Jumat malam alias malam
sabtu yang cukup memiliki waktu luang. Malam ini ada misi jadi ilmuwan satu malam.
Kita bisa akses gratis apapun yang menarik karena ada wifi gratis dari operator
burung walet terjungkir. Namun sayang tidak semulus yang kita bayangkan,
akhirnya semua sampai pada titik strategi pemasaran semata. Bagaimana caranya
menarik hati konsumen pada sebuah produk. Strategi pemasaran dengan embel-embel
gratis pastilah menarik perhatian bukan? Bahkan dua mahasiswi ekonomi disini
terjebak pada teknik yang sebenarnya sudah ia pelajari.
Menjelang tengah malam
sosok malaikat cantik yang kurus, putih, dan imut itu mulai merasa lapar dan
perlahan merebahkan punggungnya pada kasur tipis pondok pesantren modern As Sabila,
Patemon. “Kuru awake ora paedah”
orang jawa bilang begitu. Tubuh kurusnya sama sekali tidak sinkron dengan
perutnya yang mudah lapar dan matanya yang pellor
alias nempel molor. Tapi biarpun
begitu dia salah satu inspirasiku. Kepemimpinan dan perjuangannya sangat
mengispirasi. Mbak pondok yang satu
ini adalah Robiatul Adawiyah. Namanya mengingatkanku
pada seorang wali Allah yaitu Rabi’ah Al Adawiyah.
Rabi’ah Al
Adawiyah adalah seorang wali Allah yang mengabdikan dirinya kepada Allah. Kesabaran
dan perjuangannya harus dicontoh oleh wanita Islam saat ini. Walaupun
sejarah hidupnya bermula dari seorang wanita yang tidak mentaati Allah,
akhirnya dia memilih jalan sufi dalam mencari ketenangan hidup. Ayah Rabiatul
Adawiyah adalah guru agama, tetapi terpaksa menjadi pendayung sampan. Untuk
menarik minat orang menaiki sampannya Rabiatul Adawiyah akan mendendangkan lagu
yang merdu ketika mendayung sampan. Rabiatul Adawiyah sentiasa di samping
ayahnya hinggalah dia dewasa. Setelah ayahnya meninggal dunia. dia menggantikan
tempat ayahnya sebagai pendayung sampan dan mendendangkan lagu yang merdu.
Mendengarkan suaranya yang merdu itu menarik hati seorang lelaki untuk
membawanya untuk dipersembahkan kepada raja dan dia terpaksa berkhidmat untuk
raja. Setiap hari dia menyanyi dan menuang arak kepada raja dan tetamu raja.
Suatu hari timbul kesedaran di
hatinya dan merasa insaf dengan segala perbuatannya. Rabiatul Adawiyah tidak
mahu lagi menyanyi dan menuang arak. Dia sering duduk bersendirian berzikir
kepada Allah. Akibatnya disiksa oleh raja dengan kerja yang berat. Pernah suatu
hari pengawal raja disuruh melepaskan ular dan kala jengking ke dalam bilik
Rabiatul Adawiyah kerana raja tidak senang melihat dia sentiasa berzikir.
Tetapi akhirnya ular tersebut menerkam pengawal raja. Rabiatul Adawiyah tetap
tenang, walaupun dia tidak diberi makan dia tetap mampu menjalankan ibadat
kepada Allah. Apabila raja mengintainya di dalam bilik, kelihatan dia sedang
munajat memohon doa kepada Allah. Di dalam kegelapan biliknya kelihatan cahaya
yang menyuluh ke arahnya.
Robi’ah Al Adawiyah juga merupakan
seorang Sufi. Sufi adalah istilah untuk mereka yang mendalami ilmu tasawwuf,
sejenis aliran mistik dalam agama Islam. Sudah menjadi hal yang umum sejak
zaman dulu bahwa yang menjadi tokoh sufi adalah berasal dari kalangan kaum
laki-laki seperti Al-Hallaj, Jalaluddin Rumi, Syekh Shohibul Faroji Azmatkhan
Ba’alawi Al-Husaini, Syekh Abdul Qadir Jaelani, Abu Nawas, Syekh Abul Hasan Asy
Syadzili. Laki-laki memang sudah sepantasnya menjadi pemimpin dan tokoh utama
dalam setiap bidang. Namun teori itu tak berlaku lagi ketika muncul
seorang tokoh sufi yang berasal dari kaum wanita yang bernama Siti
Rabiatul Adawiyah. Rabiah adalah sufi pertama yang memperkenalkan ajaran
Mahabbah (Cinta) Ilahi, sebuah jenjang (maqam) atau tingkatan yang dilalui oleh
seorang salik (penempuh jalan Ilahi).
Ada beberapa pokok pikiran pada diri
Rabi'ah, diantaranya adalah:
Hidup atas dasar Zuhud, dan mengisinya dengan selalu beribadah kepada Allah SWT yang akan menjadi tumpuan cintanya kepada Allah SWT, sebagaimana yang beliau katakan,
Hidup atas dasar Zuhud, dan mengisinya dengan selalu beribadah kepada Allah SWT yang akan menjadi tumpuan cintanya kepada Allah SWT, sebagaimana yang beliau katakan,
"Aku tinggalkan cintanya Laila
dan Su'da mengasing diri Dan kembali bersama rumahku yang pertama. Dengan
berbagai kerinduan mengimbauku, Tempat-tempat kerinduan.
Cinta Rabi'ah adalah cinta abadi
kepada Tuhan yang melebihi segala yang ada, cinta abadi yang tidak takut pada
apapun walau pada neraka sekalipun. pernyataan beliau yang terkenal ialah,
"Kujadikan Engkau teman
percakapan hatiku, Tubuh kasarku biar bercakap dengan insani.Jasadku biar biar
bercengkrama dengan tulangku, Isi hati hanyalah tetap pada-Mu jua..."
Ibadah yang ditegakkan siang dan
malam, semata-mata karena cinta abadi itu. Sebagaimana pernyataannya,
"Sekiranya aku beribadah kepada
Engkau Karena takut akan siksa neraka, Biarkanlah neraka itu bersamaku. Dan
jika aku beribadah karena mengharap surga, Maka jauhkanlah surga itu dariku.
Tetapi bila aku beribadah karena cinta semata, Maka limpahkan lah keindahan-Mu
selalu..."
Robiatul adawiyah yang
ada di patemon juga mewakilkan emansipasi wanita. Dia adalah seorang ketua PMII
(Pergerakan mahasiswa Islam Indonesia) Rayon Nusantara. Dia juga generasi jaman
now yang tabayyun. Setelah ia
mendengar sesuatu maka ia akan mengkonfirmasi kebenarannya. Wawasannya tentang
buku juga membuat gadis asal Tegal, Jawa Tengah ini terlihat sangat cerdas dan
kritik. Relasinya dengan para penggerak budaya baca membantuku mudah menemukan
buku yang mampu menjawab pertanyaanku tentang sesuatu yang belum aku pahami. Karena
kalau aku sudah paham aku tidak akan bertanya tapi aku akan berusaha
menjelaskan.
“Nyong ngelih banget ik” dialek lokal tegal terboyong ke semarang
rupanya.
“Aku punya nasi” sahut
kakak paling perhatian satu pondok ini, kami biasa memanggilnya mbak fadhil. Seorang yang pernah punya
pacar selama enam tahun lamanya kemudian putus dan entah move on itu memihak padanya ataukah tidak. Juga konon katanya
putusnya mbak Fadhil dengan
kekasihnya karena mbak Fadhil tidak
mengenalkan kekasihnya pada Ayah. “Ayah” kami bisa menggunakan sapaan itu untuk
Ayah Kyai kami. Jadi seluruh santri wati disini pabila mempunyai kekasih harus "matur" ke dhalem. Dahulu ada cerita sepasang mbak lan kang pondok yang saling jatuh cinta, dan kemudian matur teng dhalem. Namun berdasarkan perhitungan Ayah pasangan ini tidak sebaiknya untuk melanjutkan hubungan. Ayah juga menyampaikan penjelasannya. Dan mereka pun menuruti untuk mengakhiri hubungan, karena kepatuhannya pada guru. Seandainya mantan kekasih mbak Fadhil tahu bagaimana revolusi mantan kekasihnya setelah
ada dipondok maka dia akan menyesal kehilangan calon ibu yang baik untuk
anak-anaknya. Tapi anehnya malah Mbak Fadhil yang merasa kehilangan
separuh hatinya. Aku rasa biarkan mbak Husna yang ahli biologi akan mencakok
hatinya.
“Nyong pingin mangan wong mbak” berkata kembali si gadis Tegal
dengan dialek yang sama.
“Tolong selamat aku
yang gembil ini” rengek gadis paling bau kencur tapi paling gendut di ruangan
ini.
“sesuk
sido kan?” tanya mbak Fadhil
mengingatkan misi besok pagi. Si gendut ini ingin melangsingkan badan.
“Ayoh mbak . Aku digugah ya?” semangat sekali saya menjawab.
“Nek
srik rak tangik cegurke waek langsung mbak” mbak
Biya menyampaikan ide tragisnya terhadapku.
“cium wae ben tangi” sahut mbak
fadhil penuh kelembutan. Sudah kubilang kan dia baik.
“aaaaa.....
aku emoh bobok tekan isuk arep dzikiran akkakkkaakkaak....”
sahut ku yang pasti tidak dipercaya oleh mereka. Dzikiranku kan “QWERTY....” hahahaha. Tenanglah kakak setiap satu huruf
saya tekan maka satu “Bismillaahi” saya lantunkan, setiap satu spasi satu “Laa haula
wa laa quwwata illaa billaahi” menyertainya dan setiap satu delete maka satu “Astagfirullaahal-‘azhiim”
pun ada adalam ketikan saya. Semua agar Allah selalu meridhoi kebermanfaatan atas
apapun yang saya kerjakan. Dan sungguh Rabi’ah Adawiyah adalah ispirasi saya
dalam senantiasa berdzikir kepada Allah.
Semua tawa malam ini
dengan sahabat sepenanggungan membuatku lupa pada sesuatu yang mengejutkanku.
Seharusnya aku sudah tau cerita itu dari 2 minggu yang lalu. Tapi masih baiklah
Allah karena sudah mengetahuinya meski lima belas hari telah terlewat sejak
tulisan itu terbit. Namun setidaknya ketidaktahuan saya tidak sampailah pada
saat saya tanpa sengaja bertemu dengannya. Melalui tulisannya aku berprasangka
bahwa ia pun khawatir barangkali akan ada berita siur yang tak enak dicandakan.
Semoga
kerendahan hati mampu menyelesaikan banyak hal dengan damai. Karena sesungguhnya
yang lebih berbahaya adalah kesalahpahaman antara aku dan penulis terbitan itu.
Bukan pada prasangka yang barang kali akan muncul. Tersurat maaf dari kesalahanku
yang mengarang terlalu bebas dan mencoba mencari jiwa sang pemeran. Kembalikanlah
tulisan ini pada hakikatnya sebagai cerita bersambung.
Bersambung....