat mencoba topi gunung. Wajahnya seperti bayi. Dalam kotak
besi berjalur kusus aku terus teringat wajahnya, topi itu dan rambut gondrong
bayangannya. Saat makan malam, aku tahu betul dia lapar berjalan terus, tapi
tidak untukku aku terkenyang-kenyang oleh pertanyaan hatiku. Dengan siapa aku
sedang berjalan, bercerita dan bercanda. Tepat ditengan jalan dibawah langit
Kota Jogja dia berkata “aku adalah raja” aku hanya mengernyit dan menyeletup ”kau
pengawal saya hari ini”. ” Perkara mengawal satu orang wanita itu urusan nanti,
hari ini aku raja karena raja itu
pengawal rakyat” dengan tampang imut percaya diri sekali dia bicara seperti itu. “Lalu maksudmu aku
rakyatnya?” kita tertawa memudarkan dingin malam itu. Perjalanan yang
menyenangkan makan tinggal makan tanpa perlu memesan, menyeberang sudah ada
pelayan rakyat yang menyeberangkan, keamanan terjamin karena siapa berani
menggoda wanita yang berjalan disamping raja, perjalanan sempurna saya. Dan
berakhirlah sudah pertanyaanku “senja ini aku berjalan dengan seorang raja yang
rakyatnya hanya satu”. Gerbong kereta yang kunaiki berhenti dangan segala
dingin aku turun dan melangkahkan sisa tenaga menuju istana raja yang rakyatnya
sudah dua. Raja yang namanya disave
oleh Agam. Mereka adalah dua raja yang memperkenalkan diri kepadaku sampai
kini. Salam untuk raja Agam dari kejauhan semoga kau pulang dengan pertanyaan
siapa diriku.
Bersambung....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar