Selamat
malam kota kelahiran,
Tulisan ini muncul
bersamaan dengan kegelisahan akan rekan-rekan saya yang saat ini di perantauan.
Dahulu kami berteman dengan siapa saja, bercanda dan tertawa bersama. Namun kini
beberapa meninggalkan sesrawungan bersama
rekannya karena kami dinilai tidak sesuai ajaran barunya. Setelah lama berpisah
sibuk dengan kegiatan masing-masing didaerah rantau. Mendalami agama yang
didakwahkan disana. Berteman dengan teman disana yang tentunya punya gaya
tersendiri dalam menambah keimanan dan bisa jadi hanya bagaimana caranya
bertambah terlihat beriman. Dan yang paling ngeri
adalah banyak yang belajar mendalami agama melalui akun instagram. Terpengaruh
pada dakwah-dakwah yang begitu membaperkan.
Dakwah itu sangat baik,
instagram sebagai akun dakwah juga baik. Ya
kita tahulah kids zaman now paling bisa dijangkau dengan instagram. Baik yang
berdakwah maupun si korban dakwah nggak salah menggunakan instagram sebagai
alternatif dakwah. Dalam akun dakwah yang saya baca dan sempat saya ikuti atau
hanya saya lihat apa si postingan terbarunya. Sebenarnya banyak kebaikan yang
disampaikan mulai dari tuntunan dzikir, mengingatkan baca Al-Kahfi, perintah menutup
aurat, dll. Namun scroll by scroll ke
bawah lhoh kok banyakkan bujukan
nikahnya dari pada dakwahnya. Banyakkan video baperisasinya dari pada dakwahnya. Jadi nggak respect lagi saya.
Nikah dan baper-baperannya
itu bikin perempuan melayang terbang dalam hayalan pernikahan nan indah. Yang akhirnya
bikin perempuan cepet ngebet dinikah,
padahal hanya karena baper aja. Banyak geli
dan protesnya sih ya kalau sudah membahas
yang menyangkut perempuan. Biasanya si akun ini akan berlebihan dalam
menyanjung perempuan yang sangat tertutup dan tidak pernah mengenal lelaki
selain ayahnya hehehe. Waw luar biasa. “Sebaik-baik perhiasan
dunia adalah perempuan sholehah”. Iya saya setuju banget tuh. Tapi ada tapi nya nih.
Saya mulai nggak setuju dan nggak
setujunya juga pakai banget ketika kata-katanya berubah jadi gini “sebaik-baik
hiasan dunia adalah perempuan sholehah”. Duh
aku pikir-pikir kok jadi berubah ya
kata-katanya. Beda kata beda makna juga. Perhiasan okelah ya sesuatu yang berharga, bernilai dan mulia (emas, permata
berlian). Kalau hiasan apaan ni? Masak
ya hiasan ya kali hidup kita sebagai
perempuan hanya sebagai hiasan. Apa dong
maknanya? kita hidup Cuma jadi keindahan untuk lelaki, hanya jadi pandangan,
dipajang,dan bisa jadi koleksi (lukisan, guci, boneka, miniatur,keramik). Eh bisa jadi untuk digantungin dan
dianggurin juga ya? Wkkwkwkwkw.
Top
two
yang bikin aku semakin geli adalah
ketika dakwahnya tentang buru-buru nikah muda banget, muda banget loh ya. Kalau nikah umur 23 ke atas masih
muda si tapi nggak masalah minimal sudah lulus kuliah dan sudah kerja dengan
sedikit tabungan. Dan kalau orang tua juga sudah oke aja. Jadi alasan utama nikahnya bukan karena udah kebelet nikah
atau kasarnya sudah kebelet seks lah ya. Karena nikah itu bukan hanya untuk
menghalalkan seks semata, tapi untuk menjaga prinsip dan saling mendampingi
supaya hidup ini lebih indah karena berbagi suka duka. Maka dari itu menikah
bukan hanya perlu kesiapan fisik tapi juga mental yang dewasa untuk membangun
pernikahan itu.
Kebaperan semakin pekat
karena ada role model yang keren
banget untuk dakwah nikah muda ini. Tapi coba pikir lagi dan lihat kenyataan. Kak
Alvin dan pasangannya serta kak Natta Reza dan pasangannya (kenal dong pastinya), mereka memang nikah muda
tapi mereka sudah punya bisnis yang siap mengalirkan pendanaan kerumah
tangganya dan juga travellingnya yang bikin kalian baper itu kan. Nah pertanyaannya apakah kamu-kamu
yang kebelet nikah sudah punya bisnis kaya gitu?
Jangan-jangan malah kuliah aja numpang biaya orang tua. Ya nggak salah kuliah numpang biaya orang tua, yang salah adalah
kuliah numpang biaya orang tua dan kuliahnya cuma buat mikirin nikah gara-gara
salah cerna akun dakwah. Lagian ya role modelnya
akun dakwah nikah itu juga sambil promosi produk mereka, nah loe apa ? korbannya aja, kan jadi
konsumennya belum mampu. Lupa ya kuliah aja pake biaya orang tua?
Puncak kegelian saya adalah ketika ada dakwah begini
“ketika anak menunjukkan tanda-tanda ingin menikah maka segerakanlah nikahnya”.
Bener nggak? Bener dong. Tetapi gawatnya
makna menikah disini dipikir sempit sama remaja alay (bukan anak layangan). Remaja baper berpikir bahwa bahwa tanda-tanda
nikah yang dimaksud hanya sebatas aku suka kamu dan adanya dorongan seks. Jadi
kalau anak sudah menunjukkan adanya dorongan seks dan mulai suka-sukaan maka
nikahkanlah. Ya kelar dong masa
depan. Ada dorongan seks ya dimulai pas anak balig atau ABG dan anak sekarang
yang bergizi tinggi pada puber umur 12-14 tahun. Kalau umur segitu suka sama
teman sekelasnya terus di nikah ya mau
apa jadinya negeriku tercinta. Mau bikin pernikahan bonsai? Mini-mini udah pada nikah ya
wkwkwkwkwk(guweketawalimakali).
Gini ya guysku yang baik, semua akan indah pada
waktunya kalau kamu bisa menikmati momentnya
dengan tepat. Kamu muda waktunya berkarya supaya semua akan sukses pada waktunya.
Begitu juga soal cinta kamu masih terlalu muda buat menikah ya makanya fokus
pada apa yang kamu jalanin sekarang. Kita punya orang tua yang setiap saat
curahkan doa dan cinta buat kita. Makanya kita serahkan cinta dan doa-doa kita
juga buat mereka, nanti ada waktnya Tuhan akan kirim pasangan yang cinta kamu
apa adanya dan saling menyempurnakan. Dan waktunya adalah saat kamu udah dewasa.
Semua bisa gagal indah kalau mudamu yang sekarang ini justru kamu gunakan untuk
mikirin nikah mulu..... ;-D. Apalagi untuk mencintai dia yang belum ada statusnya
atau sekedar menyebutnya dalam doa(kaya yang didakwahkan akun sebelah) yang
kaya gitu yang kamu andalkan sampai kamu lupa doain orang tuamu. Barang kali
doa orang tuamu supaya dapat menantu solehah yang lebih terkabul dari pada doa
kamu. Makanya seringlah berdao supaya doa orang tua terkabul. Karena pasti di
doa ayah ibu teman-teman pasti ada doa untuk kesuksesanmu. Begitukan lebih enak
daripada kecil kecil kebelet nikah.
Jadi
kesimpulannya adalah perempuan bukanlah sebatas hiasan yang dipajang,dipandang
dinikmati atau bahkan dikoleksi. Tapi dia perempuan akan jadi perhiasan,
sesuatu yang bernilai, indah, dan mengagumkan ketika ia berkarya dan menebar
kebermanfaaatan. Lagi pula peran perempuan tidak sesempit itu hanya berperan
untuk menjadi istri bagi suaminya. Pertama kali kita lahir kita adalah individu
yang harus menciptakan makna diri kita sendiri didunia ini, setelah itu kita
adalah seorang anak yang harus membahagiakan dan membanggakan orangnya, kita
adalah bagian dari masyarakat yang harus bersama-sama membangun masyarakat, kita
adalah warna negara yang harus tahu apa yang negara butuhkan dari sosoknya
sebagai perempuan, kita adalah istri yang mendampingi bukan semata-mata
mengabdi. Kita adalah ibu, suri tauladan bagi penerus bangsa tempat mengadu dan
kedamaian bagi sekitarnya. Maka tak salah kiranya jika tulisan ini terbit juga
karena tulisan kawan saya “jika ingin mendidik bangsamu maka didiklah perempuan negerimu”. Thanks to A-Je.
Sekian
dan salam kejayaan untuk Kartini modern Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar