Kamis, 21 Desember 2017

Teringat gerimis jatuh dari langit senja

Sosoknya hadir tepat didepan mataku sambil mengernyitkan dahi diikuti mata yang mengedip centil, itu yang selalu muncul saat aku melihat tumpukan buku. Kemudian disambung wajahnya yang bingung  dengan magic perempuan, sekalipun perempuan itu maskulin. Agam yang hendak mencari jalan cepat keluar dari lorong sekaten, namun terhalang oleh seorang laki-laki yang ada ditengah jalan kecil itu. Agam yang cinta damai memilih jalan lain karena takut mengganggu  aktivitas transaksi paman itu. Pandanganku menerawang sepertinya akan jauh apabila aku mengikuti Agam yang membelok untuk putar balik lorong jalan sekaten yang tersusun zig-zag dari atas. Aku hanya memandang paman itu manis dan tersenyum serta menunduk santun, Yaps kena!!! paman itu membalas menunduk dan mempersilahkan aku melalui jalan itu yang sebenarnya bukan jalan melainkan pagar arena “gombalan sekaten”, kupanggil Agam yang sudah lima langkah meninggalkanku.
Saat kami keluar ku celotehkan pada Agam bagaimana ilmu bisnis dalam memanfaatkan wanita. Ia cukup berguna untuk membuat pria usia berapapun kikuk karena statusnya sebagai wanita. Itu sebab dan alasan kenapa dalam menemui pimpinan perusahaan untuk sponsorship dan jalinan kerjasama selalu bersama para pimpinan diantaranya adalah wanita berpenampilan menarik. Jawabannya adalah karena itu bagian dari trik. Tidak hanya itu dalam aksi aktivis kampus ketika menggunakan wanita sebagai garda depan adalah untuk membuat aparat main perasaan sehingga berhenti memukul mundur paksa peserta aksi. Setidaknya itu cukup untuk menciptakan waktu koordinasi strategi baru bagi teknisi aksi dibelakang.  
Masih tentang perempuan, gender itu yang tidak pernah habis dari teka-teki. Bagi gadis sinchan sepertiku apakah berlaku saat aku hanya mengucapkan “aku mengidolakan kakak laki-laki itu” pertanda bahwa aku mencintainya? aku rasa tidak berlaku. Lalu apakah jika aku menulis tentang seseorang pada blog pribadiku atau melukiskan postur gagahnya pada lembar kertas, aku juga menyukainya?  bukankah itu juga belum tentu. Mungkin jatuh cinta pada pertemuan pertama bisa berlaku tapi bukankah untuk membangunnya dibutuhkan pertemuan-pertemuan selanjutnya.
“Bagaimana bisa dia bikinin kaya gitu ke kamu gam?” kak Iza menayakan itu pada Agam saat menyadari aku dan Agam mengunggah foto lukisan yang sama. Aku melukis Agam saat memandang fokus pada titik-titik emas yang ada dipermukaan kubah masjid Dian Al Mahri, Depok. Situasi yang mengingatkannya pada buku-buku yang menceritakan keagungan dan kemewahan Taj Mahal di India. “Tinggi besar dan berlapis marmer. Megahnya Bangunan raksasa ini adalah wajah luasnya perhatian seseorang terhadap simbolisme Islam yang tertuang dalam keindahan” tulismu yang pernah terlayang dilayar komputerku dan layar siapun yang membuka blog pribadimu.
Beruntung yang melihat lukisan itu adalah kak Iza, beliau bukanlah orang yang suka berprasangka dan juga bukan gadis yang ember sehingga masih aman dakwaan konyol itu. Seandainya bukan hanya dia yang tau bisa jadi aku takut ke Jogja karena akan ada banyak candaan untukku. Menempatkan aku seperti gadis paling centil diseluruh antero negeri. Aku menggambarkan kekasih gadis lain. Mungkin aku melanggar etika solidaritas gadis-gadis seusia hahahahaha.
Ketika aku ke Jogja pasti aku akan bertemu denga kawan-kawanku. Bisa dibilang apapun acaranya mereka tetap temannya, damai adalah temanya, lintas agama adalah dialognya, pengetahuan tentang hakikat dan buku-buku adalah oleh-olehnya. Kau tau monitor? saat aku ke Jogya awal bulan tutup buku akuntansi kemarin aku berkawan dengan seorang sahabat baru namanya Uziel. Dia adalah seorang yang berani menghinaku, aku sangat uplouse untuknya karena kejujurannya yang tegas. Dia meremehkan novel bacaanku yang hanya mengantarkanku terbang melayang dalam romantisme semu. Kemudian dia tunjukkan padaku banyak referensi buku. Aku ngobrol dengannya tentang beberapa hal, dia tidak kalah wawasannya dengan Agam.  Apakah semua anak kampus Agam sepemikir itu? Hingga kampus itu dianggap melahirkan kaum liberal? Yang juga dikait-kaitkan dengan bencana banjir yang terjadi di Yogjakarta. Bagiku mereka hanya belum mengenal kalian atau bisa saja terlalu mengenal. Aku baru sebatas tau tengtangmu Gam, Ziel, dan kampus religius itu.
Lambat laun mengenal kalian aku akan mendapat kesimpulannya. Lariku ke Jogja bukan untuk mata-mata ataupun kepo saja tentang pola pikir kalian. Tapi aku datang untuk bertukar pikiran dan belajar jatuh cinta pada buku seperti yang Aziel katakan padaku. Jika rencana itu jadi aku akan menyusup ke perpustakaan kampusmu bersama Aziel. Aziel akan menunjukkan padaku buku-buku bagus dikampusmu dan akan menjatuhkan aku pada cinta terhadap buku-buku. Kalian adalah sahabat bukuku. Semoga percakapan dengan Aziel tentang buku tidak untuk hilang seperti percakapanku padamu tentang bahasan kemarin. Semoga kawan itu selalu terkumpul semakin banyak dan menyusun jaringan perdamaian. Kasih tanpa tapi, kasih tanpa kalau untuk sebuah persahabatan.  
Sekaten senja ini berbeda dengan yang saya lewati bersama tourguide terbaik. Sekaten masih berada dilokasi yang sama tidak berpindah dan tidak juga tertutup. Seharusnya malam kemarin sekaten sudah penutupan namun sepertinya diperpanjang sampai hari ini. Aku mendapat berita itu dari kawanku yang kebetulan juga bermain di sekaten hari ini. Sekaten yang tanpa gerimis tak semanis saat itu. Saat Sekaten, Yogyakarta, dan senja terangkai menjadi satu situasi. Sungguh makna romantis tidak ada di Sekaten senja ini karena tanpa gerimis. Meski gerimis kapanpun tidak ada yang bisa saya samakan dengan gerimis saat dengan Agam. Aku berjalan biasa tidak dapat menikmati asmosfer Jogjanight.
 Aku harap seseorang disampingku tidak terlalu menyadari bahwa aku tidak bahagia pergi bersamanya. Meski dia sedikit merasa saya sangat cuek. Canda saya semua settingan tidak muncul secara alamiah. Meski dia mungkin sedang bahagia karena bisa pergi denganku dan menyampaikan banyak cerita yang memang dia persiapkan untuk diceritakannya senja ini. Sungguh mohon ampun aku Tuhan karena tidak menjaga amanah, harusnya aku dapat membuatnya seseorang disisiku terbahak nyatanya hanya tersenyum tipis tanpa balasan senyum dariku. Sepanjang lalu lalang aku menanyakan kepada langit berbintang ribuan itu. Aku bertanya mengapa tidak bisa sama dengan waktu itu. Agam yang banyak tanya dan banyak bercerita itu mengingatkanku.
Tepat sekali kebagiaan bukan dari apa atau bersama siapa tapi dari diri kita sendri dari keiklasan kita sendiri serta dari garis pipi yang kita tarik sendiri. Iya aku harus menghormati seseorang kawan lama yang disampingku ini. Wajahnya kusut sekali terlihat makanan sehari-harinya adalah kertas skripsi dan berbagai jenis tugas akhir lainnya. Mulai kuberlaku seperti kartun favoritku aku berani bercanda konyol, setelah sebelumnya sangat santun. Aku kerap membuatnya tertawa dan aku harap dia bahagia.
 “Aku merasa aku tak berguna, masak aku biarkan wanita berjalan jauh membawa tas berat. Seolah aku tidak mau membawakan dan aku juga berjalan didepan” kulihat keluh dan kasian sekali wajahnya. “Coba kau perhatikan kakak, tasku ini berwarna merah jambu. Memang tidak apa-apa kalau kau harus memanggul tas merah jambu?” aku memberi alibi. “lhoh memang tidak boleh kalau cowok bawa tas merah jambu?” rupanya kakak ini ngeyel juga. “ehm menurutku lebih baik tidak, seandainya tasku berwarna hitam aku akan senang tasku dibawakan, berhubung tas ku merah jambu alias pink jadi tidak usah ya, aku strong kok. Nanti kalau nggak kuat aku bilang minta tolong” ku tutup dengan senyum. Ucapanku barusan bagai palu hakim titik tanpa bantahan lagi. Cuma sesaat disekaten rasanya lama bagiku, mengapa waktu seolah melambat bergulir.
Sampai akhirnya tiba waktu tiketku sehingga aku punya alasan untuk berkata pulang. Dan kali ini aku tidak seberuntung kemarin. Tiketku berangkat 2 menit lagi dan aku sudah tidak dapat memesannya lagi. Terabaikan di StasiunTugu  dealam dilema kalau aku ambil tiket tengah malam nanti aku harus menginap di stasiun Kutoarjo seorang diri. Sepertinya itu bukan keputusan yang baik. Akhirnya aku menghubungi beberapa kawanku lalu aku mendapat tumpangan di kos kak Iza. Dan aku baru tahu bahwa di Yogyakarta ketika memasuki area kos di waktu malam maka mesin motor harus dimatikan jauh sebelum pintu kos. Lain dengan di Semarang, jika di ibu kota Jawa Tengah itu motorku bisa masuk sampai dapur tanpa dimatikan meski cukup larut malam.
Setelah menginap di kos kak Iza paginya ku diapel oleh pak gojek tepat pukul enam pagi. Nyamannya kereta membuatku lupa akan letihnya diriku. Apalagi terbayang wajah ibuku yang pasti bahagia melihat gamis yang aku bawa. Setiba distasiun aku menuju pasar Tradisional Kutoarjo membeli oleh oleh untuk ayah dan bekal ku kembali kesemarang. Aku duduk dibangku teras rumahku selama dua jam sebelum akhirnya bus semarang sudah njanjian denganku di halte terminal. Selamat tinggal kota kelahiran, esok aku masih ingin melihat hamparan hijau itu disamping rumah jangan berubah jadi apapun ya. Tetaplah seindah itu.
Bersambung....

1 komentar: