Sosoknya hadir tepat
didepan mataku sambil mengernyitkan dahi diikuti mata yang mengedip centil, itu
yang selalu muncul saat aku melihat tumpukan buku. Kemudian disambung wajahnya
yang bingung dengan magic perempuan, sekalipun perempuan itu maskulin. Agam yang hendak
mencari jalan cepat keluar dari lorong sekaten, namun terhalang oleh seorang
laki-laki yang ada ditengah jalan kecil itu. Agam yang cinta damai memilih
jalan lain karena takut mengganggu aktivitas
transaksi paman itu. Pandanganku menerawang sepertinya akan jauh apabila aku
mengikuti Agam yang membelok untuk putar balik lorong jalan sekaten yang
tersusun zig-zag dari atas. Aku hanya
memandang paman itu manis dan tersenyum serta menunduk santun, Yaps kena!!! paman itu membalas menunduk
dan mempersilahkan aku melalui jalan itu yang sebenarnya bukan jalan melainkan
pagar arena “gombalan sekaten”, kupanggil Agam yang sudah lima langkah
meninggalkanku.
Saat kami keluar ku celotehkan
pada Agam bagaimana ilmu bisnis dalam memanfaatkan wanita. Ia cukup berguna
untuk membuat pria usia berapapun kikuk karena statusnya sebagai wanita. Itu
sebab dan alasan kenapa dalam menemui pimpinan perusahaan untuk sponsorship dan jalinan kerjasama selalu
bersama para pimpinan diantaranya adalah wanita berpenampilan menarik.
Jawabannya adalah karena itu bagian dari trik. Tidak hanya itu dalam aksi
aktivis kampus ketika menggunakan wanita sebagai garda depan adalah untuk
membuat aparat main perasaan sehingga berhenti memukul mundur paksa peserta
aksi. Setidaknya itu cukup untuk menciptakan waktu koordinasi strategi baru bagi
teknisi aksi dibelakang.
Masih tentang
perempuan, gender itu yang tidak pernah habis dari teka-teki. Bagi gadis
sinchan sepertiku apakah berlaku saat aku hanya mengucapkan “aku mengidolakan
kakak laki-laki itu” pertanda bahwa aku mencintainya? aku rasa tidak berlaku.
Lalu apakah jika aku menulis tentang seseorang pada blog pribadiku atau
melukiskan postur gagahnya pada lembar kertas, aku juga menyukainya? bukankah itu juga belum tentu. Mungkin jatuh
cinta pada pertemuan pertama bisa berlaku tapi bukankah untuk membangunnya
dibutuhkan pertemuan-pertemuan selanjutnya.
“Bagaimana bisa dia
bikinin kaya gitu ke kamu gam?” kak Iza menayakan itu pada Agam saat menyadari
aku dan Agam mengunggah foto lukisan yang sama. Aku melukis Agam saat memandang
fokus pada titik-titik emas yang ada dipermukaan kubah masjid Dian Al Mahri, Depok.
Situasi yang mengingatkannya pada buku-buku yang menceritakan keagungan dan
kemewahan Taj Mahal di India. “Tinggi besar dan berlapis marmer. Megahnya
Bangunan raksasa ini adalah wajah luasnya perhatian seseorang terhadap
simbolisme Islam yang tertuang dalam keindahan” tulismu yang pernah terlayang
dilayar komputerku dan layar siapun yang membuka blog pribadimu.
Beruntung yang melihat
lukisan itu adalah kak Iza, beliau bukanlah orang yang suka berprasangka dan
juga bukan gadis yang ember sehingga
masih aman dakwaan konyol itu. Seandainya bukan hanya dia yang tau bisa jadi
aku takut ke Jogja karena akan ada banyak candaan untukku. Menempatkan aku
seperti gadis paling centil diseluruh antero negeri. Aku menggambarkan kekasih
gadis lain. Mungkin aku melanggar etika solidaritas gadis-gadis seusia hahahahaha.
Ketika aku ke Jogja
pasti aku akan bertemu denga kawan-kawanku. Bisa dibilang apapun acaranya
mereka tetap temannya, damai adalah temanya, lintas agama adalah dialognya,
pengetahuan tentang hakikat dan buku-buku adalah oleh-olehnya. Kau tau monitor?
saat aku ke Jogya awal bulan tutup buku akuntansi kemarin aku berkawan dengan
seorang sahabat baru namanya Uziel. Dia adalah seorang yang berani menghinaku,
aku sangat uplouse untuknya karena
kejujurannya yang tegas. Dia meremehkan novel bacaanku yang hanya mengantarkanku
terbang melayang dalam romantisme semu. Kemudian dia tunjukkan padaku banyak
referensi buku. Aku ngobrol dengannya tentang beberapa hal, dia tidak kalah
wawasannya dengan Agam. Apakah semua
anak kampus Agam sepemikir itu? Hingga kampus itu dianggap melahirkan kaum
liberal? Yang juga dikait-kaitkan dengan bencana banjir yang terjadi di
Yogjakarta. Bagiku mereka hanya belum mengenal kalian atau bisa saja terlalu
mengenal. Aku baru sebatas tau tengtangmu Gam, Ziel, dan kampus religius itu.
Lambat laun mengenal
kalian aku akan mendapat kesimpulannya. Lariku ke Jogja bukan untuk mata-mata
ataupun kepo saja tentang pola pikir kalian. Tapi aku datang untuk bertukar
pikiran dan belajar jatuh cinta pada buku seperti yang Aziel katakan padaku.
Jika rencana itu jadi aku akan menyusup ke perpustakaan kampusmu bersama Aziel.
Aziel akan menunjukkan padaku buku-buku bagus dikampusmu dan akan menjatuhkan
aku pada cinta terhadap buku-buku. Kalian adalah sahabat bukuku. Semoga
percakapan dengan Aziel tentang buku tidak untuk hilang seperti percakapanku
padamu tentang bahasan kemarin. Semoga kawan itu selalu terkumpul semakin
banyak dan menyusun jaringan perdamaian. Kasih tanpa tapi, kasih tanpa kalau
untuk sebuah persahabatan.
Sekaten senja ini
berbeda dengan yang saya lewati bersama tourguide
terbaik. Sekaten masih berada dilokasi yang sama tidak berpindah dan tidak juga
tertutup. Seharusnya malam kemarin sekaten sudah penutupan namun sepertinya
diperpanjang sampai hari ini. Aku mendapat berita itu dari kawanku yang
kebetulan juga bermain di sekaten hari ini. Sekaten yang tanpa gerimis tak
semanis saat itu. Saat Sekaten, Yogyakarta, dan senja terangkai menjadi satu
situasi. Sungguh makna romantis tidak ada di Sekaten senja ini karena tanpa
gerimis. Meski gerimis kapanpun tidak ada yang bisa saya samakan dengan gerimis
saat dengan Agam. Aku berjalan biasa tidak dapat menikmati asmosfer Jogjanight.
Aku harap seseorang disampingku tidak terlalu
menyadari bahwa aku tidak bahagia pergi bersamanya. Meski dia sedikit merasa
saya sangat cuek. Canda saya semua settingan
tidak muncul secara alamiah. Meski dia mungkin sedang bahagia karena bisa pergi
denganku dan menyampaikan banyak cerita yang memang dia persiapkan untuk diceritakannya
senja ini. Sungguh mohon ampun aku Tuhan karena tidak menjaga amanah, harusnya
aku dapat membuatnya seseorang disisiku terbahak nyatanya hanya tersenyum tipis
tanpa balasan senyum dariku. Sepanjang lalu lalang aku menanyakan kepada langit
berbintang ribuan itu. Aku bertanya mengapa tidak bisa sama dengan waktu itu.
Agam yang banyak tanya dan banyak bercerita itu mengingatkanku.
Tepat sekali kebagiaan
bukan dari apa atau bersama siapa tapi dari diri kita sendri dari keiklasan
kita sendiri serta dari garis pipi yang kita tarik sendiri. Iya aku harus
menghormati seseorang kawan lama yang disampingku ini. Wajahnya kusut sekali
terlihat makanan sehari-harinya adalah kertas skripsi dan berbagai jenis tugas
akhir lainnya. Mulai kuberlaku seperti kartun favoritku aku berani bercanda
konyol, setelah sebelumnya sangat santun. Aku kerap membuatnya tertawa dan aku
harap dia bahagia.
“Aku merasa aku tak berguna, masak aku biarkan
wanita berjalan jauh membawa tas berat. Seolah aku tidak mau membawakan dan aku
juga berjalan didepan” kulihat keluh dan kasian sekali wajahnya. “Coba kau
perhatikan kakak, tasku ini berwarna merah jambu. Memang tidak apa-apa kalau
kau harus memanggul tas merah jambu?” aku memberi alibi. “lhoh memang tidak
boleh kalau cowok bawa tas merah jambu?” rupanya kakak ini ngeyel juga. “ehm
menurutku lebih baik tidak, seandainya tasku berwarna hitam aku akan senang
tasku dibawakan, berhubung tas ku merah jambu alias pink jadi tidak usah ya,
aku strong kok. Nanti kalau nggak
kuat aku bilang minta tolong” ku tutup dengan senyum. Ucapanku barusan bagai
palu hakim titik tanpa bantahan lagi. Cuma sesaat disekaten rasanya lama
bagiku, mengapa waktu seolah melambat bergulir.
Sampai akhirnya tiba
waktu tiketku sehingga aku punya alasan untuk berkata pulang. Dan kali ini aku
tidak seberuntung kemarin. Tiketku berangkat 2 menit lagi dan aku sudah tidak
dapat memesannya lagi. Terabaikan di StasiunTugu dealam dilema kalau aku ambil tiket tengah
malam nanti aku harus menginap di stasiun Kutoarjo seorang diri. Sepertinya itu
bukan keputusan yang baik. Akhirnya aku menghubungi beberapa kawanku lalu aku
mendapat tumpangan di kos kak Iza. Dan aku baru tahu bahwa di Yogyakarta ketika
memasuki area kos di waktu malam maka mesin motor harus dimatikan jauh sebelum
pintu kos. Lain dengan di Semarang, jika di ibu kota Jawa Tengah itu motorku
bisa masuk sampai dapur tanpa dimatikan meski cukup larut malam.
Setelah
menginap di kos kak Iza paginya ku diapel oleh pak gojek tepat pukul enam pagi.
Nyamannya kereta membuatku lupa akan letihnya diriku. Apalagi terbayang wajah
ibuku yang pasti bahagia melihat gamis yang aku bawa. Setiba distasiun aku
menuju pasar Tradisional Kutoarjo membeli oleh oleh untuk ayah dan bekal ku
kembali kesemarang. Aku duduk dibangku teras rumahku selama dua jam sebelum
akhirnya bus semarang sudah njanjian denganku di halte terminal. Selamat
tinggal kota kelahiran, esok aku masih ingin melihat hamparan hijau itu
disamping rumah jangan berubah jadi apapun ya.
Tetaplah seindah itu.
Bersambung....
Yaniiiii.... Ekwkwk... Suka suka,
BalasHapus