Jumat, 22 Desember 2017

Rabi’ah Al Adawiyah



Jumat malam alias malam sabtu yang cukup memiliki waktu luang. Malam ini ada misi jadi ilmuwan satu malam. Kita bisa akses gratis apapun yang menarik karena ada wifi gratis dari operator burung walet terjungkir. Namun sayang tidak semulus yang kita bayangkan, akhirnya semua sampai pada titik strategi pemasaran semata. Bagaimana caranya menarik hati konsumen pada sebuah produk. Strategi pemasaran dengan embel-embel gratis pastilah menarik perhatian bukan? Bahkan dua mahasiswi ekonomi disini terjebak pada teknik yang sebenarnya sudah ia pelajari.
Menjelang tengah malam sosok malaikat cantik yang kurus, putih, dan imut itu mulai merasa lapar dan perlahan merebahkan punggungnya pada kasur tipis pondok pesantren modern As Sabila, Patemon. “Kuru awake ora paedah” orang jawa bilang begitu. Tubuh kurusnya sama sekali tidak sinkron dengan perutnya yang mudah lapar dan matanya yang pellor alias nempel molor. Tapi biarpun begitu dia salah satu inspirasiku. Kepemimpinan dan perjuangannya sangat mengispirasi. Mbak pondok yang satu ini  adalah Robiatul Adawiyah. Namanya mengingatkanku pada seorang wali Allah yaitu Rabi’ah Al Adawiyah.
Rabi’ah Al Adawiyah adalah seorang wali Allah yang mengabdikan dirinya kepada Allah. Kesabaran dan perjuangannya harus dicontoh oleh wanita Islam saat ini. Walaupun sejarah hidupnya bermula dari seorang wanita yang tidak mentaati Allah, akhirnya dia memilih jalan sufi dalam mencari ketenangan hidup. Ayah Rabiatul Adawiyah adalah guru agama, tetapi terpaksa menjadi pendayung sampan. Untuk menarik minat orang menaiki sampannya Rabiatul Adawiyah akan mendendangkan lagu yang merdu ketika mendayung sampan. Rabiatul Adawiyah sentiasa di samping ayahnya hinggalah dia dewasa. Setelah ayahnya meninggal dunia. dia menggantikan tempat ayahnya sebagai pendayung sampan dan mendendangkan lagu yang merdu. Mendengarkan suaranya yang merdu itu menarik hati seorang lelaki untuk membawanya untuk dipersembahkan kepada raja dan dia terpaksa berkhidmat untuk raja. Setiap hari dia menyanyi dan menuang arak kepada raja dan tetamu raja.
Suatu hari timbul kesedaran di hatinya dan merasa insaf dengan segala perbuatannya. Rabiatul Adawiyah tidak mahu lagi menyanyi dan menuang arak. Dia sering duduk bersendirian berzikir kepada Allah. Akibatnya disiksa oleh raja dengan kerja yang berat. Pernah suatu hari pengawal raja disuruh melepaskan ular dan kala jengking ke dalam bilik Rabiatul Adawiyah kerana raja tidak senang melihat dia sentiasa berzikir. Tetapi akhirnya ular tersebut menerkam pengawal raja. Rabiatul Adawiyah tetap tenang, walaupun dia tidak diberi makan dia tetap mampu menjalankan ibadat kepada Allah. Apabila raja mengintainya di dalam bilik, kelihatan dia sedang munajat memohon doa kepada Allah. Di dalam kegelapan biliknya kelihatan cahaya yang menyuluh ke arahnya.
Robi’ah Al Adawiyah juga merupakan seorang Sufi. Sufi adalah istilah untuk mereka yang mendalami ilmu tasawwuf, sejenis aliran mistik dalam agama Islam. Sudah menjadi hal yang umum sejak zaman dulu bahwa yang menjadi tokoh sufi adalah berasal dari kalangan kaum laki-laki seperti Al-Hallaj, Jalaluddin Rumi, Syekh Shohibul Faroji Azmatkhan Ba’alawi Al-Husaini, Syekh Abdul Qadir Jaelani, Abu Nawas, Syekh Abul Hasan Asy Syadzili. Laki-laki memang sudah sepantasnya menjadi pemimpin dan tokoh utama dalam setiap bidang. Namun teori itu tak berlaku lagi ketika muncul   seorang tokoh sufi yang berasal dari kaum wanita  yang bernama Siti Rabiatul Adawiyah. Rabiah adalah sufi pertama yang memperkenalkan ajaran Mahabbah (Cinta) Ilahi, sebuah jenjang (maqam) atau tingkatan yang dilalui oleh seorang salik (penempuh jalan Ilahi).
Ada beberapa pokok pikiran pada diri Rabi'ah, diantaranya adalah:
Hidup atas dasar Zuhud, dan mengisinya dengan selalu beribadah kepada Allah SWT yang akan menjadi tumpuan cintanya kepada Allah SWT, sebagaimana yang beliau katakan,
"Aku tinggalkan cintanya Laila dan Su'da mengasing diri Dan kembali bersama rumahku yang pertama. Dengan berbagai kerinduan mengimbauku, Tempat-tempat kerinduan.
Cinta Rabi'ah adalah cinta abadi kepada Tuhan yang melebihi segala yang ada, cinta abadi yang tidak takut pada apapun walau pada neraka sekalipun. pernyataan beliau yang terkenal ialah,
"Kujadikan Engkau teman percakapan hatiku, Tubuh kasarku biar bercakap dengan insani.Jasadku biar biar bercengkrama dengan tulangku, Isi hati hanyalah tetap pada-Mu jua..."
Ibadah yang ditegakkan siang dan malam, semata-mata karena cinta abadi itu. Sebagaimana pernyataannya,
"Sekiranya aku beribadah kepada Engkau Karena takut akan siksa neraka, Biarkanlah neraka itu bersamaku. Dan jika aku beribadah karena mengharap surga, Maka jauhkanlah surga itu dariku. Tetapi bila aku beribadah karena cinta semata, Maka limpahkan lah keindahan-Mu selalu..."
Robiatul adawiyah yang ada di patemon juga mewakilkan emansipasi wanita. Dia adalah seorang ketua PMII (Pergerakan mahasiswa Islam Indonesia) Rayon Nusantara. Dia juga generasi jaman now yang tabayyun. Setelah ia mendengar sesuatu maka ia akan mengkonfirmasi kebenarannya. Wawasannya tentang buku juga membuat gadis asal Tegal, Jawa Tengah ini terlihat sangat cerdas dan kritik. Relasinya dengan para penggerak budaya baca membantuku mudah menemukan buku yang mampu menjawab pertanyaanku tentang sesuatu yang belum aku pahami. Karena kalau aku sudah paham aku tidak akan bertanya tapi aku akan berusaha menjelaskan.
Nyong ngelih banget ik” dialek lokal tegal terboyong ke semarang rupanya.
“Aku punya nasi” sahut kakak paling perhatian satu pondok ini, kami biasa memanggilnya mbak fadhil. Seorang yang pernah punya pacar selama enam tahun lamanya kemudian putus dan entah move on itu memihak padanya ataukah tidak. Juga konon katanya putusnya mbak Fadhil dengan kekasihnya karena mbak Fadhil tidak mengenalkan kekasihnya pada Ayah. “Ayah” kami bisa menggunakan sapaan itu untuk Ayah Kyai kami. Jadi seluruh santri wati disini  pabila mempunyai kekasih harus "matur" ke dhalem. Dahulu ada cerita sepasang mbak lan kang pondok yang saling jatuh cinta, dan kemudian matur teng dhalem. Namun berdasarkan perhitungan Ayah pasangan ini tidak sebaiknya untuk melanjutkan hubungan. Ayah juga menyampaikan penjelasannya. Dan mereka pun menuruti untuk mengakhiri hubungan, karena kepatuhannya pada guru. Seandainya mantan kekasih mbak Fadhil tahu bagaimana revolusi mantan kekasihnya setelah ada dipondok maka dia akan menyesal kehilangan calon ibu yang baik untuk anak-anaknya. Tapi anehnya malah Mbak Fadhil yang merasa kehilangan separuh hatinya. Aku rasa biarkan mbak Husna yang ahli biologi akan mencakok hatinya.
Nyong pingin mangan wong mbak” berkata kembali si gadis Tegal dengan dialek yang sama.
“Tolong selamat aku yang gembil ini” rengek gadis paling bau kencur tapi paling gendut di ruangan ini.
“sesuk sido kan?” tanya mbak Fadhil mengingatkan misi besok pagi. Si gendut ini ingin melangsingkan badan.
Ayoh mbak . Aku digugah ya?” semangat sekali saya menjawab.
“Nek srik rak tangik cegurke waek langsung mbak” mbak Biya menyampaikan ide tragisnya terhadapku.
cium wae ben tangi” sahut mbak fadhil penuh kelembutan. Sudah kubilang kan dia baik.
“aaaaa..... aku emoh bobok tekan isuk arep dzikiran akkakkkaakkaak....” sahut ku yang pasti tidak dipercaya oleh mereka. Dzikiranku kan “QWERTY....” hahahaha. Tenanglah kakak setiap satu huruf saya tekan maka satu “Bismillaahi” saya lantunkan, setiap satu spasi satu “Laa haula wa laa quwwata illaa billaahi” menyertainya dan setiap satu delete maka satu “Astagfirullaahal-‘azhiim” pun ada adalam ketikan saya. Semua agar Allah selalu meridhoi kebermanfaatan atas apapun yang saya kerjakan. Dan sungguh Rabi’ah Adawiyah adalah ispirasi saya dalam senantiasa berdzikir kepada Allah.
Semua tawa malam ini dengan sahabat sepenanggungan membuatku lupa pada sesuatu yang mengejutkanku. Seharusnya aku sudah tau cerita itu dari 2 minggu yang lalu. Tapi masih baiklah Allah karena sudah mengetahuinya meski lima belas hari telah terlewat sejak tulisan itu terbit. Namun setidaknya ketidaktahuan saya tidak sampailah pada saat saya tanpa sengaja bertemu dengannya. Melalui tulisannya aku berprasangka bahwa ia pun khawatir barangkali akan ada berita siur yang tak enak dicandakan.
Semoga kerendahan hati mampu menyelesaikan banyak hal dengan damai. Karena sesungguhnya yang lebih berbahaya adalah kesalahpahaman antara aku dan penulis terbitan itu. Bukan pada prasangka yang barang kali akan muncul. Tersurat maaf dari kesalahanku yang mengarang terlalu bebas dan mencoba mencari jiwa sang pemeran. Kembalikanlah tulisan ini pada hakikatnya sebagai cerita bersambung.
Bersambung....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar