Selasa, 09 Januari 2018

Peran Intelektual




“Intelektual” apa yang ada dipikiran teman-teman saat mendengar kata intelektual? Dalam benak saya intelektual adalah terkait dengan kecerdasan dan kaum terpelajar, saat saya bertanya kepada rekan satu kamar saya apa yang ada dipikirannya tentang intelektual maka jawabannya ada kecerdasan dan kaum terpelajar. Kenyataannya ada makna yang berbeda dengan yang saya pahami tentang intelektual. Menurut KKBI intelektual adalah Cendekiawan atau  intelektual ialah orang yang menggunakan kecerdasannya untuk bekerja, belajar, membayangkan, mengagas, atau menyoal dan menjawab persoalan tentang berbagai gagasan. Menurut Edward W Said Intelektual adalah pencipta sebuah bahasa yang mengatakan yang benar kepada yang berkuasa. Atau dalam pemahaman saya bahwa intelektual adalah keberanian mengungkapkan kebenaran yang tidak sesuai dengan kehendak penguasa serta menentang kebijakan yang tidak merepresentasikan keadilan.
Intelektual adalah saat pengetahuan yang kuat dan mendalam berpadu dengan kebebasan untuk berani membela kebenaran itu meski itu menentang penguasa. Intelektual berkaitan dengan seni berbicara untuk menyampaikan kebenaran dan sesuatu yang ia yakini benar. Seorang intelektual mengatakan apa yang dianggapnya benar entah sesuai atau tidak dengan pikiran-pikiran penguasa. Lebih pada oposisi (penentang dan pengkritik kebijakan) dari pada akomodasi(upaya untuk menyesuaikan diri).
Kaum intelektual adalah manusia yang mau membela kebenaran dengan segala resikonya. Kaum intelektual lebih memihak kepada pihak yang tertindas dan dirugikan. Bagi Edward Said dosa paling besar bagi seorang intelektual adalah apabila ia tahu apa yang seharusnya dikatakan tetapi menghindari mengatakannya.  Seorang yang menyatakan diri sebagai kaum intelektual tidak akan pernah mau mengabdi kepada penguasa yang tidak tahan kritik dan anti perubahan. Karena sesungguhnya perubahan harus selalu ada ketika pemikiran manusia terus berkembang.
Intelektual mencakup kebeneran dalam berbagai bidang, bukan saja dalam bidang pemerintahan. Saat intelektual menyentuh agama misalnya, para intelektual selalu berada dalam resiko dicurigai, bahkan dicaci-maki, kalau tidak disingkirkan atau masuk dalam bahaya dimusnahkan oleh para fanatik dalam agamanya sendiri yang tidak tahan terhadap pertanyaan-pertanyaannya yang mengancam paham sempit mereka. Semisal para intelektual muslim yang mengkritik dan menghadapkan islam pada tantangan minoritas non islam, hak perempuan dan emansipasi wanita, modernitas, serta manusiawi dan reevaluasi jujur tentu akan dicurigai dan ditentang oleh pihak berpaham sempit yang hanya mengabdi pada dogma yang telah ada sebelumnya.
Kaum intelektual berkarya sastra bukan untuk merekonsiliasikan manusia dengan lingkungannya atau yang mendorong mereka lari dari kehidupan nyata. Sastra jangan menjadi obat penawar tetapi menjadi sesuatu yang mengusik, sebuah katalis yeng mendorong orang merubah dunia tempat ia hidup sekaligus merubah diri sendiri. Sastra yang mendorong orang untuk menciptkan perubahan adalah sastra yang cerdas. Dan keinginan akan perubahan itu dapat dimunculkan setelah adanya pemikiran kritis terhadap keadaan.
Intektual bukan sebatas pada makna kaum terdidik saja, karena intektual mencela apa yang disebut kaum cendekia yang hanya suka bersolek dan menyuburkan diri sendiri kemudian memilih diam demi kehati-hatian. Mencela cendekia yang tau kebeneran tapi hanya diam demi keamanan diri pribadi dari segala resiko tindakan intelektual. Sebagai mahasiswa yang juga bagian dari kaum intelektual sudahkan kita melakukan peran intelektual yang sudah Tuhan amanahkan pada diri kita? Perlu memasang cermin didepan kaum intelektual supaya mereka melihat diri mereka yang sebenarnya.
            Peran intelektual Di Indonesia di jalankan oleh oleh kaum cendekia karena mereka yang ada pada tempatnya tidak berkerja atas penempatannya tapi berkerja untuk mengamankan tempatnya( mempertahankan jabatannya semata bukan beraspirasi untuk rakyat ). Teman-teman perhatikan pada berbagai media informasi semisal koran yang beredar Di Indonesia sebagian besar didominasi oleh headline berupa kritik seorang profesor atau master tertentu terkait isu politik. Mengapa demikian karena Indonesia telah kehilangan demokrasinya.
Demokrasi kita? Benarkah demokrasi ? Demokrasi yang tidak ada pihak oposisi, kebebasan yang bertanggungjawab, dan pendapat politisi yang memihak pemerintah sudah diketahui sebelumnya. MPR yang seharusnya menjadi wadah kedaulatan rakyat, kenyataannya setengah dari mereka dipilih oleh pemerintah. Dalam sidang MPR yang hanya lima tahun sekali tidak ada pertentangan atas kebijakan yang ditetapkan pemerintah. Seolah kebijakan pemerintah sudah sedemikian  sempurnanya. Seolah meraka buta akan kegelisahan dan penderitaan rakyat dalam kebijakan itu. Jika benar kebijakan itu sudah benar dan tepat mengapa rakyat masih menderita sampai saat ini. Ketimpangan dan ketidak adilan terjadi disana-sini. Benarkan demokrasi berjalan disini? Sebuah demokrasi yang tidak boleh menangtang pemerintah? Masihkan itu disebut  demokrasi?
Di Indonesia kaum intelektual menempatkan diri sebagai oposisi (pihak penentang kebijakan yang tidak tepat) kaum cendekia yang kritik perlu meningkatkan kebebasannya untuk berani mengkritik kebijakan pemerintah. Mahasiswa ambil bagian disini sebagai pengontrol kebijakan pemerintah. Berhentilah menjadi mahasiswa yang apatis mulailah untuk peduli karena perubahan ada ditangan kita. Mahasiswa dengan perannya sebagai agent of changes.


Said, Edward. 2014. Pearan Intelektual. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar