Sabtu, 16 Desember 2017

Magnet Dialog Lintas Agama Di Yogyakarta


(Srimaryani, Srimaryani3007@gmail.com,Semarang)

Dalam acara ini saya adalah salah satu mahasiswi yang datang dari luar region Yogyakarta. Saya berasal dari Purworejo, Jawa Tengah yang berbatasan dengan Kulon Progo, DIY. Saat ini saya sedang menempuh S1 di Universitas Negeri Semarang jurusan Pendidikan Ekonomi. Teman-teman  banyak memanggil saya Maryani. Sehari-hari saya mempelajari bagaimana ekonomi mampu bertindak ditengah krisis yang dihadapi, bagaimana ekonomi menangkap perilaku manusia dan menentukan langkah seperti apa yang harus ditempuh, bagaimana pajak dan kebijakan pemerintah berpengaruh pada perekonomian suatu negara dan bagaimana menjadi guru ekonomi yang baik.
 Rumpun saya bukanlah membahas mengenai permasalahan agama dan upaya perdamaian lintas agama. Namun saya sangat tertarik dengan keragaman agama yang ada di Indonesia. Dan saya sangat mengutamakan toleransi. Indonesia membutuhkan pemuda yang masih peduli dengan upaya perdamaian lintas agama dan ajaran pancasila untuk bersikap toleran. Apalagi bagi calon guru seperti saya, tentu perlu memahami,menggali, dan mengaplikasikan makna toleransi terlebih dahulu sebelum mengajarkan dan menjadi contoh bagi peserta didik saya dimasa depan. Karena menjadi guru di Indonesia berarti menjadi guru dalam kemajemukan.
Itu menjadi alasan saya mencari kegiatan untuk sharing langsung dengan saudara-saudara kita yang berbeda. Saya memperoleh informasi kegiatan Pelatihan mengelola dan memaknai perbedaan diantara pemuda lintas iman di Yogyakarta dari grup whatsaap SIPC. Sebelumnya saya mengikuti SIPC (Student Interfaith Peace Camp) yang dilaksanakan oleh YIPC (Young Interfaith Peace Community) pada awal November 2017. SIPC merupakan kegiatan pertama saya mengenai dialog lintas agama. Dalam SIPC dialog lintas agama dilakukan oleh pemuda Kristen dan Islam. Dan kali ini dalam kegiatan Pelatihan mengelola dan memaknai perbedaan diantara pemuda lintas iman di Yogyakarta kami berdialog empat agama yaitu Islam, Kristen, Hindu, Budha dan Kepercayaan.
Dialog lintas agama adalah hal yang baru bagi saya. Latar belakang saya dari daerah yang sangat homogen. Saya merasa hidup ini tidak banyak permasalahan mengenai perbedaan agama. Tetapi ternyata ada banyak masalah yang perlu kita sentuh dan selesaikan bersama. Dari sini saya belajar tentang bahaya prasangka tanpa klarifikasi dan pentingnya klarifikasi dalam menghadapi pransangka. Kedamaian dan pemikiran terbuka saya dapatkan dari kegiatan ini. Saya memandang perbedaan adalah keniscayaan yang tidak untuk disamakan tapi saling menerima dan saling melindungi. Saya ambil kesimpulan bahwa orang yang belum memahami agama lain cenderung akan memiliki prasangka yang buruk tetapi setelah memahami agama lain ia akan semakin toleransi karena sudah mengenal, seperti halnya saat kita mengenal orang yang sebelumnya asing bagi kita. Semua akan lebih indah setelah kita saling mengenal bukan?
Dalam kehidupan keluarga saya memiliki kebebasan untuk bergaul dengan siapapun termasuk dengan yang berbeda agama. Namun kawan saya yang berbeda agama sangat sedikit karena lingkungan saya yang sangat homogen. Semua senada. Namun berubah saat saya ada diperguruan tinggi mengenal orang yang berlatar belakang berbeda, budayanya berbeda, agamanya berbeda dan lain-lain. Saya Suku Jawa yang terbiasa hidup dengan budaya Jawa, namun saat  kos binaan saya satu kamar dengan anak Riau. Pada awalnya sedikit aneh kadang saya merasa dia marah tapi ternyata tidak. Dia merasa saya munafik padahal juga tidak. Namun setelah saling memahami ternyata kita perlu klarifikasi. Banyak tindakan yang ditangkap berbeda dari sudut pandang budaya masing-masing.
Saya bertemu dengan teman yang lintas agama dan  sangat dekat dengan mereka saat saya ada dikomunitas ilmiah Universitas Negeri Semarang. Saya dekat dengan teman saya yang beragama Budha, Indriani Hartono. Dia adalah rekan Budha yang sangat baik dan saya menerima dengan segala perdedaannya. Selanjutnya adalah Mundi Dawuhe Yang Widi dia adalah seoarang penganut kepercayaan yang sangat taat. Saya sangat dekat dengan sahabat saya yang satu ini. Dia banyak bercerita dengan saya. Tentang ketuhanannya dan caranya beribadah. Penganut kepercayaan percaya akan adanya Tuhan Yang maha Esa seperti para pemeluk agama. Beribadah dengan cara memuji Tuhan. Dia berdoa dua kali sehari diwaktu pagi ketika bangun tidur dan malam ketika ingin tidur. Bagi kepercayaannya mimpi bukanlah bunga tidur semata melainkan adalah petunjuk Yang Widi. Dan saya paham bahwa semua ajaran mengajarkan kepada pemeluknya mengenai nilai kebaikan.
Saya belajar banyak hal secara langsung kepada objek-objek perbedaan itu, saya bukan hanya melihat, mendengar, dan membaca tetapi juga melakukan toleransi itu melalui kegiatan ini. Saya belajar bahwa dalam menjalani kehidupan tidaklah harus menjadi sama. Perbedaan adalah bergantung dari kita dalam menyikapinya. Jika kita menyikapi dengan positif maka akan berdampak positif dan sebaliknya. Dalam bergaul dengan kawan yang berbeda agama saya belajar tentang menerima diri dan membudayakan klarifikasi terhadap prasangka yang ada dalam diri saya kepada kawan yang berbeda. Serta menerima bahwa setiap orang hidup dan beribadah  dengan caranya masing-masing.
Menurut sensus Badan Pusat Statistik (BPS) di Indonesia terdapat lebih dari tiga ratus kelompok etnik dan 1.340 suku bangsa. Ini merupakan kekayaan yang luar biasa yang harus dijaga bersama-sama. Perlunya  menghindari sikap curiga atau prasangka yang buruk terhadap orang yang berbeda dan sikap men-generalisir golongan berdasarkan satu atau dua orang yang merupakan bagian dari golongan tersebut. Karena hal itu akan mengakibatkan rendahnya penerimaan terhadap perbedaan, sedangkan Indonesia adalah negara yang multikultural, beragam suku, agama, dan budaya. Nilai tersebut juga saya dapat dari kegiatan ini.
Kota Yogyakarta yang disebut sebagai miniatur Indonesia karena agama, suku dan bahasa dari seluruh Indonesia hampir semuanya ada di Yogyakarta. Yogyakarta merupakan kota pelajar yang mahasiswanya dari seluruh Indonesia. Harapannya mahasiswa Yogyakarta mampu menjadi pelopor toleransi kepada masyarakat. Supaya masyarakat mampu berpikir terbuka. Sehingga tidak ada lagi deskriminasi terhadap orang yang berbeda baik itu etnis, suku, maupun agama.
Jika Yogkarta mampu menjadi magnet yang menarik mahasiswa Semarang untuk belajar toleransi di Yogyakarta. Maka Yogyakarta juga pasti mampu untuk menarik kawan dari daerah lain untuk belajar toleransi dikota toleran “Yogyakarta”. Dan tentu dalam berbagai acara yang lain banyak mahasiswa dari non Yogyakarta yang mengikuti kegiatan dialog lintas agama di Yogyakarta. Maka tujuan dan proyek teman-teman Yogkarta bukan hanya menjadikan Yogyakarta sebagai kota toleransi tapi juga Kota pelopor toleransi yang harapannya virus toleransi dan diskusi lintas agama akan menyebar di seluruh kota di Indonesia dan membuka pola pikir masyarakat.
Kepada PGIW DIY dan DIAN Interfidei sebagai penyelenggara kegiatan dapat meluaskan komunitas cinta damai dan menyelenggarakan kegiatan seperti ini secara rutin. Indonesia butuh kita sebagai pemuda yang toleran agar kepemimpinan di Indonesia dimasa depan dipegang oleh pemimpin-pemimpin yang berpikir terbuka dan mencintai perbedaan sebagai rahmat alam.
                                                 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar