Jumat, 19 Januari 2018

Perempuan dan Hiasan



Selamat malam kota kelahiran,
Tulisan ini muncul bersamaan dengan kegelisahan akan rekan-rekan saya yang saat ini di perantauan. Dahulu kami berteman dengan siapa saja, bercanda dan tertawa bersama. Namun kini beberapa meninggalkan sesrawungan bersama rekannya karena kami dinilai tidak sesuai ajaran barunya. Setelah lama berpisah sibuk dengan kegiatan masing-masing didaerah rantau. Mendalami agama yang didakwahkan disana. Berteman dengan teman disana yang tentunya punya gaya tersendiri dalam menambah keimanan dan bisa jadi hanya bagaimana caranya bertambah terlihat beriman. Dan yang paling ngeri adalah banyak yang belajar mendalami agama melalui akun instagram. Terpengaruh pada dakwah-dakwah yang begitu membaperkan.
Dakwah itu sangat baik, instagram sebagai akun dakwah juga baik. Ya kita tahulah kids zaman now paling bisa dijangkau dengan instagram. Baik yang berdakwah maupun si korban dakwah nggak salah menggunakan instagram sebagai alternatif dakwah. Dalam akun dakwah yang saya baca dan sempat saya ikuti atau hanya saya lihat apa si postingan terbarunya. Sebenarnya banyak kebaikan yang disampaikan mulai dari tuntunan dzikir, mengingatkan baca Al-Kahfi, perintah menutup aurat, dll. Namun scroll by scroll ke bawah lhoh kok banyakkan bujukan nikahnya dari pada dakwahnya. Banyakkan video baperisasinya dari pada dakwahnya. Jadi nggak respect lagi saya.
Nikah dan baper-baperannya itu bikin perempuan melayang terbang dalam hayalan pernikahan nan indah. Yang akhirnya bikin perempuan cepet ngebet dinikah, padahal hanya karena baper aja. Banyak geli dan protesnya sih ya kalau sudah membahas yang menyangkut perempuan. Biasanya si akun ini akan berlebihan dalam menyanjung perempuan yang sangat tertutup dan tidak pernah mengenal lelaki selain ayahnya hehehe. Waw luar biasa. “Sebaik-baik perhiasan dunia adalah perempuan sholehah”. Iya saya setuju banget tuh. Tapi ada tapi nya nih. Saya mulai nggak setuju dan nggak setujunya juga pakai banget ketika kata-katanya berubah jadi gini “sebaik-baik hiasan dunia adalah perempuan sholehah”. Duh aku pikir-pikir kok jadi berubah ya kata-katanya. Beda kata beda makna juga. Perhiasan okelah ya sesuatu yang berharga, bernilai dan mulia (emas, permata berlian). Kalau hiasan apaan ni? Masak ya hiasan ya kali hidup kita sebagai perempuan hanya sebagai hiasan. Apa dong maknanya? kita hidup Cuma jadi keindahan untuk lelaki, hanya jadi pandangan, dipajang,dan bisa jadi koleksi (lukisan, guci, boneka, miniatur,keramik). Eh bisa jadi untuk digantungin dan dianggurin juga ya? Wkkwkwkwkw.
Top two yang bikin aku semakin geli adalah ketika dakwahnya tentang buru-buru nikah muda banget, muda banget loh ya. Kalau nikah umur 23 ke atas masih muda si tapi nggak masalah minimal sudah lulus kuliah dan sudah kerja dengan sedikit tabungan. Dan kalau orang tua juga sudah oke aja. Jadi alasan utama nikahnya bukan karena udah kebelet nikah atau kasarnya sudah kebelet seks lah ya. Karena nikah itu bukan hanya untuk menghalalkan seks semata, tapi untuk menjaga prinsip dan saling mendampingi supaya hidup ini lebih indah karena berbagi suka duka. Maka dari itu menikah bukan hanya perlu kesiapan fisik tapi juga mental yang dewasa untuk membangun pernikahan itu.
Kebaperan semakin pekat karena ada role model yang keren banget untuk dakwah nikah muda ini. Tapi coba pikir lagi dan lihat kenyataan. Kak Alvin dan pasangannya serta kak Natta Reza dan pasangannya (kenal dong pastinya), mereka memang nikah muda tapi mereka sudah punya bisnis yang siap mengalirkan pendanaan kerumah tangganya dan juga travellingnya yang bikin kalian baper itu kan. Nah pertanyaannya apakah kamu-kamu yang kebelet nikah sudah punya bisnis kaya gitu? Jangan-jangan malah kuliah aja numpang biaya orang tua. Ya nggak salah kuliah numpang biaya orang tua, yang salah adalah kuliah numpang biaya orang tua dan kuliahnya cuma buat mikirin nikah gara-gara salah cerna akun dakwah. Lagian ya role modelnya akun dakwah nikah itu juga sambil promosi produk mereka, nah loe apa ? korbannya aja, kan jadi konsumennya belum mampu. Lupa ya kuliah aja pake biaya orang tua?
Puncak kegelian saya adalah ketika ada dakwah begini “ketika anak menunjukkan tanda-tanda ingin menikah maka segerakanlah nikahnya”. Bener nggak? Bener dong. Tetapi gawatnya makna menikah disini dipikir sempit sama remaja alay (bukan anak layangan). Remaja baper berpikir bahwa bahwa tanda-tanda nikah yang dimaksud hanya sebatas aku suka kamu dan adanya dorongan seks. Jadi kalau anak sudah menunjukkan adanya dorongan seks dan mulai suka-sukaan maka nikahkanlah. Ya kelar dong masa depan. Ada dorongan seks ya dimulai pas anak balig atau ABG dan anak sekarang yang bergizi tinggi pada puber umur 12-14 tahun. Kalau umur segitu suka sama teman sekelasnya terus di nikah ya mau apa jadinya negeriku tercinta. Mau bikin pernikahan  bonsai? Mini-mini udah pada nikah ya wkwkwkwkwk(guweketawalimakali).
Gini ya guysku yang baik, semua akan indah pada waktunya kalau kamu bisa menikmati momentnya dengan tepat. Kamu muda waktunya berkarya supaya semua akan sukses pada waktunya. Begitu juga soal cinta kamu masih terlalu muda buat menikah ya makanya fokus pada apa yang kamu jalanin sekarang. Kita punya orang tua yang setiap saat curahkan doa dan cinta buat kita. Makanya kita serahkan cinta dan doa-doa kita juga buat mereka, nanti ada waktnya Tuhan akan kirim pasangan yang cinta kamu apa adanya dan saling menyempurnakan. Dan waktunya adalah saat kamu udah dewasa. Semua bisa gagal indah kalau mudamu yang sekarang ini justru kamu gunakan untuk mikirin nikah mulu..... ;-D. Apalagi untuk mencintai dia yang belum ada statusnya atau sekedar menyebutnya dalam doa(kaya yang didakwahkan akun sebelah) yang kaya gitu yang kamu andalkan sampai kamu lupa doain orang tuamu. Barang kali doa orang tuamu supaya dapat menantu solehah yang lebih terkabul dari pada doa kamu. Makanya seringlah berdao supaya doa orang tua terkabul. Karena pasti di doa ayah ibu teman-teman pasti ada doa untuk kesuksesanmu. Begitukan lebih enak daripada kecil kecil kebelet nikah.
Jadi kesimpulannya adalah perempuan bukanlah sebatas hiasan yang dipajang,dipandang dinikmati atau bahkan dikoleksi. Tapi dia perempuan akan jadi perhiasan, sesuatu yang bernilai, indah, dan mengagumkan ketika ia berkarya dan menebar kebermanfaaatan. Lagi pula peran perempuan tidak sesempit itu hanya berperan untuk menjadi istri bagi suaminya. Pertama kali kita lahir kita adalah individu yang harus menciptakan makna diri kita sendiri didunia ini, setelah itu kita adalah seorang anak yang harus membahagiakan dan membanggakan orangnya, kita adalah bagian dari masyarakat yang harus bersama-sama membangun masyarakat, kita adalah warna negara yang harus tahu apa yang negara butuhkan dari sosoknya sebagai perempuan, kita adalah istri yang mendampingi bukan semata-mata mengabdi. Kita adalah ibu, suri tauladan bagi penerus bangsa tempat mengadu dan kedamaian bagi sekitarnya. Maka tak salah kiranya jika tulisan ini terbit juga karena tulisan kawan saya “jika ingin mendidik bangsamu maka  didiklah perempuan negerimu”. Thanks to A-Je.
Sekian dan salam kejayaan untuk Kartini modern Indonesia.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar