Gerombolan siswi EsEmKa Akuntansi sedang asik mengerumpikan
guru olahraga yang paling muda dan freshgraduate
dari Universitas Negeri Yogyakarta. Guru yang bikin geregetan karena polahnya
yang calm dan cuek membuat hasrat
ganjen para siswi ABG ini mencuat. Bel masuk pun mengakhiri rumpi bersambung
episode pagi ini. Saat kami menyadari salah satu teman kami Rudi tidak masuk
sekolah, suasana menjadi penuh tanya kemana murid rajin itu. Apa bus nya ngetime seperti biasa?. Bu Ani wali kelas
kami masuk kelas dengan sepucuk surat duka. Seduka wajah beliau yang memang
sehari-harinya tidak pernah tersenyum. Mungkin mama muda ini punya masalah
dengan suaminya. Atau sebenarnya beliau dulu terpaksa mengambil jurusan
matematika, mungkin harusnya jurusan seni tari prodi manekin challengs.
Bicara duka itu erat
kaitannya dengan kesakitan atau kehilangan. Kami semua kelilangan seorang
kakak. Meski kami tidak mengenal kakak Rudi tetapi kami ikut tahu rasanya
kehilangan dan sedih yang Rudi rasakan. Anak laki-laki tengah dari sembilan
bersaudara itu meninggal semalam karena kecelakaan saat dibonceng motor oleh
sahabatnya untuk jalan-jalan sore dimalam hari. Kami mengerti Rudi pasti sangat
kehilangan kakaknya apalagi jarak usia mereka tidak jauh. Pasti lelaki
bersaudara itu kerap bertukar otot dan bertukar cakap tentang sesuatu yang nggak penting.
Selepas sekolah kami
takziyah ke keluarga Rudi dengan membawa rombongan empat motor. Kami berlaku
bak orang dewasa yang berduka atas wafatnya saudara seiman. Namun ya beginilah adanya topeng kami hanya
sesaat. Semua berubah gelak tawa menghibur Rudi saat rombongan tamu yang
sebelumnya datang sudah pulang. Bercandaan kami tak akan lah gurih kalau tidak ada yang di bully diantara kami. Menjadi objek
langganan bullyan untuk kelas ini
barang kali telah menjadi ahli surga karena setiap waktu pengorbanannyalah yang
membuat orang lain tertawa.
Malam ini tepat satu
minggu aku berada dirumah, dikampung halaman yang aku rindukan selalu hijaunya.
Ini yang membedakan kota dan desa. Di desa hijaunya alami, hijau dedaunan yang
menari tersenggol angin senja yang agresif. Namun dikota hijaunya hanyalah
hijau cat gedung atau background spanduk promosi perbankan syariah dijalanan
utama kota. Percuma hijau yang itu tidak menghasilkan oksigen yang menyejukkan.
Kota yang semakin panas tapi juga semakin cepat aliran uangnya. Maka pantaslah
mereka berbondong-bondong kekota dengan karung kosong berharap akan mengisinya
dengan hijau uang ketika pulang kampung. Terkadang tak sadar bahwa kota sendiri
sudah punya lumbung terluas didunia untuk menyimpan uang rakyat. Yaps tepat yaitu diperut buncit para pejabat. Jangan
heran ketika kau pulang karung masih kosong dari uang hanya berisi tinja bau
kemaksiatan.
Tak disangka sudah
hampir tiga tahun lalu setelah kematian
kakak Rudi. Aku teringat dua buah pohon kelapa bercabang tiga yang ada
dihalaman rumah Rudi. Pohon kelapa yang aku herankan dan membuatku dikatakan ndeso karena aku terheran oleh fenomena
ini. Ya maklum baru pertama kali melihatnya. Kusampaikan pada ibuku yang juga
baru kali ini mendengar dariku. Kita terus berdebat karena ibuku tidak percaya
akan apa yang aku lihat.
Suatu pernyataan harus
valid dan terbukti kebenarannya, lalu aku hubungi Rudi sebagai pihak yang
bersangkutan. Kutanyakan akan Rudi menguatkan pendapatku tentang pohon kelapa
cabang tiga itu.
“oh
iya ada dua pohon yang saya tahu cabang tiga dan cabang tujuh, iya memang itu
keanehan tapi adanya ditempat PakDhe ditempatku tidak ada. Itu di Desa Dudu
Kulon, Kecamatan Grabag, Kabupaten Purworejo. Pohon kelapa yang bercabang
biasanya banyak cerita mistisnya” begitu Rudi
menjelaskan pertanyaanku.
“Rud, bagaimana bisa? Aku melihatnya didepan rumahmu dua buah pohon
kelapa bercabang tiga. Saat itu bahkan aku katakan ini lucu bisa buat icon
wisata lalu kau terbahak. Katamu di Munggangsri desamu itu kelapa cabang tiga
sudah biasa kau mengatakan aku ndeso, ingatkan Rud?” aku mendesak Rudi
untuk mengingat apa yang aku ingat. Setelah adu keyakinan ingatan selama lebih
kurang tiga puluh menit aku tidak dapat memaksa Rudi membenarkan aku melihat
pohon kelapa cabang tiga itu dihalaman rumah Rudi. Bahkan aku konfirmasi pada Anika
sababatku yang lain yang baru delapan belas Januari kemarin berusia dua puluh
tahun. Dan doa utamanya adalah cerahkanlah jodohnya beritahu dimana letaknya.
Awalnya aku pikir Rudi
hanya mencoba mengalihkan topik agar aku mebahas mengenai seseorang yang biasa
kami sebut PakDhe atau hanya sekedar
ingin aku menanyakan itu pada PakDhe
saja. Karena dia memang teman yang baik. Dia menjagakan apa yang menurutnya
untuk sahabatnya. Mungkin dia berpikir kalau saya bertanya pada PakDhe itu akan mendekatkan kami padahal
itu bukan lagi kebutuhan dan bukan lagi kebahagian bagi kami. Ibarat grammar
itu pasttense.
Masih teringat jelas
dimemoriku bagaimana Rudi menjaga aib sahabatnya terhadapku yang saat itu
sedang dikabarkan dekat. Saya tahu sebagai teman dia ingin aku dapat yang baik.
Namun ia juga ingin menjaga aib sahabatnya. Dan dia lebih memilih menjaga aib
sahabatnya meski mereka sebenarnya tidak terlihat akur.
“Kamu
pernah lihat biografinya mer?” tanya Rudi dengan
ragu. Rudi dan kawan SMK memang punya panggilan tersendiri untuk ku. Panggilan
yang dibuat oleh wali kelas ku saat dibangku kelas X.
Belum,
Aku
balik melihatnya. Padahal aku tahu apa arah bicaranya meski memang aku tidak
pernah liat biografinya.
Saat aku kembali
menatap komputer perpustakaan dia menatapku iba, aku tahu apa yang membuatnya
iba. Tapi aku iklas soal masalah itu. Kemudian Rudi melanjutkan pekerjaannya
dan fokus pada komputer sambil menahan beban pikiran yang tak bisa ia katakan
tadi. Disampingnya aku hanya menghela napas dan berterima kasih ia tidak
menyampaikan padaku aib sahabatnya. Aib dia yang disana yang tentunya saya
sudah tahu aib itu.
Hari itu mengajarkanku
bahwa pria ambisius seperti Rudi pun mampu menjaga aib orang lain. Saya kira
semua pria ambisius itu egois. Terima kasih untuk pelajarannya hari ini. Semoga
sukses selalu meyertaimu.
Kembali kepada mistis.
Apa saat aku melihat dua pohon itu dihalaman rumah Rudi dan aku bahkan
mengingat jelas ceritanya setelah tiga tahun berlalu tapi tidak ada yang ingat
pohon itu. Sang pemilik rumah juga tidak membenarkan bahwa pohon itu ada
dihalamanya. Justru pohon itu ada ditempat lain. Apakah ini bukti mistisnya
jujur saja saya sedikit merinding karena memori pohon menakjuban itu masih
dilaman Rudi dalam bayanganku. Tapi kondisi sesungguhnya tidak terjadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar