(Srimaryani, Srimaryani3007@gmail.com,Semarang)
Dalam acara ini saya
adalah salah satu mahasiswi yang datang dari luar region Yogyakarta. Saya
berasal dari Purworejo, Jawa Tengah yang berbatasan dengan Kulon Progo, DIY.
Saat ini saya sedang menempuh S1 di Universitas Negeri Semarang jurusan
Pendidikan Ekonomi. Teman-teman banyak
memanggil saya Maryani. Sehari-hari saya mempelajari bagaimana ekonomi mampu
bertindak ditengah krisis yang dihadapi, bagaimana ekonomi menangkap perilaku
manusia dan menentukan langkah seperti apa yang harus ditempuh, bagaimana pajak
dan kebijakan pemerintah berpengaruh pada perekonomian suatu negara dan
bagaimana menjadi guru ekonomi yang baik.
Rumpun saya bukanlah membahas mengenai permasalahan
agama dan upaya perdamaian lintas agama. Namun saya sangat tertarik dengan
keragaman agama yang ada di Indonesia. Dan saya sangat mengutamakan toleransi. Indonesia
membutuhkan pemuda yang masih peduli dengan upaya perdamaian lintas agama dan
ajaran pancasila untuk bersikap toleran. Apalagi bagi calon guru seperti saya,
tentu perlu memahami,menggali, dan mengaplikasikan makna toleransi terlebih
dahulu sebelum mengajarkan dan menjadi contoh bagi peserta didik saya dimasa
depan. Karena menjadi guru di Indonesia berarti menjadi guru dalam kemajemukan.
Itu menjadi alasan saya
mencari kegiatan untuk sharing
langsung dengan saudara-saudara kita yang berbeda. Saya memperoleh informasi
kegiatan Pelatihan mengelola dan memaknai perbedaan diantara pemuda lintas iman
di Yogyakarta dari grup whatsaap SIPC. Sebelumnya saya mengikuti SIPC (Student Interfaith Peace Camp) yang
dilaksanakan oleh YIPC (Young Interfaith
Peace Community) pada awal November 2017. SIPC merupakan kegiatan pertama
saya mengenai dialog lintas agama. Dalam SIPC dialog lintas agama dilakukan
oleh pemuda Kristen dan Islam. Dan kali ini dalam kegiatan Pelatihan mengelola
dan memaknai perbedaan diantara pemuda lintas iman di Yogyakarta kami berdialog
empat agama yaitu Islam, Kristen, Hindu, Budha dan Kepercayaan.
Dialog lintas agama
adalah hal yang baru bagi saya. Latar belakang saya dari daerah yang sangat
homogen. Saya merasa hidup ini tidak banyak permasalahan mengenai perbedaan
agama. Tetapi ternyata ada banyak masalah yang perlu kita sentuh dan selesaikan
bersama. Dari sini saya belajar tentang bahaya prasangka tanpa klarifikasi dan
pentingnya klarifikasi dalam menghadapi pransangka. Kedamaian dan pemikiran
terbuka saya dapatkan dari kegiatan ini. Saya
memandang perbedaan adalah keniscayaan yang tidak untuk disamakan tapi saling
menerima dan saling melindungi. Saya ambil kesimpulan bahwa orang yang belum
memahami agama lain cenderung akan memiliki prasangka yang buruk tetapi setelah
memahami agama lain ia akan semakin toleransi karena sudah mengenal, seperti
halnya saat kita mengenal orang yang sebelumnya asing bagi kita. Semua akan
lebih indah setelah kita saling mengenal bukan?
Dalam kehidupan keluarga
saya memiliki kebebasan untuk bergaul dengan siapapun termasuk dengan yang
berbeda agama. Namun kawan saya yang berbeda agama sangat sedikit karena
lingkungan saya yang sangat homogen. Semua senada. Namun berubah saat saya ada
diperguruan tinggi mengenal orang yang berlatar belakang berbeda, budayanya
berbeda, agamanya berbeda dan lain-lain. Saya Suku Jawa yang terbiasa hidup
dengan budaya Jawa, namun saat kos
binaan saya satu kamar dengan anak Riau. Pada awalnya sedikit aneh kadang saya
merasa dia marah tapi ternyata tidak. Dia merasa saya munafik padahal juga
tidak. Namun setelah saling memahami ternyata kita perlu klarifikasi. Banyak
tindakan yang ditangkap berbeda dari sudut pandang budaya masing-masing.
Saya bertemu dengan
teman yang lintas agama dan sangat dekat
dengan mereka saat saya ada dikomunitas ilmiah Universitas Negeri Semarang.
Saya dekat dengan teman saya yang beragama Budha, Indriani Hartono. Dia adalah
rekan Budha yang sangat baik dan saya menerima dengan segala perdedaannya. Selanjutnya
adalah Mundi Dawuhe Yang Widi dia adalah seoarang penganut kepercayaan yang
sangat taat. Saya sangat dekat dengan sahabat saya yang satu ini. Dia banyak
bercerita dengan saya. Tentang ketuhanannya dan caranya beribadah. Penganut
kepercayaan percaya akan adanya Tuhan Yang maha Esa seperti para pemeluk agama.
Beribadah dengan cara memuji Tuhan. Dia berdoa dua kali sehari diwaktu pagi
ketika bangun tidur dan malam ketika ingin tidur. Bagi kepercayaannya mimpi
bukanlah bunga tidur semata melainkan adalah petunjuk Yang Widi. Dan saya paham
bahwa semua ajaran mengajarkan kepada pemeluknya mengenai nilai kebaikan.
Saya belajar banyak hal
secara langsung kepada objek-objek perbedaan itu, saya bukan hanya melihat,
mendengar, dan membaca tetapi juga melakukan toleransi itu melalui kegiatan
ini. Saya belajar bahwa dalam menjalani kehidupan tidaklah harus menjadi sama.
Perbedaan adalah bergantung dari kita dalam menyikapinya. Jika kita menyikapi
dengan positif maka akan berdampak positif dan sebaliknya. Dalam bergaul dengan
kawan yang berbeda agama saya belajar tentang menerima diri dan membudayakan
klarifikasi terhadap prasangka yang ada dalam diri saya kepada kawan yang
berbeda. Serta menerima bahwa setiap orang hidup dan beribadah dengan caranya masing-masing.
Menurut sensus Badan Pusat Statistik
(BPS) di Indonesia terdapat lebih dari tiga ratus kelompok etnik dan 1.340 suku
bangsa. Ini merupakan kekayaan yang luar biasa yang harus dijaga bersama-sama. Perlunya menghindari sikap curiga atau prasangka yang
buruk terhadap orang yang berbeda dan sikap men-generalisir golongan berdasarkan
satu atau dua orang yang merupakan bagian dari golongan tersebut. Karena hal
itu akan mengakibatkan rendahnya penerimaan terhadap perbedaan, sedangkan
Indonesia adalah negara yang multikultural, beragam suku, agama, dan budaya. Nilai
tersebut juga saya dapat dari kegiatan ini.
Kota Yogyakarta yang
disebut sebagai miniatur Indonesia karena agama, suku dan bahasa dari seluruh
Indonesia hampir semuanya ada di Yogyakarta. Yogyakarta merupakan kota pelajar
yang mahasiswanya dari seluruh Indonesia. Harapannya mahasiswa Yogyakarta mampu
menjadi pelopor toleransi kepada masyarakat. Supaya masyarakat mampu berpikir
terbuka. Sehingga tidak ada lagi deskriminasi terhadap orang yang berbeda baik
itu etnis, suku, maupun agama.
Jika Yogkarta mampu
menjadi magnet yang menarik mahasiswa Semarang untuk belajar toleransi di Yogyakarta.
Maka Yogyakarta juga pasti mampu untuk menarik kawan dari daerah lain untuk
belajar toleransi dikota toleran “Yogyakarta”. Dan tentu dalam berbagai acara
yang lain banyak mahasiswa dari non Yogyakarta yang mengikuti kegiatan dialog
lintas agama di Yogyakarta. Maka tujuan dan proyek teman-teman Yogkarta bukan
hanya menjadikan Yogyakarta sebagai kota toleransi tapi juga Kota pelopor
toleransi yang harapannya virus toleransi dan diskusi lintas agama akan
menyebar di seluruh kota di Indonesia dan membuka pola pikir masyarakat.
Kepada PGIW DIY dan
DIAN Interfidei sebagai penyelenggara kegiatan dapat meluaskan komunitas cinta
damai dan menyelenggarakan kegiatan seperti ini secara rutin. Indonesia butuh
kita sebagai pemuda yang toleran agar kepemimpinan di Indonesia dimasa depan
dipegang oleh pemimpin-pemimpin yang berpikir terbuka dan mencintai perbedaan
sebagai rahmat alam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar