Sabtu, 20 Januari 2018

Pohon Kelapa Cabang Tiga



Gerombolan siswi EsEmKa Akuntansi sedang asik mengerumpikan guru olahraga yang paling muda dan freshgraduate dari Universitas Negeri Yogyakarta. Guru yang bikin geregetan karena polahnya yang calm dan cuek membuat hasrat ganjen para siswi ABG ini mencuat. Bel masuk pun mengakhiri rumpi bersambung episode pagi ini. Saat kami menyadari salah satu teman kami Rudi tidak masuk sekolah, suasana menjadi penuh tanya kemana murid rajin itu. Apa bus nya ngetime seperti biasa?. Bu Ani wali kelas kami masuk kelas dengan sepucuk surat duka. Seduka wajah beliau yang memang sehari-harinya tidak pernah tersenyum. Mungkin mama muda ini punya masalah dengan suaminya. Atau sebenarnya beliau dulu terpaksa mengambil jurusan matematika, mungkin harusnya jurusan seni tari prodi manekin challengs.
Bicara duka itu erat kaitannya dengan kesakitan atau kehilangan. Kami semua kelilangan seorang kakak. Meski kami tidak mengenal kakak Rudi tetapi kami ikut tahu rasanya kehilangan dan sedih yang Rudi rasakan. Anak laki-laki tengah dari sembilan bersaudara itu meninggal semalam karena kecelakaan saat dibonceng motor oleh sahabatnya untuk jalan-jalan sore dimalam hari. Kami mengerti Rudi pasti sangat kehilangan kakaknya apalagi jarak usia mereka tidak jauh. Pasti lelaki bersaudara itu kerap bertukar otot dan bertukar cakap tentang sesuatu yang nggak penting.
Selepas sekolah kami takziyah ke keluarga Rudi dengan membawa rombongan empat motor. Kami berlaku bak orang dewasa yang berduka atas wafatnya saudara seiman. Namun ya beginilah adanya topeng kami hanya sesaat. Semua berubah gelak tawa menghibur Rudi saat rombongan tamu yang sebelumnya datang sudah pulang. Bercandaan kami tak akan lah gurih kalau tidak ada yang di bully diantara kami. Menjadi objek langganan bullyan untuk kelas ini barang kali telah menjadi ahli surga karena setiap waktu pengorbanannyalah yang membuat orang lain tertawa.
Malam ini tepat satu minggu aku berada dirumah, dikampung halaman yang aku rindukan selalu hijaunya. Ini yang membedakan kota dan desa. Di desa hijaunya alami, hijau dedaunan yang menari tersenggol angin senja yang agresif. Namun dikota hijaunya hanyalah hijau cat gedung atau background spanduk promosi perbankan syariah dijalanan utama kota. Percuma hijau yang itu tidak menghasilkan oksigen yang menyejukkan. Kota yang semakin panas tapi juga semakin cepat aliran uangnya. Maka pantaslah mereka berbondong-bondong kekota dengan karung kosong berharap akan mengisinya dengan hijau uang ketika pulang kampung. Terkadang tak sadar bahwa kota sendiri sudah punya lumbung terluas didunia untuk menyimpan uang rakyat. Yaps  tepat yaitu diperut buncit para pejabat. Jangan heran ketika kau pulang karung masih kosong dari uang hanya berisi tinja bau kemaksiatan.
Tak disangka sudah hampir tiga  tahun lalu setelah kematian kakak Rudi. Aku teringat dua buah pohon kelapa bercabang tiga yang ada dihalaman rumah Rudi. Pohon kelapa yang aku herankan dan membuatku dikatakan ndeso karena aku terheran oleh fenomena ini. Ya maklum baru pertama kali melihatnya. Kusampaikan pada ibuku yang juga baru kali ini mendengar dariku. Kita terus berdebat karena ibuku tidak percaya akan  apa yang aku lihat.
Suatu pernyataan harus valid dan terbukti kebenarannya, lalu aku hubungi Rudi sebagai pihak yang bersangkutan. Kutanyakan akan Rudi menguatkan pendapatku tentang pohon kelapa cabang tiga itu.
“oh iya ada dua pohon yang saya tahu cabang tiga dan cabang tujuh, iya memang itu keanehan tapi adanya ditempat PakDhe ditempatku tidak ada. Itu di Desa Dudu Kulon, Kecamatan Grabag, Kabupaten Purworejo. Pohon kelapa yang bercabang biasanya banyak cerita mistisnya” begitu Rudi menjelaskan pertanyaanku.
Rud, bagaimana bisa? Aku melihatnya didepan rumahmu dua buah pohon kelapa bercabang tiga. Saat itu bahkan aku katakan ini lucu bisa buat icon wisata lalu kau terbahak. Katamu di Munggangsri desamu itu kelapa cabang tiga sudah biasa kau mengatakan aku ndeso, ingatkan Rud?” aku mendesak Rudi untuk mengingat apa yang aku ingat. Setelah adu keyakinan ingatan selama lebih kurang tiga puluh menit aku tidak dapat memaksa Rudi membenarkan aku melihat pohon kelapa cabang tiga itu dihalaman rumah Rudi. Bahkan aku konfirmasi pada Anika sababatku yang lain yang baru delapan belas Januari kemarin berusia dua puluh tahun. Dan doa utamanya adalah cerahkanlah jodohnya beritahu dimana letaknya.
Awalnya aku pikir Rudi hanya mencoba mengalihkan topik agar aku mebahas mengenai seseorang yang biasa kami sebut PakDhe atau hanya sekedar ingin aku menanyakan itu pada PakDhe saja. Karena dia memang teman yang baik. Dia menjagakan apa yang menurutnya untuk sahabatnya. Mungkin dia berpikir kalau saya bertanya pada PakDhe itu akan mendekatkan kami padahal itu bukan lagi kebutuhan dan bukan lagi kebahagian bagi kami. Ibarat grammar itu pasttense.
Masih teringat jelas dimemoriku bagaimana Rudi menjaga aib sahabatnya terhadapku yang saat itu sedang dikabarkan dekat. Saya tahu sebagai teman dia ingin aku dapat yang baik. Namun ia juga ingin menjaga aib sahabatnya. Dan dia lebih memilih menjaga aib sahabatnya meski mereka sebenarnya tidak terlihat akur.
“Kamu pernah lihat biografinya mer?” tanya Rudi dengan ragu. Rudi dan kawan SMK memang punya panggilan tersendiri untuk ku. Panggilan yang dibuat oleh wali kelas ku saat dibangku kelas X.
Belum, Aku balik melihatnya. Padahal aku tahu apa arah bicaranya meski memang aku tidak pernah liat biografinya.
Saat aku kembali menatap komputer perpustakaan dia menatapku iba, aku tahu apa yang membuatnya iba. Tapi aku iklas soal masalah itu. Kemudian Rudi melanjutkan pekerjaannya dan fokus pada komputer sambil menahan beban pikiran yang tak bisa ia katakan tadi. Disampingnya aku hanya menghela napas dan berterima kasih ia tidak menyampaikan padaku aib sahabatnya. Aib dia yang disana yang tentunya saya sudah tahu aib itu.
Hari itu mengajarkanku bahwa pria ambisius seperti Rudi pun mampu menjaga aib orang lain. Saya kira semua pria ambisius itu egois. Terima kasih untuk pelajarannya hari ini. Semoga sukses selalu meyertaimu.
Kembali kepada mistis. Apa saat aku melihat dua pohon itu dihalaman rumah Rudi dan aku bahkan mengingat jelas ceritanya setelah tiga tahun berlalu tapi tidak ada yang ingat pohon itu. Sang pemilik rumah juga tidak membenarkan bahwa pohon itu ada dihalamanya. Justru pohon itu ada ditempat lain. Apakah ini bukti mistisnya jujur saja saya sedikit merinding karena memori pohon menakjuban itu masih dilaman Rudi dalam bayanganku. Tapi kondisi sesungguhnya tidak terjadi.










Jumat, 19 Januari 2018

Perempuan dan Hiasan



Selamat malam kota kelahiran,
Tulisan ini muncul bersamaan dengan kegelisahan akan rekan-rekan saya yang saat ini di perantauan. Dahulu kami berteman dengan siapa saja, bercanda dan tertawa bersama. Namun kini beberapa meninggalkan sesrawungan bersama rekannya karena kami dinilai tidak sesuai ajaran barunya. Setelah lama berpisah sibuk dengan kegiatan masing-masing didaerah rantau. Mendalami agama yang didakwahkan disana. Berteman dengan teman disana yang tentunya punya gaya tersendiri dalam menambah keimanan dan bisa jadi hanya bagaimana caranya bertambah terlihat beriman. Dan yang paling ngeri adalah banyak yang belajar mendalami agama melalui akun instagram. Terpengaruh pada dakwah-dakwah yang begitu membaperkan.
Dakwah itu sangat baik, instagram sebagai akun dakwah juga baik. Ya kita tahulah kids zaman now paling bisa dijangkau dengan instagram. Baik yang berdakwah maupun si korban dakwah nggak salah menggunakan instagram sebagai alternatif dakwah. Dalam akun dakwah yang saya baca dan sempat saya ikuti atau hanya saya lihat apa si postingan terbarunya. Sebenarnya banyak kebaikan yang disampaikan mulai dari tuntunan dzikir, mengingatkan baca Al-Kahfi, perintah menutup aurat, dll. Namun scroll by scroll ke bawah lhoh kok banyakkan bujukan nikahnya dari pada dakwahnya. Banyakkan video baperisasinya dari pada dakwahnya. Jadi nggak respect lagi saya.
Nikah dan baper-baperannya itu bikin perempuan melayang terbang dalam hayalan pernikahan nan indah. Yang akhirnya bikin perempuan cepet ngebet dinikah, padahal hanya karena baper aja. Banyak geli dan protesnya sih ya kalau sudah membahas yang menyangkut perempuan. Biasanya si akun ini akan berlebihan dalam menyanjung perempuan yang sangat tertutup dan tidak pernah mengenal lelaki selain ayahnya hehehe. Waw luar biasa. “Sebaik-baik perhiasan dunia adalah perempuan sholehah”. Iya saya setuju banget tuh. Tapi ada tapi nya nih. Saya mulai nggak setuju dan nggak setujunya juga pakai banget ketika kata-katanya berubah jadi gini “sebaik-baik hiasan dunia adalah perempuan sholehah”. Duh aku pikir-pikir kok jadi berubah ya kata-katanya. Beda kata beda makna juga. Perhiasan okelah ya sesuatu yang berharga, bernilai dan mulia (emas, permata berlian). Kalau hiasan apaan ni? Masak ya hiasan ya kali hidup kita sebagai perempuan hanya sebagai hiasan. Apa dong maknanya? kita hidup Cuma jadi keindahan untuk lelaki, hanya jadi pandangan, dipajang,dan bisa jadi koleksi (lukisan, guci, boneka, miniatur,keramik). Eh bisa jadi untuk digantungin dan dianggurin juga ya? Wkkwkwkwkw.
Top two yang bikin aku semakin geli adalah ketika dakwahnya tentang buru-buru nikah muda banget, muda banget loh ya. Kalau nikah umur 23 ke atas masih muda si tapi nggak masalah minimal sudah lulus kuliah dan sudah kerja dengan sedikit tabungan. Dan kalau orang tua juga sudah oke aja. Jadi alasan utama nikahnya bukan karena udah kebelet nikah atau kasarnya sudah kebelet seks lah ya. Karena nikah itu bukan hanya untuk menghalalkan seks semata, tapi untuk menjaga prinsip dan saling mendampingi supaya hidup ini lebih indah karena berbagi suka duka. Maka dari itu menikah bukan hanya perlu kesiapan fisik tapi juga mental yang dewasa untuk membangun pernikahan itu.
Kebaperan semakin pekat karena ada role model yang keren banget untuk dakwah nikah muda ini. Tapi coba pikir lagi dan lihat kenyataan. Kak Alvin dan pasangannya serta kak Natta Reza dan pasangannya (kenal dong pastinya), mereka memang nikah muda tapi mereka sudah punya bisnis yang siap mengalirkan pendanaan kerumah tangganya dan juga travellingnya yang bikin kalian baper itu kan. Nah pertanyaannya apakah kamu-kamu yang kebelet nikah sudah punya bisnis kaya gitu? Jangan-jangan malah kuliah aja numpang biaya orang tua. Ya nggak salah kuliah numpang biaya orang tua, yang salah adalah kuliah numpang biaya orang tua dan kuliahnya cuma buat mikirin nikah gara-gara salah cerna akun dakwah. Lagian ya role modelnya akun dakwah nikah itu juga sambil promosi produk mereka, nah loe apa ? korbannya aja, kan jadi konsumennya belum mampu. Lupa ya kuliah aja pake biaya orang tua?
Puncak kegelian saya adalah ketika ada dakwah begini “ketika anak menunjukkan tanda-tanda ingin menikah maka segerakanlah nikahnya”. Bener nggak? Bener dong. Tetapi gawatnya makna menikah disini dipikir sempit sama remaja alay (bukan anak layangan). Remaja baper berpikir bahwa bahwa tanda-tanda nikah yang dimaksud hanya sebatas aku suka kamu dan adanya dorongan seks. Jadi kalau anak sudah menunjukkan adanya dorongan seks dan mulai suka-sukaan maka nikahkanlah. Ya kelar dong masa depan. Ada dorongan seks ya dimulai pas anak balig atau ABG dan anak sekarang yang bergizi tinggi pada puber umur 12-14 tahun. Kalau umur segitu suka sama teman sekelasnya terus di nikah ya mau apa jadinya negeriku tercinta. Mau bikin pernikahan  bonsai? Mini-mini udah pada nikah ya wkwkwkwkwk(guweketawalimakali).
Gini ya guysku yang baik, semua akan indah pada waktunya kalau kamu bisa menikmati momentnya dengan tepat. Kamu muda waktunya berkarya supaya semua akan sukses pada waktunya. Begitu juga soal cinta kamu masih terlalu muda buat menikah ya makanya fokus pada apa yang kamu jalanin sekarang. Kita punya orang tua yang setiap saat curahkan doa dan cinta buat kita. Makanya kita serahkan cinta dan doa-doa kita juga buat mereka, nanti ada waktnya Tuhan akan kirim pasangan yang cinta kamu apa adanya dan saling menyempurnakan. Dan waktunya adalah saat kamu udah dewasa. Semua bisa gagal indah kalau mudamu yang sekarang ini justru kamu gunakan untuk mikirin nikah mulu..... ;-D. Apalagi untuk mencintai dia yang belum ada statusnya atau sekedar menyebutnya dalam doa(kaya yang didakwahkan akun sebelah) yang kaya gitu yang kamu andalkan sampai kamu lupa doain orang tuamu. Barang kali doa orang tuamu supaya dapat menantu solehah yang lebih terkabul dari pada doa kamu. Makanya seringlah berdao supaya doa orang tua terkabul. Karena pasti di doa ayah ibu teman-teman pasti ada doa untuk kesuksesanmu. Begitukan lebih enak daripada kecil kecil kebelet nikah.
Jadi kesimpulannya adalah perempuan bukanlah sebatas hiasan yang dipajang,dipandang dinikmati atau bahkan dikoleksi. Tapi dia perempuan akan jadi perhiasan, sesuatu yang bernilai, indah, dan mengagumkan ketika ia berkarya dan menebar kebermanfaaatan. Lagi pula peran perempuan tidak sesempit itu hanya berperan untuk menjadi istri bagi suaminya. Pertama kali kita lahir kita adalah individu yang harus menciptakan makna diri kita sendiri didunia ini, setelah itu kita adalah seorang anak yang harus membahagiakan dan membanggakan orangnya, kita adalah bagian dari masyarakat yang harus bersama-sama membangun masyarakat, kita adalah warna negara yang harus tahu apa yang negara butuhkan dari sosoknya sebagai perempuan, kita adalah istri yang mendampingi bukan semata-mata mengabdi. Kita adalah ibu, suri tauladan bagi penerus bangsa tempat mengadu dan kedamaian bagi sekitarnya. Maka tak salah kiranya jika tulisan ini terbit juga karena tulisan kawan saya “jika ingin mendidik bangsamu maka  didiklah perempuan negerimu”. Thanks to A-Je.
Sekian dan salam kejayaan untuk Kartini modern Indonesia.







Selasa, 09 Januari 2018

Peran Intelektual




“Intelektual” apa yang ada dipikiran teman-teman saat mendengar kata intelektual? Dalam benak saya intelektual adalah terkait dengan kecerdasan dan kaum terpelajar, saat saya bertanya kepada rekan satu kamar saya apa yang ada dipikirannya tentang intelektual maka jawabannya ada kecerdasan dan kaum terpelajar. Kenyataannya ada makna yang berbeda dengan yang saya pahami tentang intelektual. Menurut KKBI intelektual adalah Cendekiawan atau  intelektual ialah orang yang menggunakan kecerdasannya untuk bekerja, belajar, membayangkan, mengagas, atau menyoal dan menjawab persoalan tentang berbagai gagasan. Menurut Edward W Said Intelektual adalah pencipta sebuah bahasa yang mengatakan yang benar kepada yang berkuasa. Atau dalam pemahaman saya bahwa intelektual adalah keberanian mengungkapkan kebenaran yang tidak sesuai dengan kehendak penguasa serta menentang kebijakan yang tidak merepresentasikan keadilan.
Intelektual adalah saat pengetahuan yang kuat dan mendalam berpadu dengan kebebasan untuk berani membela kebenaran itu meski itu menentang penguasa. Intelektual berkaitan dengan seni berbicara untuk menyampaikan kebenaran dan sesuatu yang ia yakini benar. Seorang intelektual mengatakan apa yang dianggapnya benar entah sesuai atau tidak dengan pikiran-pikiran penguasa. Lebih pada oposisi (penentang dan pengkritik kebijakan) dari pada akomodasi(upaya untuk menyesuaikan diri).
Kaum intelektual adalah manusia yang mau membela kebenaran dengan segala resikonya. Kaum intelektual lebih memihak kepada pihak yang tertindas dan dirugikan. Bagi Edward Said dosa paling besar bagi seorang intelektual adalah apabila ia tahu apa yang seharusnya dikatakan tetapi menghindari mengatakannya.  Seorang yang menyatakan diri sebagai kaum intelektual tidak akan pernah mau mengabdi kepada penguasa yang tidak tahan kritik dan anti perubahan. Karena sesungguhnya perubahan harus selalu ada ketika pemikiran manusia terus berkembang.
Intelektual mencakup kebeneran dalam berbagai bidang, bukan saja dalam bidang pemerintahan. Saat intelektual menyentuh agama misalnya, para intelektual selalu berada dalam resiko dicurigai, bahkan dicaci-maki, kalau tidak disingkirkan atau masuk dalam bahaya dimusnahkan oleh para fanatik dalam agamanya sendiri yang tidak tahan terhadap pertanyaan-pertanyaannya yang mengancam paham sempit mereka. Semisal para intelektual muslim yang mengkritik dan menghadapkan islam pada tantangan minoritas non islam, hak perempuan dan emansipasi wanita, modernitas, serta manusiawi dan reevaluasi jujur tentu akan dicurigai dan ditentang oleh pihak berpaham sempit yang hanya mengabdi pada dogma yang telah ada sebelumnya.
Kaum intelektual berkarya sastra bukan untuk merekonsiliasikan manusia dengan lingkungannya atau yang mendorong mereka lari dari kehidupan nyata. Sastra jangan menjadi obat penawar tetapi menjadi sesuatu yang mengusik, sebuah katalis yeng mendorong orang merubah dunia tempat ia hidup sekaligus merubah diri sendiri. Sastra yang mendorong orang untuk menciptkan perubahan adalah sastra yang cerdas. Dan keinginan akan perubahan itu dapat dimunculkan setelah adanya pemikiran kritis terhadap keadaan.
Intektual bukan sebatas pada makna kaum terdidik saja, karena intektual mencela apa yang disebut kaum cendekia yang hanya suka bersolek dan menyuburkan diri sendiri kemudian memilih diam demi kehati-hatian. Mencela cendekia yang tau kebeneran tapi hanya diam demi keamanan diri pribadi dari segala resiko tindakan intelektual. Sebagai mahasiswa yang juga bagian dari kaum intelektual sudahkan kita melakukan peran intelektual yang sudah Tuhan amanahkan pada diri kita? Perlu memasang cermin didepan kaum intelektual supaya mereka melihat diri mereka yang sebenarnya.
            Peran intelektual Di Indonesia di jalankan oleh oleh kaum cendekia karena mereka yang ada pada tempatnya tidak berkerja atas penempatannya tapi berkerja untuk mengamankan tempatnya( mempertahankan jabatannya semata bukan beraspirasi untuk rakyat ). Teman-teman perhatikan pada berbagai media informasi semisal koran yang beredar Di Indonesia sebagian besar didominasi oleh headline berupa kritik seorang profesor atau master tertentu terkait isu politik. Mengapa demikian karena Indonesia telah kehilangan demokrasinya.
Demokrasi kita? Benarkah demokrasi ? Demokrasi yang tidak ada pihak oposisi, kebebasan yang bertanggungjawab, dan pendapat politisi yang memihak pemerintah sudah diketahui sebelumnya. MPR yang seharusnya menjadi wadah kedaulatan rakyat, kenyataannya setengah dari mereka dipilih oleh pemerintah. Dalam sidang MPR yang hanya lima tahun sekali tidak ada pertentangan atas kebijakan yang ditetapkan pemerintah. Seolah kebijakan pemerintah sudah sedemikian  sempurnanya. Seolah meraka buta akan kegelisahan dan penderitaan rakyat dalam kebijakan itu. Jika benar kebijakan itu sudah benar dan tepat mengapa rakyat masih menderita sampai saat ini. Ketimpangan dan ketidak adilan terjadi disana-sini. Benarkan demokrasi berjalan disini? Sebuah demokrasi yang tidak boleh menangtang pemerintah? Masihkan itu disebut  demokrasi?
Di Indonesia kaum intelektual menempatkan diri sebagai oposisi (pihak penentang kebijakan yang tidak tepat) kaum cendekia yang kritik perlu meningkatkan kebebasannya untuk berani mengkritik kebijakan pemerintah. Mahasiswa ambil bagian disini sebagai pengontrol kebijakan pemerintah. Berhentilah menjadi mahasiswa yang apatis mulailah untuk peduli karena perubahan ada ditangan kita. Mahasiswa dengan perannya sebagai agent of changes.


Said, Edward. 2014. Pearan Intelektual. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.