Selasa,
22 Maei 2018
06
Romadhon 1439 H
Kuburlah
dirimu untuk menghilangkan sifat keakuan, dan memunculkan kuasanya Allah SWT.
Intinya mampu menempatkan kalimat Alhamdulillah pada waktu yang tepat dan
menghilangkan keakuan. Alhamdulillah ditempatkan kembali ketempatnya “Segala
puji bagi Allah” bukan “Segala puji bagiku”.
Contohnya:
“Alhamdulillah ya Allah telah menganugerahkan kepada diriku untuk mampu ....”(Alhamdulillah
Allah paringi aku anugrah aku bisa deres Qur’an)
Bukan
“ya
Allah Alhamdulillah aku mampu...”(Alhamdulillah aku deres Qur’an).
Dimana
Alhamdulillah digandrungkan atau dinisbahkan kepada Allah SWT. Diibaratkan
sebagai berikut: kacang A ditanam pada kedalaman 5 cm didalam tanah sedangkan
kacang B ditanam dipermukaan tanah. Saat kacang B tumbuh 1 cm diatas permukaan
tanah ia akan sangat bangga bahwa dirinya tumbuh lebih dulu, padahal kacang A
tanpa diketahui juga tumbuh 1 cm namun batangnya masih didalam tanah tak nampak
secara dhohir. Saat kacang A muncul 1 cm diatas permukaan tanah tentu kacang B
sudah setinggi 6 cm kacang B akan sombong dan merendahkan kacang A. Pada masanya
nanti ketika kacang A dan B setinggi 10 cm datang badai maka kacang A akan
tetap tegak berdiri, sedanngkan kacang B akan roboh karena tidak memiliki akar
yang kuat yang menanggung batang setinggi sepuluh cm. Berbeda dengan kacang A
ia hanya setinggi 5 cm diatas permukaan tanah namun akarnya juga menghujam 5 cm
dibawah permukaan tanah sehingga ia lebih stabil menghadapi ancaman dan
goncangan dari luar. Pohon yang karnya tertanam didalam tanah ia mampu kuat
menghadapi badai, panas, angin, dsb seperti sikap sikap tawadu’ dan rendah
hati.
Inilah
hakikat menenggelamkan dirimu dimana kamu akan selalu membantu sesama dan akan sangat menghormati Allah dan
makhluknya. Semakin cerdas seseorang ia akan semakin rendah hati. Orang bahagia
tanda-tandanya menghormati orang lain, selalu syukur, dan menisbahkan pada
Allah. Tanda –tanda orang yang tidak bahagia yaitu merendahkan orang lain, keakuannya
tinggi. Orang yang tawadu’ adalah orang yang beribadah, berkerja, membantu
orang lain dengan rasa iklas.
Kuburlah
keakuan kita dalam-dalam dan selalu memunculkan Allah dalam segala hal. Inilah tanda
kita sanggup menerima malam lailatul Qodr. Orang yang mau mendapatka malam
Lailatul Qodr secara ruhaniyyah harus mau menenggelamkan dirinya sedalam
mungkin.
Kuburlah
dirimu dalam-dalam didalam bumi agar tenggelam dan Allahnya yang muncul sehingga
interaksi dengan makhluk yang lain saling menghargai bukan saling membandingkan
siapa yang lebih hebat. Diri kita hanya 1%, 99% nya adalah asmaul husna barang
siapa mampu meleburkan dirinya yang 1% pada asmaul husna yang 99% maka ia
adalah istimewa. Manunggaling Kawulaning Gusti.
Dengan
mengubur dirimu dalam-dalam akan semakin memunculkan doa. Doa muncul dari dlam
hati karena ketulusan.supaya orang berada pada keberuntungan seperti yang telah
saya dapatkan. Agar semua orang bahagia.
Yang
sabar dalam melakukan sesuatu hal karena dibalik itu ada hikmahnya. Sebagaimana
dicontohkan oleh nabi Nuh AS yang berjuang selama 900 tahun namun umatnya yang
taat hanya 9 orang. Namun ketahuilah bahwa nabi Nuh dengan umatnya hanya 9
orang mampu menjadi nabi Ulul Ajmi. Nabi Nuh, Nuh artinya cengeng namun bukan
cengeng mengeluh tapi cengeng menyampaikan doa kepada Allah cengeng
menyampaikan syukur kepada Allah.
Perlu
kita sadar bahwa Allah selalu menghargai
usaha kita. Kenapa Kyai sering kali menyusahkan santri sementara ada hal lebih
praktis yang mampu dilakuka? yaitu agar usahanya lebih keras dan semua akan
kembali ke diri santri. Apapun yang kita perbuat semua akan kembali ke kita.
Mondok
mengajarkan kita bagaimana caranya tawadu’. Santri kalau didawuhi guru harus
dijalani baik mampu atau pun tidak karena itu akan menyadarkan kita banyal hal
yang kita nggak bisa. Dan memberikan kita upaya yang luar biasa sehingga kita
mendapatkan barokah dari apa yang kita upayakan. Dengan upaya keras kita akan
punya ilmu yang sebelumnya belum diajarkan pada kita. Santri itu harus mandiri.
Iklas dalam bertindak dan yakinlah setiap usaha kita ada nilainya dihadapan
Allah SWT.
Sumber
: Ngaos bersama Ayah Yai Moel Abee Rozaq
Ponpes
Assabiila Patemon Gunung Pati Semarang


