Pengertian Validitas
Dalam memilih tes atau instrumen
evaluasi guru harus memilih instrumen yang sesuai dengan kondisi sekolah yang
ada serta tujuan yang ingin dicapai. Agar memenuhi kemampuan evaluasi maka
jenis tes harus memiliki tiga karakter yaitu: valid, reliable, dan dapat
digunakan. Ketentuan penting dalam evaluasi adalah bahwa hasilnya harus sesuai
dengan keadaan yang dievaluasi. Mengevaluasi diumpamakan sebagai pekerjaan
memotret maka hasil gambarnya harus sesuai dengan objek yang dipotret, tidak
lebih baik atau lebih buruk dari aslinya. Untuk memperoleh hasil yang valid
maka instrumennya juga harus valid.
Valid dalam bahasa Indonesia lebih
dikenal dengan kata “sahih”. “A test is
valid if it measures what it purpose to measure” sebuah test dikatakan
valid apabila mengukur apa yang hendak diukur (Johnson dan Johnson: 2002).
Valid menurut Gronlund (1985) dapat diartikan sebagai ketepatan interpretasi
yang dihasilkan dari skor tes atau instrumen evaluasi. Validitas suatu
instrumen evaluasi tidak lain adalah derajat yang menunjukkan dimana suatu tes
mengukur apa yang hendak diukur. Validitas mempunyai makna penting antar lain:
1. Validitas
berhubungan dengan ketepatan interpretasi instrumen evaluasi untuk grup
individual dan bukan instrumen itu sendiri;
2. Diartikan
sebagai derajat yang menunjukkan kategori yang bisa mencakup kategori rendah,
menengah dan tinggi;
3. Prinsip
valid tidak universal. Valid untuk tujuan tertentu saja. Misalkan tes valid
untuk siswa SMA belum tentu valid untuk siswa SMP.
Macam-Macam Validitas
Validitas sebuah tes dapat diketahui dari hasil pemikiran
dan pengalaman. Secara garis besar ada
dua macam validitas, yaitu validitas logis dan validitas empiris.
a.
Validitas Logis
“Logis”
bermakna penalaran. Validitas logis dapat dicapai apabila instrumen yang disusun
memenuhi ketentuan. Ada dua validitas logis yang dapat dicapai oleh sebuah
instrumen. Yaitu validitas isi dan validitas konstrak. Validitas isi
menunjukkan kondisi sebuah instrumen yang disusun berdasarkan isi materi
pelajaran yang dievaluasi. Sedangkan validitas konstrak menunjukkan kondisi
sebuah instrumen yang disusun berdasarkan aspek-aspek kejiwaan yang seharusnya
dievaluasi.
b.
Validitas Empiris
“Empiris”
bermakna pengalaman. Sebuah instrumen dapat dikatakan memiliki validitas
empiris apabila sudah diuji dari pengalaman. Contoh: berdasarkan pengalaman
sehari-hari dapat disimpulkan bahwa orang ini memiliki sifat yang jujur. Ada dua validitas empiris yaitu validitas ada
sekarang dan validitas prediktif.
Sehingga diketahui ada
empat macam validitas. 1) dan 2) dapat dicapai melalui penyusunan berdasarkan
ketentuan atau teori. 3) dan 4) diketahui berdasarkan pengalaman. Penjelasan
masing-masing validitas sebagai berikut:
a.
Validitas isi
Validitas
isi ialah derajat sebuah tes evaluasi mengukur. Untuk mendapatkan validitas isi
diperlukan 2 aspek yaitu valid isi dan valid teknik sampling. Valid isi berisi
hal-hal apakah item-item menggambarkan
hal yang akan diukur. Sedangkan teknik sampling mengenai bagaimana
sample tes dapat mempresentasikan total cakupan tes.
Validitas
isi dapat disebut sebagai validitas wajah dan juga validitas kulrikuler.
Dikatakan validitas karena validitas isi mengukurtujuan khusus tertentu yang
sejajar dengan materi atau isi pembelajaran yang diberikan dimana materi itu
tertera dalam kurikulum. Validitas isi dapat diusahakan tercapai sejak
penyusunan dengan cara memerinci materi kurikulum, buku pelajaran.
b.
Validitas Konstruk
Konstruk
maksudnya bukanlah “susunan” seperti yang kita temui pada teknik. Melainkan
Konstruk adalah rekaan psikologis. Validitas konstruk merupakan derajat yang
menunjukkan suatu tes mengukur sebuah konstruk sementara. Konstruk merupakan
suatu sifat yang tidak dapat diobservasi, tetapi dapat merasakan pengaruhnya
melalui salah satu atau dua indera kita.
Suatu soal dikatakan memiliki validitas konstruksi apabili aspek yang
diukur sudah sesuai dengan aspek berpikir yang menjadi tujuan instruksional.
c.
Validitas Konkuren atau ada sekarang
Validitas
Konkuren atau ada sekarang adalah derajat dimana skor dalam suatu tes
dihubungkan dengan skor lain yang telat dibuat sebelumnya. Langkah membuat tes
dengan validitas ada sekarang adalah sebagai berikut:
1. Administrasi
tes yang baru dilakukan terhadap kelompok
2. Catat
tes baku yang ada termasuk berapa koofisien validitasnya
3. Hubungkan
dan korelasikan 2 tes skor tersebut
Hasil
yang dicapai akan menunjukkan derajat hubungan validitas yang baru. Dikatakan
mempunyai validitas konkuren yang baik apabila derajatnya lebih tinggi dan
sebaliknya. Metode
pembeda merupakan validitas konkuren yang melibatkan penentuan suatu tes. Jika
skor tes dapat digunakan untuk membedakan orang yang memiliki sifat tertentu
yang diinginkan dan yang tidak. Validitas konkuren memiliki daya pembeda yang
baik apabila dapat mengklarifikasi orang yang satu dengan orang yang lain.Contoh
dari validitas ada sekarang adalah apakah tes sumatif ang disusun sudah valid
atau belum maka diperlukan kriterium masa lalu yang sekarang datana dimiliki
misalkan nilai ulangan harian yang lalu.
d.
Validitas Prediksi
Validitas
prediksi adalah derajat yang menunjukkan
suatu tes dapat memprediksi bagaimana baik seseorang akan melakukan suatu
prospek tugas atau pekerjaan yang direncanakan. Prediksi artinya meramal, mampumeramalkan
apa yang akan terjadi dimasa mendatang. Misakan tes SBMPTN diharapkan akan
meramalkan kemampuan siswa menangkan apa yang diajarkan dikampus. Siswa dengan
nilai baik berarti memiliki nila baik pula pada masa mendatang dan siswa yang
nilai jelek juga diprediksi akan kesulitan mengikuti kegiatan pembelajaran
dikampus.
Faktor-Faktor
yang Mempengaruhi Validitas
Banyak faktor yang mempengaruhi tes evaluasi tidak
valid, antara lain:
1.
Faktor dari dalam tes
a. Makna
tes tidak jelas
b. Kata-kata
yang digunakan terlalu sulit
c. Item-item
tes dikontruksi dengan jelek
d. Ketidaksesuaian
materi yang disampaikan dengan tes
e. Waktu
yang dialokasikan tidak tepat
f. Soal
terlalu sedikit
g. Jawaban
dapat diprediksi
2.
Faktor admiistrasi dan skor
a. Waktu
yang diberikan tidak cukup
b. Adanya
kecurangan dalam tes
c. Petunjuk
yang tidak dapat dilakukan siswa
d. Pemberian
skor yang tidak konsisten
e. Adanya
orang selain siswa yang masuk dan memberikan jawaban kepada siswa
3.
Faktor yang berasal dari jawaban siswa
a. Penampakan
guru killer yang membuat suasana tegang
b. Suasana
gaduh yang mengganggu konsentrasi siswa dalam menjawab
Reliabilitas adalah
sama dengan konsistensi atau keajegan. Suatu tes dikatakan memiliki nilai
reliabilitas tinggi, apabila tes yang dibuat mempunyai hasil yang konsisten
dalam mengukur yang hendak diukur. Instrumen evaluasi dikatakan mempunyai
reliabilitas tinggi, berarti: a) hasil interpretasi instrumen menunjukkan
konsistensi yang lebih baik, b) menunjukkan betapa yakinnya evaluator atau guru
menempatkan sebagai hasil evaluasi dan c) menjadi perhatian para guru agar
hasil interpretasi instrumen evaluasi mampu dioperasionalkan di sekolah.
Gronlund, N.E dan Linn,
R.L. 1990. Measurement and Evaluation in
Teaching. 6th edition. New York: Macmillan Publissing Company.
Johnson, D.W dan
Johnson, R.T. 2002. Meaningfull
Assesment: A. Manageable and Cooperative process. Boston: Allyn and Bacon
Publisher.
Sudjana, Nana. 2012. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Sukardi. 2009. Evaluasi Pendidikan Prinsip &
Operasionalnya. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Arikunto, Suharsimi.
2012. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan.
Edisi 2. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar